Wawancara Khusus

Prof. AM Hendropriyono bersama Prof. Ali Jum'ah Prof. AM Hendropriyono bersama Prof. Ali Jum'ah

Tidak Ada Taliban di Indonesia karena Taliban Anti Salafi

Tidak Ada Taliban di Indonesia karena Taliban Anti Salafi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Penguasaan kembali Taliban atas Afghanistan terus menjadi sorotan dunia internasional. Kekhawatiran akan kebijakan-kebijakan politik Taliban seperti yang mereka lakukan saat berkuasa pada tahun 1996-2001 dikhawatirkan oleh banyak pihak, terutamanya rakyat Afghanistan. Jurnalis Kilat.com, Mush'ab Muqoddas, mewawancarai secara khusus Prof Dr AM Hendropriyono, Guru Besar Intelijen di Sekolah Tinggi Hukum Militer. Berikut wawancara lengkapnya.

Apakah sebenarnya Taliban dan bahayanya bagi Indonesia ?

Tidak ada bahayanya jika kita paham asal usul dan perkembangan keadaan mereka. Baca artikel Hamid Awaludin di Kompas tanggal 13 Agustus tentang Taliban. Saya tekankan di sini bagaimana pada tahun 1989 Uni Soviet yang sedang goyah, terusir dari Afghanistan oleh kaum Mujahidin dukungan Amerika Serikat. Namun Taliban yang didukung Rusia pada 1996 berhasil menggulingkan lagi pemerintahan yang didukung Amerika Serikat tersebut. Taliban berkuasa selama 5 tahun kemudian digulingkan lagi oleh pemerintahan Hamid Karzai dukungan Amerika Serikat. Pada bulan Desember 2001 Amerika Serikat menyerbu Afghanistan karena melindungi Osama bin Laden, yang dituduh sebagai dalang peristiwa 11 September 2001 supaya Pemerintahan Taliban jatuh. Taliban terpecah menjadi 3 (tiga) faksi besar yaitu Faksi Mawlawi Haibatullah Akhundzada, Faksi Haqqani, dan Faksi Mullah Rosul. Selain itu, terdapat beberapa faksi-faksi kecil lainnya.

Kini pada tahun 2021 Taliban kembali berkuasa di Afghanistan dengan persetujuan Amerika Serikat, karena faksi terbesar Taliban tersebut tidak lagi mengakomodasi Al Qaeda. Logika yang berlaku bagi Taliban saat ini adalah hukum tiada jalan tengah, sehingga mereka berpaling ke Iran yang memerlukan pasokan air lebih banyak dari Sungai Helmand, Rusia yang membalas kekalahan 1989 dari Amerika Serikat, China yang memerlukan implementasi proyek OBOR di Asia Tengah-Afrika, dan Pakistan yang juga terdapat suku Pusthun berada dan merupakan faksi terbesar di dalam Taliban. Inter-Services Intelligence (ISI) Pakistan selalu memberikan dukungan kepada Taliban dan hanya pernah terhenti sebentar ketika mereka pada tahun 2001 mendukung Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Hari ini Pakistan kembali merupakan pendukung terdepan Taliban.

Bukankah kaum radikal intoleran di Indonesia bisa merasa mendapat angin dengan kemenangan Taliban di Afghanistan ?

Angin apa ? Kaum intoleran domestik kita di sini kan pengikut Salafi Haroki dan Irhabi. Akidah mereka berbeda dengan akidah Taliban. Taliban merupakan pengikut Sunni Deobandi yang berpusat di India dengan tokohnya Shah Waliullah yang hidup pada abad kedelapan-belas. Taliban, begitu juga rakyat Afghanistan serta Negara Asia Tengah dan Asia Selatan termasuk juga Umat Islam di China, secara akidah beraliran Maturidiyah, fikihnya Hanafi, dan tarekat sufinya Naqsyabandiyah. Sedangkan Salafi Haroki dan Irhabi mengkafirkan semua itu. Salafi Haroki dan Irhabi mengafirkan semua madzhab fikih dan tarekat sufi terta yang aliran akidahnya berbeda dengan mereka, termasuk Taliban. Dengan demikian secara akidah dan ideologis Taliban justru bertentangan dengan pemikiran wahabi takfiri kaum intoleran di Indonesia.

Berarti, Taliban berbeda dengan Salafi ?

Jelas berbeda. Salafi mengkafirkan Taliban. Perlu kita ketahui, Taliban menolak Arab Saudi sebagai moderator perdamaian dan lebih suka dengan Indonesia karena sesama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Selain itu, Indonesia tidak memiliki kepentingan. Berbeda dengan Arab Saudi. Taliban khawatir dengan keterlibatan Arab Saudi akan merubah akidah rakyat Afghanistan. Pastinya Arab Saudi nantinya akan menyebarkan salafisme-wahabisme di Afghanistan. Narasi-narasi kaum intoleran radikal di Indonesia yang berideologi Salafi Haroki dan Irhabi membangga-banggakan Taliban perlu untuk dicermati lebih dalam. Gaya permainan bahasa perlokusi dengan narasi Perang Akhir Zaman untuk merekrut milisi-milisi baru dengan tujuan bergabung dengan Islamic State of Khurasan (IS-K) yang berada di bagian timur laut Afghanistan. IS-K ini merupakan organisasi sayap bentukan ISIS yang kalah di Suriah dan Irak untuk melancarkan dan mengkontrol aksi-aksi teror di luar Irak dan Suriah khususnya kawasan Asia. Ini perlu dicermati oleh aparat keamanan kita. Taliban sampai saat ini tidak mencari dukungan atau mengundang milisi dari luar Afghanistan untuk membantu Taliban berkuasa di Afghanistan.

Apakah Taliban memiliki hubungan dan melindungi IS-K ?

Taliban tidak pernah menyatakan memiliki hubungan dengan IS-K atau melindunginya. Justru yang terjadi adalah Taliban dimusuhi oleh IS-K. Tapi IS-K ingin rekrut anggota-anggota Taliban dengan berbagai cara termasuk iming-iming uang. Taliban sering kontak senjata dengan IS-K. Paling parah pada Juli 2018 kedua pihak saling tembak menembak di provinsi Jawizjan bagian utara Afghanistan. Bentrok ini mengakibatkan ratusan orang luka-luka dan korban jiwa 124 orang dari 2 (dua) belah pihak. 72 orang dari Taliban dan 52 dari IS-K.

Taliban telah menyatakan berdirinya Emirat Islam Afghanistan. Apakah berbeda dengan konsep Khilafah Hizbut Tahrir dan ISIS ?

Jelas Berbeda. Konsep pemerintahan ISIS dan Hizbut Tahrir (HT) adalah konsep pemerintahan transnasional yang berakidah dan berideologi pergerakan Salafi Haroki dan Irhabi, serta tidak bermadzhab fikih. Bahkan, HT dan ISIS mengkafirkan semua madzhab fikih yang 4 (empat) yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sedangkan konsep pemerintahan Taliban yang disebut dengan Emirat Islam adalah konsep lokal yang diwarnai madzhab fikih Hanafi. Hanya saja, Taliban sangat keras dalam menerapkan hudud (hukuman) tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat. Hal ini yang harus Taliban pelajari. Ketika saya bertemu mantan Grand Mufti Mesir Prof. Ali Jum’ah, beliau mengatakan bahwa semua negara Islam termasuk Indonesia masih menerapkan Syariat Islam. Hanya saja membekukan hudud (hukuman) karena tidak adanya Qadli Mujtahid (hakim yang berijtihad) dan saksi yang adil. Taliban dulu menerapkan hudud tanpa Qadli Mujtahid dan saksi yang adil, sehingga terjadi kekerasan atas nama agama. Korbannya paling banyak dari kalangan perempuan.

Apakah pesan Prof kepada Taliban ?

Taliban harus belajar dari sejarahnya sendiri. Jangan sampai Taliban mengulangi kesalahan melindungi Al Qaeda. Taliban harus belajar kembali bagaimana mengimplementasikan Syariat Islam dari Al Azhar. Tidak asal-asalan seperti dulu. Banyak ulama-ulama Al Azhar yang bermadzhab fikih Hanafi di antaranya guru besar ilmu tafsir Prof. Muhammad Salim Abu Ashi yang mengisi materi Ushul Fikih sebagai Filsafat Islam saat saya mengikuti Pendidikan Filsafat Islam di Al Azhar. Para ulama tersebut dapat menjadi rujukan bagi Taliban dalam penerapan Syariat Islam dan membentengi akidah rakyat Afghanistan dari paham Salafi Haroki dan Irhabi. Ketika Taliban berkuasa pada tahun 1996 sampai 2001 Presiden Pakistan Pervez Musharaf pernah mengingatkan Taliban, untuk segera enlightening moderation kepada seluruh unsur Taliban, supaya tercipta negara Afghanistan modern yang rahmatan lil ‘alamin.

Permintaan Taliban agar Indonesia menjadi mediator perdamaian merupakan peluang emas bagi Pemerintah Indonesia untuk membawa Pancasila sebagai filsafat utama dalam menyelesaikan konflik di tingkat global. Taliban sangat perlu mempelajari Pancasila karena merupakan filsafat berbangsa dan bernegara Bangsa Indonesia. Mengelola negara sangat berbeda dengan mengatur kelompok. Taliban harus merangkul aspirasi semua elemen Afghanistan yang majemuk.

Sebenarnya, semua elemen di Afghanistan memiliki modal sosial untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional. Presiden Asyraf Ghani merupakan teman sejawat Pemimpin Taliban Syir Muhammad Abbas dan Dubes Afghanistan untuk Amerika Serikat Zalmay Khalil Zadah. Ketiganya pada tahun 1957 merupakan penerima beasiswa pendidikan Amerika Serikat. Kedekatan ketiganya merupakan modal penting dalam mewujudkan perdamaian dan rekonsiliasi nasional di Afghanistan.

Hambatan pada Taliban sendiri adalah terlalu banyak faksi. Ada 3 (tiga) faksi besar yaitu Akhunzada, Haqqani dan Mullah Rosul. Di samping itu masih banyak faksi-faksi kecil lainnya. Ada yang pro Iran, Rusia, China dan ada yang pro Pakistan. Ada yang berhasil direkrut oleh Islamic State of Khurasan. Taliban harus mempersatukan semua faksi ini, kalau tidak maka mereka akan mengalami disintegrasi di kekuatan sentralnya. Mereka bisa layu sebelum berkembang di arena Kurusetra itu.

Apa pesan Prof untuk aparat keamanan di Indonesia ?

Aparat keamanan kita harus tetap waspada. Terutamanya dengan narasi-narasi yang membangga-banggakan Taliban karena dijadikan sebagai motivasi menambah semangat kaum intoleran radikal di Indonesia. Mereka jelas berakidah dan berideologi Salafi Haroki dan Irhabi yang berlawanan dengan Taliban. Akan tetapi mereka memanfaatkan kemenangan Taliban untuk menciptakan narasi menggunakan bahasa perlokusi untuk membakar semangat kelompoknya agar melawan pemerintah. Aparat kita jangan kecolongan karena pastinya ISIS di Indonesia akan berusaha berangkat ke Afghanistan bergabung dengan Islamic State of Khurasan.


sumber : senayanpost.com
0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top