Opini

Edward W Lane

"Petualangan" Edward W. Lane: Penyusun Kamus Besar Arab-Inggris

"Petualangan" Edward W. Lane: Penyusun Kamus Besar Arab-Inggris

Oleh: Ahmad Rofi" Usmani

"OH. Pada abad ke-16 Inggris telah menaruh perhatian besar terhadap bahasa Arab!"

Demikian gumam bibir saya, ketika saya sedang menyimak sebuah karya Gerald J. Toomer. Judul karya Toomer tersebut adalah Eastern Wisedome and Learning: The Study of Arabic in Seventeenth-Century England. Dalam karya yang diterbitkan Oxford University Press tersebut, profesor emeritus Universitas Brown, Inggris tersebut menuturkan, pada awal tahun-tahun 1600-an, bahasa Arab di Inggris merupakan bahasa yang eksotik. Kala itu, hanya satu orang Inggris yang menguasai bahasa Arab. Ya, hanya satu orang saja. Yang lebih menyedihkan, kala itu bahan bacaan seputar bahasa asal Timur Tengah tersebut nihil. Duh!

Namun, beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya pada 1630, perhatian Inggris terhadap bahasa Arab mulai mencuat dan menggeliat cepat. Situasi yang demikian, antara lain, karena dibukanya kursi studi bahasa Arab di Universitas Oxford. Pembukaan kursi tersebut tidak lepas dari jasa William Laud dan beberapa staf pengajar universitas kondang di Inggris tersebut. Antara lain John Griffier, Edward Pococke, dan John Selden.

Pada 1630, William Laud, selaku rektor Universitas Oxford kala itu, mulai menghimpun sejumlah manuskrip ilmiah dalam bahasa Arab. Selain itu, Laud juga membuka Departemen Bahasa Arab di universitas yang ia pimpin dan kemudian membuka kursi profesor bahasa Arab pada Agustus 1636, sekembalinya Pococke dari Aleppo, Suriah. Dengan membawa setumpuk manuskrip berbahasa Arab. Ya, dengan membawa setumpuk manuskrip berbahasa Arab!

Ketika saya sedang asyik menyimak karya menarik tersebut, tiba-tiba benak saya "melayang-layang". Jauh. Kali ini, benak saya "melayang-layang" jauh, ke Inggris dan kemudian ke Timur Tengah. Teringat kisah seorang bule Inggris yang penyusun sebuah kamus Arab-Inggris. Karena semangatnya yang menggebu, bule jebolan Universitas Cambridge, Inggris itu kemjudian tidak hanya membeli dan memiliki kamus Arab, seperti saya ini. Namun, malah, ia kemudian menyusun sebuah kamus besar Arab berjudul Arabic-English Lexicon. Malah, kemudian juga menerjemahkan sejumlah karya dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris. Termasuk sebuah karya kondang Alf Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam). Hebat, kan!

Siapakah bule yang kemudian memeluk Islam itu? Edward W. Lane. Nah, bagaimana kisahnya hingga ia mampu menyusun kamus Arab-Inggris dan menerjemahkan sejumlah karya Arab ke dalam bahasa Inggris.

Putra Seorang Pendeta

Hereford, Inggris. Di desa itulah Edward W. Lane lahir pada 17 September 1801. Hanya sekitar empat belas tahun ia menerima belaian kasih sayang ayahnya, seorang pendeta di desanya, Theopillus Lane. Pada tahun-tahun selanjutnya, ia lebih banyak mendapat pengarahan dari ibunya, kemenakan seorang pelukis kondang Inggris ketika itu, Thomas Gainsborough.

Selepas merampungkan pendidikam dasar dan menengahnyaa, di Bath dan Hereford, Edward W. Lane kemudian memasuki Universitas Cambridge. Di universitas tersebut, ia mengambil bidang teologi. Semula, sejatinya ia ingin mengikuti jejak langkah ayahnya: menjadi pendeta. Namun, entah mengapa, ia kemudian menanggalkan cita-citanya tersebut dan malah kemudian keluar dari universitas kondang tersebut.

Keluar dari Universitas Cambridge, Edward W. Lane kemudian menekuni dunia seni pahat. Dunia itulah yang pertama kali mengantarkan ia berkenalan dengan berbagai hasil karya seni Timur. Utamanya karya-karya seni dari Mesir yang waktu itu belum dikenalkan Jean-François Champollion, seorang ilmuwan Perancis yang menemukan Batu Rosetta. Karena itu, sejak 1822, ia pun mengarahkan perhatiannya pada bahasa Arab. Selepas menguasai bahasa tersebut, ia segera ditarik dalam lingkungan korps diplomatik.

Pada 1825, kesempatan mengunjungi Dunia Timur terbuka bagi Edward W. Lane. Pada tahun itu, ia mendapat kesempatan untuk mengunjungi Mesir. Kenangnya ketika kapal yang ia tumpangi hendak merapat di Alexandria, Mesir, "Ketika kapal yang aku tumpangi mendekati pantai, aku merasa bak seorang pengantin pria dari Dunia Timur yang hendak bertemu dengan pengantin perempuan, untuk menyingkap wajahnya yang tersembunyi di balik cadar yang benar-benar membangkitkan perasaan ingin tahu, putus asa, dan gemas."

Dalam kunjungan pertamanya ke Mesir tersebut, yang berlangsung selama tiga tahun, Edward W. Lane membawa serta sebuah kamera cahaya. Karena tersebut, kala itu, disebut "camera lucida". Dengan kamera itulah, ia mengabadikan berbagai khazanah peradaban Islam. Utamanya karya-karya arsitektur Islam yang banyak menghiasi ibukota Mesir: Kairo. Hasil bidikan kameranya tersebut ia himpun dalam sebuah karya yang dilengkapi dengan memoar, dengan judul Description of Egypt. Karya tersebut, hingga kini, masih tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Oxford.

Dalam menyusun karya tersebut, Erward W. Lane meminta bantun Syeikh "Abdurrahman Al-Jabarti, seorang sejarawan Muslim kondang kala itu. Ia memang berusaha menyusun karyanya tersebut seobyektif mungkin. Berbeda dengan sebagian besar orientalis waktu itu. Selain itu, ia juga banyak menimba pengetahuan dari karya-karya seorang ahli geografi dan petualang Muslim kondang dari Masa Pertengahan: Al-Maqrizi.

Memeluk Islam

Selama berada di Kota Seribu Menara itu, Edward W. Lane tinggal di Bab el-Hadid (kini sekitar Ramses St.). Segera, ia pun bergaul akrab dengan berbagai lapisan warga ibukota Mesir itu. Malah, selepas agak lama tinggall di kota itu, ia mulai tertarik ikut melakukan berbagai ibadah yang dilakukan kaum Muslim. Mengenai tindakannya yang demikian, ia mengemukakan, "Saya kerap datang ke masjid untuk melaksanakan shalat. Baik sendiri maupun berjamaah pada hari Jumat."

Itulah tahap pertama peralihan Edward W. Lane menjadi Muslim.

Peralihan Edward W. Lane menjadi seorang Muslim tersebut, sejatinya, telah mulai tampak pada saat ia pertama kali menjejakkan kedua kakinya di Bumi Mesir. Sejak itu, ia tidak pernah lupa mengucapkan basmalah setiap kali memulai suatu tindakan yang ia lakukan. Berkaitan dengan peralihannya menjadi seorang Muslim tersebut, Edward Stanley Poole, kemenakan Lane yang seorang orientalis kondang, menuturkan, "Memang, Lane telah menjadi pemeluk Islam dan meyakini seluruh ajaran dan formalitas Islam." Peralihan Lane menjadi seorang Muslim tersebut juga diakui Montgomerry Watt, seorang orientalis kondang Inggris pada masa modern ini.

Selain mengunjungi dan tinggal di Kairo, Edward W. Lane juga menelusuri Sungai Nil. Hingga ke Mesir Selatan. Di kawasan terakhir Sungai Nil itu, pada 1828, ia meneliti dan mengabadikan berbagai peninggalan purba yang bertebaran di sana.

Selepas mengunjungi kawasan Mesir Selatan, Erward W. Lane lantas kembali ke negerinya, Inggris. Ya, pulang ke negerinya dengan memboyong seorang budak perempuan asal Yunani, Nafise, yang ia merdekakan dan kemudian ia peristri. Di negerinya, kini ia mengenalkan dirinya dengan nama baru: Mansoor Lane Al-Faqir Billah. Tampaknya, nama terakhir tersebut meniru "gelar" yang biasa dipakai Syeikh "Abdurrahman Al-Jabarti dalam sebuah karyanya yang terkenal "Ajâ"ib Al-Âtsâr.

Di sisi lain, ketika Edward W. Lane tiba di negerinya, ia menawarkan sebuah karyanya tentang perilaku dan adat kebiasaan orang-orang Mesir kepada Lord Brougham. Tertarik dengan karya tersebut, Lord Brougham meminta Lane untuk menuntaskan karyanya itu. Untuk itu, Lord Brougham menyiapkan dana bagi Lane untuk pergi lagi ke Mesir.

Menyusun Kamus Arab-Inggris

Maka, pada Desember 1833, Edward W. Lane tiba kembali di Negeri Piramid. Kunjungan keduanya ini berlangsung hingga Okttober 1835. Selama di sana, ia menghimpun banyak data dan dokumen tentang sejarah Islam. Selain itu, dalam kunjungan keduanya tersebut, ia kian kerap bergaul dengan warga Mesir. Utamanya dengan para ulama dan sastrawan. Hal itu, tak lain karena ia sangar fasih berbahasa Arab.

Selama kunjungan tersebut, Edward W. Lane lebih banyak tinggal di Kairo. Kecuali beberapa bula ia mengunjungi Thebes. Kepergiannya ke Mesir selatan tersebut, pada 1835, karena kala itu wabah kolera sedang menghajar ibukota Mesir: Kairo.

Satu tahun selepas balik ke Inggris, ia memublikasikan sebuah karyanya berjudul Manners and Customs of the Modern Egyptians. Ternyata, karyanya tersebut laku keras: dalam waktu dua minggu sudah terjual semua. Ya, ludes. Kemudian, selama hidupnya, karya tersebut dicetak lima kali. Di sisi lain, kelak, karya tersebut mendapat kritik keras dan pedas dari seorang pemikir dan guru besar di Universitas Princeton, Amerika Serikat, Edward W. Said.

Menurut Edward W. Said, dalam sebuah karyanya berjudul Orientalism, karya Lane tersebut lebih banyak menonjolkan eksotisme Dunia Timur dan tidak bermaksud menampilkan tradisi dan adat kebiasaan masyarakat Mesir secara obyektif. Selain karya tersebut, Edward W. Lane juga menerjemahkan bagian-bagian tertentu dari Alquran. Terjemahan tersebut ia maksudkan sebagai jawaban atas ceramah Thomas Carlyle (1795-1881), antara lain, tentang Islam. Ceramah tersebut kemudian diterbitkan dengan judul On Heroes, Hero-Worship and the Heroic in History.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, antara 1838-1840, Edward W. Lane, antara lain, lintasi utuk menerjemahkan sebuah karya sastra kondang Alf Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam) ke dalam bahasa Inggris. Terjemahan karya klasik yang dibaca banyak oraang di berbagai belahan dunia itu lebih bagus ketimbang terjemahan karya yang sama dalam bahasa Perancis yang dilakukan Antoine Galland, Les Mille et Une Nuits.

Tiga tahun kemudian, pada 1843, Edward W. Lane bertolak kembali ke Mesir. Keberangkatannya ke Mesir kali ini atas dukungan Lord Prudhoe, yang menyarankan kepada Lane untuk menyusun sebuah kamus Arab-Inggris. Kepergiannya ke Negeri Piramid kali ini disertai seluruh keluarganya. Termasuk dua kemenakannya: Edward Stanley Poole (yang kemudian menjadi seorang orientalis kondang) dan Reginald Stuart Poole.

Jika pada kunjungan pertama dan kedua ke Mesir Edward W. Lane tinggal di Bab el-Hadid, maka pada kunjungan ketiganya ia tinggal di Distrik Sayyidah Zainab. Tidak jauh dari makam cucu Rasulullah Saw.: Sayyidah Zainab binti "Ali bin Abu Thalib.

Begitu tiba di Kairo, Edward W. Lane segera mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mencari bahan penyusunan kamus Arab-Inggris tersebut. Ternyata, menyusun kamus memerlukan ketekunan dan ketelitian yang luar biasa. Tidak kalah berat dengan penyusunan karya ilmiah lainnya. Apalagi, kamus yang ingin ia persembahkan tidak hanya merupakan sebuah kamus ringkas. Namun, sebuah kamus lengkap beberapa volume. Padahal, kesehatannya kala itu mulai menurun. Tubuhnya mulai digerogoti penyakit radang paru-paru: penyakit sama yang menimpa ibunya yang berpulang pada 1841.

Bukan luar biasa bila untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Edward W. Lane kemudian meminta bantuan kepada Syeikh Al-Dasuqi, seorang Syaikh Al-Azhar Al-Syarif yang kala itu masih sebagai jurnalis surat kabar Al-Waqa"i". Setiap sore, kecuali pada hari Jumat, mereka bertemu untuk membahas kemajuan penyusunan kamus tersebut. Hal itu mereka lakukan di rumah yang ditempati Lane yang kala itu mulai dikenal dengan sebutan Syeikh Mansoor Al-Lini.

Tidak Lagi Tahan dengan Cuaca London

Untuk menyusun kamus yang diidamkan tersebut, Edward W. Lane merujuk pada sederet kamus Arab yang dikenal kala itu. Antara lain Al-Qâmûs Al-Muhîth, karya Majduddin Al-Fairuzzabadi, Tâj Al-"Arûs, karya Al-Murtadha Al-Zubaidi, Al-Sihâh, karya Isma"il bin Hamad Al-Jauhari, dan Lisân Al-"Arab, karya Ibn Manzhur. Di antara karya-karya tersebut, yang paling kerap ia jadikan sebagai rujukan adalah Tâj Al-"Arûs. Ia mempunyai alasan tersendiri, mengapa ia memilih kamus Tâj Al-"Arûs sebagai rujukan utama. Menurut ia, di samping Al-Qâmûs Al-Muhîth, kamus tersebut merupakan kamus yang sangat lemgkap.

Selepas sekitar enam tahun bermukim di Mesir, pada 1849 Edward W. Lane balik ke Inggris. Kala itu, kamus yang sedang ia susun belum rampung. Lama tinggal di Mesir, ternyata, membuat ia tidak lagi tahan dengan cuaca London. Karena itu, ia kemudian pindah ke Hastings. Dari kota itu, pada 1851, ia pindah lagi ke Worthing. Di kota terakhir itulah ia melanjutkan penyusunan kamus yang ia susun dan beri judul An Arabic-English Lexicon. Pada 1863, terbit volume pertama kamus tersebut. Sayang, ia hanya berhasil merampungkannya hingga volume kelima saja, karena kematian merenggutnya pada Kamis, 10 Agustus 1876. Tiga volume berikutnya dirampungkan kemenakannya, Stanley Lane Poole, pada 1893.

Perjalanan panjang yang ditempuh Syeikh Mansoor Al-Lini untuk menyusun kamus besarnya tersebut, antara 1843-1876, tampaknya kian mengukuhkan "aliran" Edison: "karya besar merupakan hasil satu persen ide dan 99 persen merupakan hasil kerja keras". Kenyataan ini dikukuhkan oleh sederet pengalaman banyak ulama dan tokoh Muslim lain yang melahirkan karya-karya besar. Antara lain Imam Al-Bukhari, Abu Hamid Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Hazm dan lain-lainnya.

Bagaimana dengan kita?@ru


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top