Opini

FAIZAL RACHMAN, Bhinneka Tunggal Ika, Fiberglass, 2021

Representasi#4: Patung Pahlawan Nasional

Representasi#4: Patung Pahlawan Nasional

Oleh: Raihul Fadjri

KARYA tiga dimensi berupa patung kerap dijadikan media untuk mengenang sejumlah pahlawan nasional, baik berupa patung torso maupun patung dalam bentuk figur secara utuh. Pada pameran bertajuk Representasi#4 Pahlawan Nasional di Pendhapa Art Space, Yogyakarta, 4 November - 4 Desember 2021, sebanyak enam karya patung dipajang di antara karya dua dimensi.

Pada pameran ini pematung berupaya mengeksplorasi teknik dan media untuk menampilkan sesuatu yang punya nilai lebih. Pematung Dunadi, misalnya mengeksplorasi sosok pejuang Maluku, Sam Ratulangi, lewat patung torso dan sosok figur lengkap yang bertengger di pundaknya dalam ukuran lebih kecil (Sam Ratulangi, 2021).

DEDY MARYADI, Sang Gerilyawan, Mixed media, 2021

Faizal Rachman terasa lebih ekspresif lewat karya patung torso berupa potret Soekarno dengan gestur yang bersemangat mengacungkan jari telunjuknya menyatu dengan bentuk burung garuda yang mengepakkan sayapnya (Bhinneka Tunggal Ika, 2021). Gelora perjuangan sang orator muncul secara kuat pada karya ini.

Dengan pendekatan berbeda Deddy PAW (Rawe Rawe Rantas, Malang Malang Putung, 2021) mengambarkan ekspresi yang tampak tenang sosok bersurban mengenakan jas panjang dengan keris dan tasbih di tangan di depan bentuk buah apel yang terbelah. Karya yang merujuk pada sosok Pangeran Diponegoro ini seolah mengusung kekuatan senjata dan religiusitas untuk mencapai tujuan perjuangan.

DUNADI, Sam Ratulangi, marble polyester, 2021

Pada karya patung Dedy Maradi tampak simbol-simbol militer pada jejeran figur yang berbaris menghunus senjata laras panjang (Sang Gerilyawan, 2021). Salah-satunya sosok yang mengenakan blangkon dengan tangkai keris menyembul dari balik jas pajang, tangan kanan pada posisi memberi hormat, sedang tangan kiri memegang tongkat. Sosok ini mengingatkan orang pada Jendral Soedirman.


DEDDY PAW, Rawe-Rawe Rantas Malang-Malang Putung, fiberglass metal, 2021

Karya—pseudo—patung Ambar Pranasmara (Mirror, 2021) mengeksplorasi elemen dua dimensi pada media tiga dimensi. Pada satu sisi karya ini berupa figur mengenakan pakaian formal dengan bentuk kopiah di kepalanya seperti sedang suntuk membaca buku yang ada di tangannya. Ketika orang melihat patung ini dari sisi sebaliknya, tampak lukisan pada permukaan bidang datar patung ini berupa citraan potret Bung Tomo sedang mengacungkan telunjuk tangan kanannya. Di bagian kaki patung ini muncul lukisan yang menggambarkan momen para pejuang di Surabaya mengibarkan bendera merah-putih di atas puncak gedung. Karya ini bak mengusung narasi intelektualitas di balik gelora perjuangan bersenjata.

Sebaliknya karya Win Dwi Laksono (Semangat Bangsa, 2021) menerobos batas media dua dimensi dan tiga dimensi, berupa citraan potret dua dimensi Bung Karno saat momen berpidato di hadapan massa dengan mengacungkan tangan kanannya dalam bentuk tiga dimensi yang menjulur ke luar kanvas berselimut warna merah-putih.


AMBAR PRANASMARA, Mirror, Mixed Media, 2021

Aldi Yupri juga mengeksplorasi pseudo karya tiga dimensi dengan mengeksplorasi bentuk buku dengan menampilkan dimensi ketebalan fisiknya. Pada halaman buku yang terbuka itu ada lukisan bentuk tandu yang mengusung Jenderal Soedirman dalam perjalan gerilyanya (The Wagon of General, 2021), juga tiruan lukisan momen penangkapan Pangeran Diponegoro yang dikenal karya lukis Raden Saleh (Pangeran Diponegoro-Raden Saleh-Bung Karno, 2021). Karya ini semacam praktek juxtaposition dalam seni rupa.

Keragaman teknik pada karya tiga dimensi itu menyelamatkan pameran ini dari jebakan bayang-bayang sekelumit figur legendaris dalam pentas Pahlawan Nasional.#

*Raihul Fajri, pemerhati senirupa, wartawan senior.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top