Opini

Ilustrasi

Film Yuni di Publik Norwegia

Film Yuni di Publik Norwegia

Oleh: Todung Mulya Lubis

MALAM itu saya hadir dalam pemutaran film "Yuni" karya Kamila Andini di Cinemateket. Cukup banyak yang hadir baik warga Indonesia maupun Norway.

Filmnya menarik karena menggambarkan pergumulan batin seorang perempuan, Yuni, yang dihadapkan kepada "social ill" yaitu adat istiadat yang memaksanya untuk dikawinkan pada usia muda oleh orang tuanya. Beberapa kali lamaran ditolak walau akhirnya dia menerima lamaran dari guru sekolahnya yang hendak menyelamatkannya dari serbuan lamaran berikutnya.

Tetapi mimpinya ada pada sekolah di kota besar, sekolah yang dia tak mampu gapai karena tak punya uang. Yuni tak punya kekasih walau dia melarikan diri pada seseorang yang lebih sebagai "escapism". Itu adalah menifestasi perlawanannya terhadap social ill yang ada dalam masyarakatnya.

Dia tak menyalahkan orangtuanya karena orangtuanya adalah bagian dari adat turun temurun, prevailing cultural notion. Dia menyesali ketakberdayaannya. Menariknya dia tak menyerah pada praktek kawin muda yang dipaksakan, tetapi dia juga tak mampu meneruskan sekolahnya.

Dia memilih jalan yang tragis: menolak menyerah pada paksaan kawin dari orangtua dengan melarikan diri dari kehidupan, tenggelam bersama mimpi (dan cintanya, kalau itu ada).

*Dr. Todung Mulya Lubis, budayawan dan akademisi. Kini Duta Besar RI untuk Norwegia.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top