Opini

Ilustrasi

"Menikmati" Istanbul dari Selat Bosphorus

"Menikmati" Istanbul dari Selat Bosphorus

Oleh: Ahmad Rofi" Usmani

"SAYANG, lo. Kluyuran ke Istanbul tanpa "menikmati" Selat Bosphorus!"

Demikian gumam pelan bibir saya, awal minggu ini, ketika seorang saudara sepupu bercerita bahwa ia dan keluarganya mau kluyuran ke Istanbul, Turki. Tak lama selepas mendengar cerita tersebut, tiba-tiba benak saya "melayang-layang". Sangat jauh: sekitar 14 jam jika naik pesawat terbang antara Jakarta-Istanbul. Tanpa berhenti. Tentu saja capek untuk orang seumur saya. Kali ini, benak saya "melayang-layang" ke Selat Bosphorus, Turki. Ya, ke Selat Bosphorus: sebuah selat strategis yang kini menjadi salah satu andalan wisata Turki.

Tidak aneh, karena itu, jika setiap kali saya ditanya tentang sejarah kota yang indah tersebut, saya selalu menjawab, "Ayo kita berkunjung ke Istanbul saja. Ketika berada di kota yang indah itu, jangan lupa menikmati kota tua yang memiliki sejarah panjang itu. Dari Selat Bosphorus. Indah sekali, lo. Selain itu, dari Selat Bosphorus itulah kita akan dapat menyimak sejarah Istanbul!"

Ya, bila kita pergi ke kota yang terbelah di antara Benua Eropa dan Asia itu, sayang sekali bila kita tidak menikmati indahnya Istanbul dari Selat Bosphorus, di samping menyimak sejarah panjangnya. Mengapa demikian? Untuk menjawab pertanyaan demikian, kini mari sejenak ikuti kluyuran yang saya lakukan, bersama sebuah rombongan, di seputar Selat Bosphorus.

Serambi Eropa

Siang itu, selepas saya dan rombongan mengunjungi Istana Topkapi, di lingkungan Sultan Ahmet Square, kami pun segera menuju Eminönü. Program kami siang itu adalah menikmati acara Bosphorus Cruise.

Perlu dikemukakan, selain sebagai pangkalan kapal dan ferry, Eminönü merupakan pusat kegiatan harian penduduk setempat pada masa keemasan Constantinople ketika di bawah pemerintahan Kekaisaran Byzantium. Dewasa ini, Eminönü masih tetap melakukan peran yang sama: menjadi salah satu pangkalan ferry antara Eropa dan Asia. Perjalanan dari Istana Topkapi, menuju Eminönü, dengan naik bus, tidak lebih dari sepuluh menit. Sedangkan jika naik tramvay, dari halte tramvay Sultan Ahmet Square, kita hanya melewati dua halte: Sultan Ahmet-Gulhane-Sirkeci-Eminonu. Dekat, kan!

Selepas turun dari bus, rombongan pun segera menuju sebuah kapal. Ya, sebuah kapal yang telah menanti kedatangan mereka di tepi pantai tidak jauh dari Jembatan Galata. Untuk menikmati Istanbul dari Selat Bosphorus. Nah, selat yang satu itu memiliki kedalaman rata-rata sekitar 70 meter. Selat ini (Bosphorus secara harfiah berarti "iring-iringan sapi") merupakan muara Laut Hitam yang arusnya bergerak menuju Laut Marmara dan memiliki panjang sekitar 32 kilometer. Lebarnya beragam. Di Büyükdere, lebarnya sekitar 3.4 kilometer. Sedangkan di sekitar Rumeli Hisari, lebarnya hanya sekitar 660 meter. Di bagian tertentu dari selat itu, lebarnya ada yang mencapai 4.7 kilometer. Kedalaman selat itu juga beragam. Rata-rata dalamnya 70 meter. Namun, ada bagian tertentu dari selat itu yang memiliki kedalaman 100 meter.

Dengan karakteristik Selat Bosphorus yang demikian, tidak aneh bila Selat Bosphorus amat kondang. Ya, amat kondang sebagai kawasan turis dan kawasan pelayaran internasional yang menghubungkan Eropa dengan Timur Tengah. Dengan melintasi selat itu pula, truk-truk mengangkut berbagai barang menuju Timur Tengah. Demikian halnya kapal tanker-kapal tanker raksasa yang mengangkut minyak dari Irak dan Iran menuju Eropa juga harus melintasi selat itu. Karena itu kerap dikatakan, Istanbul merupakan "Pintu Gerbang Eropa" dari Timur Tengah.

Tidak pelak lagi, Selat Bosphorus tidak hanya menyajikan keindahan semata. Namun, juga merupakan sumber pendapatan bagi Turki. Bila musim panas tiba, turis-turis mancanegara-terutama dari Eropa-ramai berdatangan untuk menyaksikan keelokan Istanbul dan kawasan sekitarnya. Bagi orang-orang Eropa, pusaka historis Istanbul sejatinya tidak terlalu asing. Pusaka historis itu memang merupakan cikal bakal peradaban mereka. Mereka datang tidak hanya dengan naik pesawat terbang. Tapi, mereka juga datang dengan menggunakan jalan darat. Malah, banyak pelancong Eropa yang datang ke Istanbul dengan naik sepeda. Karena itu, kerap dikemukakan, Istanbul merupakan "Serambi Eropa" atau "Pintu Gerbang Eropa". Memang, secara geografis Istanbul merupakan bagian dari Eropa.

Di kedua tepi Selat Bosphorus itu penuh dengan sejumlah istana, kastil, vila, gedung pemerintahan, dan rumah tinggal yang dihiasi pohon cypress, pohon judas dan pohon magnolia. Melihat tampilan indah berbagai istana, rumah, dan gedung yang menghiasi kedua sisi selat itu, dapat diperkirakan hanya kelas masyarakat tertentu saja yang mampu membangun dan memilikinya. Lembaran sejarah menorehkan, Sultan Sulaiman Al-Qanunilah yang pertama kali memerintahkan pembangunan istana dan perumahan di tepi Selat Bosphorus.

Siluet Indah Masjid Sulaimaniye

Tidak lama setelah berada di atas kapal, seperti telah saya kemukakan, saya segera memasuki "command room". Untuk mendamping nakhoda kapal. Tidak lama selepas kapal bergerak, meninggalkan pangkalannya, saya pun segera memaparkan kisah Istanbul dan sederet bangunan yang berada di dua sisi Selat Bosphorus. Dan, beberapa menit selepas kapal meninggalkan pantai, segera di sebuah bukit di kawasan Eminönü mencuat siluet sebuah masjid indah. Itulah siluet indah Masjid Sulaimaniye: sebuah masjid yang merupakan salah satu karya puncak (masterpiece) seorang arsitek kondang Turki, Mimar Sinan Pasha.

Bagaimanakah kisah masjid yang merupakan salah satu landmark Kota Istanbul itu?

Selepas merampungkan pembangunan Masjid Sehzade, Mimar Sinan Pasha kemudian merancang Masjid Sulaimaniye. Seperti halnya Masjid Sehzade, Masjid Sulaimaniye juga dibangun atas permintaan Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Karena itu, nama masjid itu diambil dari nama sang sultan.

Nah, lokasi Masjid Sulaimaniye yang dibangun Mimar Sinan Pasha pada 1557 M itu dipilih di puncak sebuah bukit yang menjadi pusat Selat Bosphorus. Bukit itu terletak di Distrik Eminönü. Dengan demikian, masjid itu menjadi titik pusat yang sangat menarik perhatian dan pemandangan. Selain memiliki rancangan aristektur yang sangat memikat, lantai masjid itu dihampari pualam. Sedangkan dekorasi sangat indah yang menghiasi masjid itu merupakan buah karya seorang kaligrafer kondang kala itu, Hasan Efendi Çelebi.

Dalam membangun Masjid Sulaimaniye, Mimar Sinan Pasha memakai sistem kubah tengah dan dua kubah kecil. Kubah tengah tersebut, dari permukaan tanah, memiliki tinggi 53 meter. Dengan kata lain, masjid itu enam meter lebih tinggi dari Hagia Sophia. Selain itu, dalam membangun masjid, ia mendayagunakan seluruh kemampuan arsitektural yang telah ia kuasai kala itu. Demikian halnya, ia pun kala itu telah menaruh perhatian besar terhadap berbagai faktor pengaruh suara, di samping sistem sirkulasi udara yang membuat udara di masjid ini bergerak cepat dan mudah.

Masjid yang tampak sangat indah dipandang dari Selat Bosphorus itu dilengkapi empat menara. Hal itu merupakan simbol bahwa Sultan Sulaiman Al-Qanuni merupakan sultan ke-4 Dinasti Usmaniyah. Yang menarik, tinggi keempat menara itu tidak sama. Mengapa demikian? Dua menara yang dekat kubah dirancang Mimar Sinan Pasha lebih tinggi ketimbang dua menara lain yang jauh dari kubah. Hal itu ia maksudkan agar masjid itu tampak bagaikan bentuk piramid. Sehingga, membuat siluet-siluet indah masjid itu, yang juga berbentuk piramid, menimbulkan kesan yang sama di Selat Bosphorus. Malah, juga dari seluruh penjuru Istanbul. Indah sekali!

Ketika kapal yang dinaiki rombongan kian menjauhi pantai, menuju Jembatan Sultan Muhammad II Al-Fatih, dengan melintas di bawah Jembatan Bosphorus yang terletak di wilayah Benua Eropa, di sebelah kiri kapal bercuatan sederet bangunan megah. Antara lain Menara Galata, Masjid Dolmabahce, Istana Dolmabahce, Istana Çırağan (kini menjadi Çırağan Palace Kempinski Hotel), Masjid Ortaköy, dan Benteng Rumeli.

Pemandangan di sepanjang pantai, sejak dari pangkalan kapal hingga ke Jembatan Sultan Muhammad II Al-Fatih, benar-benar memikat. Di antara deretan bangunan tersebut, selepas kapal itu meninggalkan pantai Eminonu, di kejauhan mencuat Menara Galata dengan puncaknya yang berbentuk runcing. Menara yang satu itu didirikan orang-orang Republik Genoa selepas berhasil mengepakkan koloni mereka di Constantinople. Dahulu, menara ini berfungsi sebagai menara pengintai serangan musuh yang datang dari Laut Marmara. Kini, di puncak menara yang terdiri dari sembilan tingkat dan tinggi 66.9 meter itu terdapat sebuah restoran dan kafe.

Istana Terbesar di Turki

Sekitar dua kilometer dari Pelabuhan Eminönü, di tepi Selat Bosphorus, tegak sebuah istana megah. Itulah Istana Dolmabahce yang dalam bahasa Turki disebut "Dolmabahçe Sarayi". Itulah istana terbesar di Turki. Istana yang dirancang tiga arsitek asal Armenia, Garabet Balyan, Nigoğayos Balyan, dan Evanis Kalfa itu pernah menjadi tempat kediaman resmi enam penguasa Dinasti Usmaniyah, antara 1856-1923 M. Sebelum itu, tempat kediaman resmi para penguasa dinasti tersebut adalah Istana Topkapi. Istana itu dibangun Sultan "Abdul Majid I, antara 1843-1856 M, selepas ia melawat ke Perancis dan berkunjung ke Istana Versailles di Paris, salah satu istana terbesar di dunia, yang dibangun atas perintah Raja Louis XIV.

Siapakah Sultan "Abdul Majid I, pendiri istana nan mewah itu?

Penguasa ke-31 Dinasti Usmaniyah di Turki yang berkuasa antara 1839-1861 M itu bernama lengkap "Abdul Majid bin Mahmud II bin "Abdul Hamid I. Penguasa yang mendapat pendidikan keagamaan yang kuat lewat tangan ibunya, yang pengikut taat Tarikat Naqsyabandiyah, Bezmialem, itu lahir di Istanbul pada Rabu, 16 April 1823 M. Tidak lama selepas naik tahta pada 1 Juli 1839 M, menggantikan ayahnya: Mahmud II, ia terlibat konflik dengan Muhammad "Ali Pasha, penguasa Mesir. Dalam konflik ini pasukan Dinasti Usmaniyah mengalami kekalahan telak dalam Perang Nashibain. Malah, panglima armada Angkatan Laut Turki, Fawzi Pasha, akhirnya menyerahkan diri kepada penguasa Mesir tersebut di Alexandria, Mesir.

Di sisi lain, penguasa yang berpikiran liberal dan banyak menyerap pemikiran Barat tersebut juga terkenal sebagai penguasa pembaharu lewat sebuah dekrit yang dikeluarkannya dengan sebutan Hatti-sherif Gulhane. Dekrit tersebut, antara lain, berisi hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak asasi manusia: seluruh warga Dinasti Usmaniyah, tanpa memandang ras dan agamanya, mendapat jaminan keamanan dan mendapat keadilan yang sama.

Selain itu, penguasa yang satu tersebut juga memberlakukan sistem perekrutan reguler yang menandai sebuah era baru yang disebut Tanzimat. Di samping itu, penguasa yang berpulang kepada Sang Pencipta di Istanbul pada Senin, 27 Mei 1861 M ini juga terkenal karena jejak langkahnya dalam melakukan pembangunan sekolah-sekolah, memberikan dorongan terhadap dunia perdagangan, dan melakukan pembangunan di berbagai bidang, termasuk pemugaran Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi, dan Ka"bah. Sikapnya yang terbuka tersebut, antara lain, yang mendorong negara-negara seperti Inggris dan Perancis membantunya kala dinasti yang ia pimpin terlibat dalam Perang Krim melawan Rusia yang berakhir dengan Perjanjian Paris pada Ahad, 30 Maret 1856 M.

Nah, melihat istana yang sangat mewah itu, ketika Sultan "Abdul Hamid II naik tahta, ia memilih tidak tinggal di istana dengan luas sekitar 45. 000 meter persegi itu dan menelan biaya sekitar lima juta pound Turki yang kala itu sama nilainya dengan 35.000 kilogram emas. Duh! Selama berkuasa, antara 1889-1909 M, sang sultan dan sanak kerabatnya memilih tinggal di Istana Yildis yang lebih "sederhana".

Istana Dolmabahce sendiri terdiri dari tiga bagian utama. Pertama, bagian untuk kaum pria yang dalam bahasa Turki disebut "Mabeyn-i Hümâyûn" atau "Selamlik". Kedua, bagian untuk tempat upacara dan acara resmi kesultanan yang dalam bahasa Turki disebut "Muayede Salonu". Ketiga, harem yang dikhususkan untuk keluarga perempuan kesultanan yang dalam bahasa Turki disebut "Harem-i Hümâyûn". Di dalam istana yang memiliki 285 kamar itu terdapat tangga yang disebut "crystal staircase". Tangga berbentuk dua tapal kuda yang dihampari karpet dari kulit beruang yang merupakan hadiah Tsar Rusia itu dibuat dari kristal, tembaga, dan kayu mahoni.

Mungkin, karena mengikuti langgam Istana Versailles, Paris, Perancis, di istana yang satu ini tiada dekorasi kaligrafi ayat-ayat Alquran seperti halnya di Istana Topkapi. Lantas, selepas Dinasti Usmaniyah tumbang, Istana Dolmabahce menjadi harta milik Republik Turki. Kemudian, ketika Mustafa Kemal Ataturk berkuasa, ia pun menjadikan istana itu sebagai tempat kediamannya di musim panas. Tidak aneh bila di bagian harem di istana itu kini terdapat tempat tidurnya yang diselubungi bendera Turki. Malah, di istana itu pulalah ia melewatkan hari-hari akhirnya. Hingga ia berpulang pada Sabtu, 10 November 1934 M.

Jembatan Pertama antara Eropa-Asia

Kemudian, ketika kapal yang dinaiki rombongan kami usai melintasi Istana Dolmabahce, kapal itu terus bergerak menuju ke arah Jembatan Bosphorus (Bosphorus Bridge atau dalam bahasa Turki disebut Boğaziçi Köprüsü).

Selepas kapal itu melintasi Istana Ciragan (dalam bahasa Turki disebut Çırağan Sarayı, sebuah istana yang didirikan seorang penguasa Turki Usmani dan kini menjadi sebuah hotel bintang lima), berikut muncul Masjid Ortakoy. Meski Masjid Ortakoy (dalam bahasa Turki, disebut Büyük Mecidiye Camii) memiliki ukuran kecil, namun masjid indah tersebut merupakan salah satu "penanda" dalam sejarah arsitektur masjid di Turki. Lo? Ya, ini karena arsitektur masjid tersebut menandai "belokan" dalam sejarah arsitektur masjid-masjid di negeri itu. Masjid yang dibangun antara 1854-1846 M tersebut, di atas reruntuhan Istana Cantemir, memiliki gaya arsitektur neo-barok: gaya arsitektur ala Eropa. Beda dengan gaya arsitektur masjid-masjid Turki yang didirikan sebelumnya yang mengikuti gaya arsitektur Turki Usmani.

Ketika kapal yang kami naiki usai melintasi Masjid Ortakoy, segera di atas kami mencuat sebuah jembatan yang membentang dengan gagahnya di atas Selat Bosphorus. Itulah Jembatan Bosphorus yang namanya kondang. Melihat jembatan itu, segera saya tersadarkan, di lokasi itulah, pada 512 sebelum Masehi, Raja Darius dari Persia membuat jembatan dari sederet kapal (pontoon) untuk menyeberangkan pasukannya menuju kawasan Macedonia. Namun, jembatan yang ada dewasa ini bukanlah warisan dari sang raja. Namun, merupakan "warisan" dari sebuah konsorsium sejumlah perusahaan Eropa dan pemerintah Turki.

Selepas itu, sederet usaha telah dilakukan, untuk "membentangkan" jembatan panjang di antara kedua benua itu. Pada abad ke-18 M, misalnya, sejumlah insinyur Perancis mengajukan rancangan sebuah jembatan yang menghubungkan dua benua itu. Selepas itu, pada 1905 M, rancangan lain diajukan sebuah tim dari Jerman. Lantas, pada tahun-tahun 1930-an sebuah tim lain dari Eropa mengajukan rancangan lain lagi. Dan, pada 1953 M, pemerintah Turki membuat rancangan lain lagi. Namun, seperti rancangan-rancangan sebelumnya, rancangan itu pun tinggal rancangan. Kemudian, ketika tahun 1963 M menampakkan dirinya, keinginan untuk membangun jembatan panjang yang membentang di antara Benua Asia dan Benua Eropa membara kembali.

Mengapa?

"Ada dua faktor yang berubah," jawab Robert Arndt dalam sebuah tulisannya berjudul "Bridge Across The Bosporus" (Saudi Aramco World, September/Oktober 1973), "Salah satunya adalah Istanbul sendiri. Kedua sisi Selat Bosphorus, selama sepuluh tahun terakhir (sebelum itu), seperti diperkirakan para perencana, selama seperempat abad ke depan lalu lintas dua jembatan yang membentang di atas Golden Horn akan mencapai puncak titik kepadatannya. Untuk menyeberang menuju kota dapat memakan waktu dua hingga enam jam, bila waktu naik feri menyeberangi Selat Bosphorus juga dihitung.

Perubahan yang satunya lagi adalah teknologi pembangunan jembatan mengalami perkembangan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Seluruh lima jembatan gantung yang dibangun di antara 1953 dan 1963 telah memecahkan rekor atau meraih kemajuan dalam teknik pembangunan jalan raya yang setengah menggantung di bentangan baja ulir. Karena itu, ketika Freeman Fox & Partners dari London, sebuah perusahaan paling berpengalaman dan inovatif di bidang tersebut, mendapatkan proyek (pada 1968) untuk merancang sebuah jembatan Bosphorus baru, impian itu akhirnya terwujud."

Lima tahun kemudian, tepatnya pada Selasa, 30 Oktober 1973 M, dilakukanlah peresmian jembatan yang dibangun sebuah perusahaan Turki, Enka Construction & Industry Co., bersama sebuah kontaktor Inggris, Cleveland Bridge & Engineering Co. Ltd., dan sebuah kontraktor Jerman, Hochtief AG. Itulah jembatan pertama yang dibangun di atas Selat Bosphorus, yang menghubungkan antara Asia dan Eropa, semenjak dibikinnya jembatan pontoon oleh Raja Darius.

Selepas kapal yang kami naiki melintasi Jembatan Bosphorus yang berada di atas kami, kapal tersebut tetap melaju di sisi Eropa Istanbul. Pemandangan sangat indah tetap mewarna sisi Eropa Istanbul tersebut hingga kapal mendekati Jembatan Sultan Muhammad II Al-Fatih. Dalam bahasa Turki, jembatan tersebut disebut "Fatih Sultan Mehmet Köprüsü". Jembatan yang membentang sepanjang sekitar satu setengah kilometer dibangun pada 1986 M menghubungkan antara Hisarüstü (sisi Eropa) dan Kavacık (sisi Asia). Perancang jembatan itu adalah sebuah perusahaan yang juga merancang Jembatan Bosphorus: Freeman Fox & Partners dan BOTEK Bosphorus Technical Consulting Corp.

Titik Awal Penaklukan Constantinople

Ketika kapal itu melintasi Benteng Rumeli, entah kenapa dalam benak saya tiba-tiba muncul bayang-bayang Sultan Muhammad II, seorang sultan Dinasti Usmaniyah yang memimpin penaklukan Constantinople pada 1453 M. Entah mengapa, dalam benak saya menggeliat "bayang-bayang" sang sultan ketika menundukkan kota yang dipertahankan Kaisar Constantine XI itu pada Selasa, 29 Mei 1453 M.

Nah, Benteng Rumeli, yang dalam bahasa Turki disebut "Rumeli Hisari", dibangun Sultan Muhammad II sebelum menaklukkan Constantinople. Benteng yang terletak di Distrik Sanyer itu memiliki tiga menara. Masing-masing menara diberi nama sesuai dengan nama tiga menteri sang sultan yang memimpin pembangunan benteng itu.

Benteng pertama disebut "Benteng Sadrazam Çandarlı Halil Pasha". Lokasi benteng ini paling dekat dengan pintu gerbang benteng. Benteng kedua, yang terletak di sebelah selatan, disebut "Benteng Zağanos Pasha". Sedangkan benteng ketiga, yang terletak di sebelah utara, disebut "Benteng Sanca Pasha". Benteng yang pembangunannya dimulai pada Sabtu, 15 April 1452 M itu dirancang seorang arsitek bernama Muslihuddin dan rampung pembangunannya pada Kamis, 31 Agustus 1452 M. Dengan kata lain, benteng yang semula dikenal dengan sebutan "Boğazkesen", yang berarti "Pemotong Selat", dibangun hanya dalam masa empat bulan 16 hari.

Kini, bagaimanakah kisah jatuhnya Kota Constanstinople yang penyerangannya dimulai dari Benteng Rumeli?

"Tidak lama selepas Sultan Muhammad II naik tahta," urai Bassam Al-"Asali dalam karyanya berjudul Al-Fâtih Al-Qâ"id, "ia menerima ancaman dari Kaisar Constantine XI, orang nomor satu Kekaisaran Byzantium. Sang kaisar mengancam, bila sang sultan tidak menaikkan upeti tahunan kepada sang kaisar, seperti yang dilakukan ayah sang sultan, yang telah melindungi sang sultan dari ancaman Pangeran Urkhan, maka sang kaisar akan berusaha memrovokasi Pangeran Urkhan untuk melakukan kudeta. Menerima ancaman demikian, Sultan Muhammad II pun menggerakkan pasukannya menuju Kerman. Kemudian, selepas berhasil meredam pembelotan pembesar Kerman tersebut, ia kemudian menggerakkan pasukannya mendekati pusat Kota Constantinople pada 1451 M.

Setiba di lokasi yang dipilih, Sultan Muhammad II kemudian memerintahkan pembangunan benteng di sekitar Selat Bosphorus yang jaraknya tidak lebih dari tujuh kilometer dari pintu-pintu gerbang kota itu. Tujuannya adalah untuk memutus bantuan dari Kerajaan Trabzon. Segera, ia memerintahkan pendirian "Rumeli Hisari", alias Benteng Rumeli, di titik tersempit selat itu. Benteng itu berada di seberang "Anadolu Hisari", alias Benteng Anatolia, yang dibangun Sultan Beyazit.

Ketika Kaisar Constantine XI mengirim beberapa duta yang membawa pesan tentang protesnya atas pembangunan Benteng Rumeli, di samping persetujuannya untuk menerima upeti dalam jumlah yang diinginkan Sultan Muhammad II, maka sang sultan pun memerintahkan hukuman pancung atas para duta itu. Hal itu, sebagai pernyataan perang dari sang sultan kepada sang kaisar."

Apa yang terjadi selepas pernyataan perang itu?

"Segera, pada permulaan April 1453, Sultan Muhammad II memerintahkan pasukannya untuk memblokade Kota Constantinople," urai lebih lanjut Bassam Al-"Asali dalam karyanya tersebut di atas. "Blokade dari arah darat dilakukan dengan mengerahkan sebanyak sekitar 250.000 serdadu. Sedangkan blokade dari arah laut dilakukan dengan menyiapkan 180 kapal perang. Selain itu, ia juga memerintahkan pemasangan meriam-meriam raksasa yang dirancang seorang teknisi piawai asal Hungaria bernama Urban. Meriam-meriam itu mampu memuntahkan "bom-bom" batu sejauh satu setengah kilometer. Setiap "bom" batu itu memiliki berat sekitar enam kilogram. Pada saat yang sama, pasukan Dinasti Usmaniyah berhasil menemukan makam Abu Ayyub Al-Anshari. Penemuan makam itu kian memacu semangat pasukan tersebut.

Ketika Kaisar Constantine XI mengetahui persiapan dan semangat yang luar biasa itu, ia pun segera mengirim sejumlah utusan ke para raja dan pangeran di Benua Eropa. Lewat para utusan itu, ia meminta dukungan dan bantuan mereka. Genoa adalah pihak yang paling cepat dan segera memberikan uluran tangan. Negeri itu mengirimkan satu skuadron kapal perang di bawah pimpinan Laksamana Giovanni Giustiniani. Skuadron itu pun segera tiba di perairan Constantinople. Lantas, pada 21 April 1453 M terjadilah pertempuran sengit antara skuadron Genoa itu dengan angkatan laut Dinasti Usmaniyyah. Pertempuran kali ini dimenangkan pasukan dari Genoa. Selepas meraih kemenangan, pasukan itu kemudian masuk ke dalam Kota Constantinople, selepas rantai-rantai besi yang dipasang di berbagai penjuru Selat Bosphorus diangkat."

Mengalami kekalahan tidak membuat Sultan Muhammad II patah arang. Ia menyadari, rantai-rantai yang dibenamkan di Selat Bosphorus menjadi halangan bagi angkatan laut yang ia pimpin untuk menundukkan Kota Constantinople. Namun, akhirnya, ia menemukan sebuah ide cemerlang: serangan kilat yang tidak terduga.

Untuk melempangkan ide serangan kilat itu, Sultan Muhammad II segera memerintahkan penyiapan jalan sepanjang sekitar enam hingga sepuluh kilometer di Distrik Galata. Jalan itu kemudian "dihampari" papan-papan kayu yang dilumuri pelumas, agar dapat dilintasi kapal-kapal perang angkatan laut Dinasti Usmaniyah dalam usaha menundukkan Constantinople tanpa terhalang oleh rantai-rantai besi. Ternyata, kapal-kapal itu benar-benar mampu melintasi jalan itu dengan cepat. Tentu saja, pasukan Kekaisaran Byzantium pun terbengong-bengong melihat kedatangan pasukan yang tidak terduga itu.

Segera, semangat pasukan Kekaisaran Byzantium pun melorot tajam. Apalagi selepas Laksamana Giovanni Giustiniani terluka. Akhirnya, selepas digempur dari berbagai penjuru, jatuhlah Kota Constantinople di tangan pasukan Dinasti Usmaniyah pada siang hari Selasa, 29 Mei 1453 M. Dan, dengan jatuhnya Constantinople, berakhir pula "kisah" sebuah kekaisaran yang mampu berkuasa selama berabad-abad: Kekaisaran Byzantium yang juga dikenal dengan sebutan Kekaisaran Romawi Timur.

Namun, kemenangan tidaklah membuat Sultan Muhammad II menjadi pongah dan takabur. Ketika memasuki hari ketiga selepas jatuhnya Constantinople, menurut catatan seorang sejarawan Byzantium yang menjadi saksi mata jatuhnya Constantinople, George Sphrantzes, dalam karyanya berjudul The Fall of the Byzantine Empire, ia memang merayakan kemenangan itu dengan sebuah pesta kemenangan luar biasa. Namun, lewat pesta itu, sang sultan memberikan pernyataan bahwa semua penduduk kota diminta meninggalkan persembunyiannya dan kembali ke kota sebagai orang bebas dan tiada interogasi lebih lanjut.

Tidak hanya itu. Sang sultan juga mengumumkan pemulihan guna mengembalikan kembali rumah dan harta lainnya bagi penduduk yang kembali ke rumah. Demikian halnya, mereka juga akan diperlakukan selaras dengan tingkatan sosial dan agama mereka. Seakan, di kota itu tidak terjadi perubahan apa pun dan tidak mengalami pergantian penguasa. Kecuali satu: nama kota mereka bukan lagi Constantinople. Namun, kini, nama kota mereka berubah menjadi Istanbul!

Istana Para Tamu Negara

Menjelang tiba di bawah Jembatan Sultan Muhammad II Al-Fatih, yang membentang panjang di antara Benua Eropa dan Asia, kapal yang kami naiki pun membelok dan kemudian balik menuju ke arah Pelabuhan Eminönü. Begitu kapal itu memutar, di samping kiri kapal itu tegak "Anadolu Hisari" alias Benteng Anatolia: sebuah benteng yang dibangun Sultan Beyazid I,dalam usahanya menundukkan Constantinople.

Kemudian, ketika kapal itu melintasi Jembatan Bosphorus, di samping kiri kapal tegak Istana Beylerbeyi. Istana musim panas di masa pemerintahan Turki Usmani tersebut dibangun Sultan "Abdul "Aziz, penguasa ke-32 Dinasti Usmaniyah yang naik ke pentas kekuasaan pada Selasa, 25 Juni 1861 M. Penggemar musik, lukisan, dan pertandingan gulat itu membangun istana tersebut, antara 1861-1865 M, bagi para kepala negara asing yang berkunjung ke Istanbul. Di antara para tamu yang pernah menginap di istana itu adalah Ratu Eugenie dari Perancis (yang dalam perjalanan menuju Mesir untuk menghadiri peresmian Terusan Suez) dan Duke serta Duchess of Windsor.

Pemandangan di sepanjang pantai di daratan itu tidak kalah memikat dibandingkan dengan pemandangan di sepanjang daratan Benua Eropa. Berbagai masjid, istana, vila, hotel, dan tempat kediaman menghiasi sepanjang tepi pantai. Kemudian, menjelang kapal itu mendekati pangkalannya, di Pelabuhan Eminönü, di samping kiri kapal (di bagian Asia dari Kota Istanbul) tegak sebuah mercu suar yang dalam bahasa Turki dikenal dengan sebutan "Kuz Kulesi".

Mercu suar yang berada di pantai Distrik Üsküdar itu dibangun seorang jenderal Yunani, Alcibiades, pada 408 sebelum Masehi. Dengan kata lain, mercu suar itu telah berusia sekitar 2.400 tahun. Mercu suar itu sendiri didirikan untuk memantau gerakan pasukan Persia yang kala itu berusaha menguasai kawasan itu. Lantas, pada 1100 M, Kekaisaran Byzantium memperbesar mercu suar itu. Hal yang sama juga dilakukan Dinasti Usmaniyah beberapa kali. Kini, mercu suar itu diubah menjadi kafe dan restoran.

Ketika kapal yang kami naiki itu merapat kembali di pangkalannya di Pelabuhan Eminönü, tidak terasa hampir selama satu setengah jam kami semua menikmati perjalanan di seputar Selat Bosphorus. Kemudian, selepas kapal itu merapat di pangkalannya, kami kemudian meneruskan perjalanan menuju Sultan Ahmet Square. Kali ini, tujuan utama perjalanan kami adalah untuk mengunjungi kembali Masjid Biru.

Anda mau berkunjung ke Istanbul? Sekali lagi, jangan lupa menikmati pemandangan Istanbul dari Selat Bosphorus. Benar-benar merupakan pemandangan yang tidak akan terlupakan. Ya, merupakan pemandangan dan kenangan yang tidak akan terlupakan!@ru


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top