Seni budaya

Lukisan

Rekaman Estetik Perjalanan Pupuk Daru Purnomo

Rekaman Estetik Perjalanan Pupuk Daru Purnomo

Oleh: Raihul Fadjri

PERJALANAN ke luar negeri bagi pelukis Pupuk Daru Purnomo tak sekadar bersenang-senang melihat obyek wisata atau melihat galeri dan museum seni rupa. Tapi juga membuat catatan perjalanan lewat karya sketsa sejak 2001 hingga 2013. Sekitar 70 karya sketsa dan enam gambar (drawing) di atas kerta berukuran kecil (10 x 14 Cm) dan berukuran lebih besar (34 x 43 Cm) dia hasilkan selama perjalanan ke Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Cekoslowakia, Italia, dan India. Lewat pameran bertajuk Out of The Box karya itu kini dipajang di ruang pamer RSVP House miliknya di Cebongan, Sleman, Yogyakarta, 8 - 30 November 2021.

Pria kelahiran Yogyakarta 16 Juni 1964 ini terdorongan membuat karya sketsa dalam perjalanan itu tak cuma karena tertarik terhadap bangunan kuno abad pertengahan di sejumlah kota di Eropa, tapi juga kehidupan budaya dan sosial di kota yang dia kunjungi. "Peristiwa on the spot akan menjadi barang langka untuk masa yang akan datang," ujar Pupuk.

Perjalanan itu dia mulai bersama pelukis Nasirun dan kolektor kondang Oei Hong Djien. Mereka berkeliling ke sejumlah kota di Amerika Serikat pada 2001. Di dalam kopernya Pupuk juga membawa tinta cina, kuas, pena, pinsil. Di New York dia membuat sket dengan obyek Grand Central, setasiun kereta api New York.

Karya sketsa di atas kertas koran Financial Times, 2013

Perjalanan berlanjut ke Eropa yang lebih banyak memiliki bangunan lawas. Di Paris Pupuk tidak cuma menikmati menara Eifel, tapi juga menyaksikan polisi mengejar-ngejar pedagang asongan diantara kerumunan turis. Pedagang asongan itu merupakan imigran gelap. "Keindahan Eifel menjadi lebih beragam. Tidak cuma lanskap, tapi juga kehidupan sosialnya yang melibatkan aspek emosional," katanya.

Kehidupan malam di Paris pun menjadi sasaran sketsa saat mereka pada suatu malam berpetualang di salah satu lorong mesum. Mereka berada di deretan lokasi hiburan penari telanjang dan memilih salah satunya. Degup jantung dengan deras memompa libido mereka ditengah liukan tubuh polos seorang perempuan penari di panggung kecil, dan berbagai minuman dihindangkan tanpa mereka minta.

Ketika pertunjukan usai tanpa menyentuh segelaspun minuman itu, mereka dihadang tukang pukul berbadan tegap. Pria itu memaksa mereka mengeluarkan dompet dan mengambil semua mata uang asing. "Kami dipalak," ujar Pupuk.


Nonton Stiptease, Paris, 2013

Toh dia masih sempat membuat sket perempuan penari telanjang itu di atas kertas berupa dua perempuan tanpa busana, dan seorang pria dengan dua tanduk di kepala, tangannya menghunus belati. Pada sketsa itu tertulis: Kenangan Pahit 4 Juni 2001.

Empat tahun kemudian, dia menemukan kembali sketsa yang dia buat di tengah gelora seksual dan rasa cemas pada malam itu. Ingatan yang kembali membawanya ke peristiwa itu dia tuangkan ke kanvas berupa karya lukis sosok perempuan yang hanya mengenakan penutup dada dan celana dalam dengan jari tangan berhiaskan kuku panjang dan tajam siap mencakar. Pupuk dikenal sebagai pelukis yang mengeksplorasi bentuk yang menyeramkan dalam komposisi warna gelap.

Saat lain, Pupuk dan pelukis Ivan Sagita bersama rombongan pelukis dari negara Asean ke India untuk berkarya selama dua pekan pada Juni 2012. Selain menghasilkan sketsa, Pupuk juga membuat gambar dengan pinsil secara on the spot. Ada perempuan penari tradisioanal, perempuan India mengenakan pakaian sari (saree), ada gambar penarik becak di Kalkuta, dan polisi India.


Grand Central Terminal, New York, 2001

Setahun kemudian—2013—Pupuk berkunjung di Florence, Italia. Perhatiannya kembali tertarik pada bangunan lawas, San Marco, dan bangunan lawas di sebelahnya yang kontras dengan jejeran kursi plastik di depannya.

Pupuk tak cuma membuat sketsa di atas kertas gambar, tapi juga di atas kertas koran Financial Times saat berada di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 2013. "Sketsa bagi saya sangat penting sebagai sebagai catatan perjalanan saya yang memiliki nilai historis dan perjuangan yang saya rasakan. Dengan membuat sketsa di manapun kita bisa berekspresi," ujar Pupuk.#

*Raihul Fadjri, pemerhati seni rupa, wartawan senior.



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top