Opini

Prof. Dr. Ahmed Hassan Zewail Suka Duka dalam Menimba Ilmu Seorang Penerima Hadiah Nobel:

Prof. Dr. Ahmed Hassan Zewail

Prof. Dr. Ahmed Hassan Zewail

Oleh: Ahmad Rofi" Usmani

"Prof. Dr. AHMED H. ZEWAIL, mungkin Anda tahu."

Tidak salah jika Anda berpendapat, sosok yang satu itu adalah seorang ilmuwan Muslim yang pertama kali menerima Hadiah Nobel di bidang kimia. Profesor yang satu ini tidak lahir di sebuah kota besar. Namun, ia lahir pada Selasa, 24 Rabi" Al-Awwal 1365 H/26 Februari 1946 M, di Damanhur, Mesir, (terletak di antara Alexandria dan Rosetta): sebuah kota kecil yang hanya berjarak sekitar 60 kilometer dari kota yang pernah menjadi saksi kisah percintaan antara Cleopatra VII dan Marcus Antonius. Ya, lokasi percintaan legendaris antara Cleopatra dan Marcus Antonius.

Nah, ketika saya menyimak kembali sebuah karya menawan yang ditulis sang ilmuwan, berjudul Voyage through Time, Walks of Life to the Nobel Prize, saya tercenung dan termenung. Lama. Kemudian, buku itu, selama beberapa hari, saya simak. Lembar demi lembar. Ya, selama beberapa hari saya berusaha menyedot dan menyerap energi dan semangat putra Alexandria, Mesir tersebut: bagaimana kisah hidupnya hingga akhirnya ia berhasil meraih dua penghargaan ilmiah prestigius tingkat dunia. Yaitu King Faisal Prize dan Nobel Prize. "Luar biasa, ilmuwan yang satu ini. Berasal dari kota kecil, tapi akhirnya ia berhasil meraih dua penghargaan tingkat dunia!" decak bibir saya.

Kini, bagaimana kisah perburuan ilmiah yang dilakukan sang ilmuwan?

Selepas merampungkan pendidikan tinggi di Universitas Alexandria, Mesir, pada 1387 H/1967 M, putra seorang pegawai negeri ini lantas meniti karier di lingkungan almamaternya sebagai mu"îd, alias asisten dosen. Namun, dorongan untuk mengembangkan diri kemudian memicu dan memacunya untuk meninggalkan negerinya. Situasi dan kondisi negaranya, Mesir, kala itu, sedang dalam keadaan kacau. Ya, kacau balau akibat kalah dalam Perang 5 Juni 1967. Antara negara-negara Arab dan Israel.

"Saat itu masa perang. Semangat (bangsa Mesir) sedang berada di titik terendah," tuturnya dalam karyanya di atas, Voyage through Time, Walks of Life to the Nobel Prize, tentang situasi dan kondisi Mesir yang carut marut kala itu. "Dunia usaha mengalami pukulan berat. Onderdil mobil, bus, dan mesin-mesin lain tidak tersedia. Dunia pariwisata hancur sama sekali. Sejumlah besar teman saya harus pergi ke medan pertempuran. Banyak para mahasiswa yang juga dalam keadaan terguncang."

Saat yang Paling Menggetarkan Hati

Menyadari masa depan yang kurang jelas, bila tetap berada di Mesir, Ahmed H. Zewail akhirnya memutuskan untuk menimba ilmu ke luar negeri. Berbeda dengan banyak para mahasiswa Mesir kala itu, yang lebih banyak memilih melanjutkan pendidikan ke Uni Soviet atau negara-negara Eropa Timur, pilihan Zewail justru tertuju ke Amerika Serikat (AS). Ya, ke AS, negara adikuasa yang kala itu sedang bermusuhan dengan negaranya.

"Saya ingin menimba ilmu di AS," jawabnya tentang motivasinya dalam menimba ilmu di negara adikuasa tersebut. "Utamanya, karena saya suka gaya menyegarkan yang saya lihat dalam karya Dr. Samir El Ezaby, yang telah menetap selama beberapa tahun di Salt Lake City, dan Dr. Yehya El Tantawy yang tinggal di Philadelphia. Kedua orang itu merampungkan program Ph.D. mereka di AS. Dr. Samir di University of Utah. Sedangkan Dr. Yehya di University of Pennsylvania. Seorang guru lain, yang saya kagumi, Dr. Ashraf El-Bayyoumi, juga belajar di AS, di Florida State University. Mereka bertiga mendorong saya untuk mengambil gelar Ph.D. saya di AS. Malah, mereka kemudian memberikan rekomendasi bagi saya untuk posisi itu."

Ahmed H. Zewail muda sadar, saat itu sendiri, hubungan antara AS dan Mesir sedang tidak baik. Berkenaan dengan hal itu, ia menuturkan, "Kala itu, AS bukan sahabat baik Mesir. Sehingga, karena itu, kebanyakan misi ilmiah resmi (Mesir) dikirim ke Uni Soviet atau Eropa Timur. Namun, saya bertekad akan pergi ke AS. Ini karena saya tahu, di sana terdapat penelitian terbaik di bidang yang menjadi perhatian saya. Juga, di sana saya dapat menjadi bagian dari dunia penelitian yang baru itu. Kita dapat melihat hal itu dalam jumlah penerima Hadiah Nobel."

Selepas mengajukan lamaran belajar dan beasiswa ke sederet universitas terbaik di AS, akhirnya, pada 2 April 1969, Ahmed H. Zewail menerima sebuah amplop. Ya, sebuah amplop berhuruf timbul dari Departemen Kimia, University of Pennsylvania, AS. "Ini merupakan salah satu saat yang paling menggetarkan hati selama hidup saya. Pengetahuan saya sedikit sekali tentang AS, dari segi daya tarik pariwisatanya. Seperti tentang Grand Canyon, Disneyland, dan malah juga pertunjukan di Broadway. Apa yang saya ketahui hanyalah bahwa saya akan memiliki laboratorium terbaik di dunia, perpustakaan yang sangat lengkap, dan majalah-majalah sains," kenangnya tentang saat yang ia menerima amplop dari Komite Penerimaan Mahasiswa Departemen Kimia, University of Pennsylvania tersebut.

"Hantu" Tiga Kendala

Tepat pada 23 Agustus 1969, pada pukul 07.30 pagi, Ahmed H. Zewail muda telah berada di Cairo International Airport. Ia telah siap untuk bertolak menuju AS. Diantar keluarganya. Kemudian, selepas mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, tepat 09.00 pagi pesawat terbang Egypt Air yang ia naiki melesat meninggalkan Mesir. Ya, meninggalkan Mesir menuju London, dengan singgah di Roma dan Paris, dan kemudian terus menuju Philadelphia. Selepas menempuh perjalanan panjang, akhirnya pesawat terbang yang ia naiki mendarat di Philadelphia. Tepat pada pukul 16.25 24 Agustus 1969.

Bagaimanakah gejolak perasaan Ahmed H. Zewail ketika pertama kali menginjakkan kedua kakinya di AS?

"Mendarat di AS rasanya hampir seperti dilemparkan ke dalam sebuah lautan. Ya, sebuah lautan yang amat luas: setiap orang bebas mengambang seperti ini dan seperti itu. Luas dan serba lengkap, namun indah, membentang sepanjang yang dapat dilihat mata. Sebagai anak laki-laki yang lahir di Mesir, saya memandang AS sebagai sebuah negara yang sarat dengan pencakar langit dan gedung-gedung yang tinggi menjulang dan ramping, dan taman-taman yang dipelihara dengan rapi dan penuh dengan rumput hijau. Rasanya besar sekali!"

Selepas beberapa hari berada di Pennsylvania, Ahmed H. Zewail muda pun segera melapor ke universitas yang kondangnya setara dengan Universitas Harvard, Universitas Yale, MIT, dan Universitas Princeton: University of Pennsylvania. Segera pula, ia menyadari, penguasaan bahasa Inggrisnya ternyata sangat lemah. "Saya hanya mampu berbicara dengan bahasa Inggris patah-patah. Hanya beberapa kata saja yang mampu keluar dari mulut saya untuk berkomunikasi. Juga, saya tidak mampu melakukan perbincangan dalam bahasa Inggris dengan baik. Ini karena pada umumnya, ketika di Mesir, saya hanya membaca buku dan majalah ilmiah. Saya jarang melakukan perbincangan dengan bahasa Inggris," akunya. Jujur dan apa adanya!

Namun, segera kendala bahasa tersebut teratasi. Ternyata, segera selepas bergabung dengan University of Pennsylvania, muncul tiga kendala lain. Ya, tiga kendala: sains, politik, dan kultur. Lo?

Kini, mari kita dengarkan penuturan langsung dari sang ilmuwan tentang kendala sains. "Kendala ilmiah yang sesungguhnya adalah kemampuan saya dalam menangani peralatan yang kompleks. Fasilitas laboratorium yang biasa saya pakai (di Mesir) sederhana sekali. Sementara kini, saya bekerja dengan sederet instrumen yang paling modern dan untuk memakainya memerlukan latihan khusus. Akibatnya, pada suatu malam, ketika saya sedang mengerjakan sendirian beberapa eksperimen, saya terpaksa membangunkan Prof. Dr. Robin Hochstrasser dari tidurnya pada pukul 04.00. Hal itu karena saya menghadapi suatu masalah serius dengan magnet superconducting baru. Ia tidak keberatan. Namun, hingga kini, ia tidak pernah melupakan panggilan telepon di akhir malam itu. Ada dimensi lain lagi berkaitan dengan kendala sains tersebut: Di Mesir, kami terbiasa menggunakan sistem Inggris dalam menyajikan tulisan ilmiah. Malah, juga dalam mata kuliah sains."

Kendala lain adalah kendala politik. Namun, dengan segera, Ahmed H. Zewail mampu mengatasi hal tersebut. Yang paling kerap menjadi tantangan baginya, pada tahun-tahun pertama di AS, adalah kendala kultur. Contohnya adalah "insiden kultural" berikut, "Dalam sebuah sesi di laboratorium, seorang cewek yang meja labnya berada di sebelah meja seorang cowok, mulai bekerja sama. Sementara mereka menunggu hasil penelitian bersama yang mereka lakukan, mereka berdua mulai berciuman di depan saya dan semua orang lain. Betapa kaget saya!

Di Mesir, kejadian seperti itu mustahil dilakukan dalam lab. Sedangkan di sini, dua anak muda itu berciuman, penuh nafsu, ketika mereka sedang menunggu. Tanpa memedulikan orang-orang yang berada di sekitar mereka. Saya, yang kala itu bertugas mengawasi kelas itu, benar-benar bingung, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya harus mengusir keluar mereka? Apakah saya harus memisahkan mereka? Apa yang harus saya lakukan?

Akhirnya, saya keluar dari kelas. Untuk meminta masukan kepada atasan saya. Ia menjawab, "Ahmed! Engkau tentu tahu, di sini mereka biasa melakukan hal yang demikian itu!" Saya pun langsung sadar, hal yang seperti itu merupakan hal yang biasa dari segi kultur. Sangat beda dengan latar belakang saya yang konservatif."

Segera, dengan berjalannya waktu, tiga kendali tersebut teratasi. Apalagi, ketiga kendala ilmiah, politik dan kultur tersebut terimbangi oleh kemudahan hidup dan keramahtamahan penduduk negara adikuasa tersebut. Kemudian, dengan bergulirnya waktu, akhirnya pada Agustus 1973, putra pasangan suami-istri Hassan Ahmed Zewail dan Rawhia Dar ini berhasil meraih gelar Ph.D. dari University of Pennsylvania. Disertasinya membahas tentang spektroskopi pasangan-pasangan molekul.

Selepas meraih gelar Ph.D., pencinta berat lagu-lagu Ummu Kultsum, seorang penyanyi legendaris (virtuoso) Mesir, ini (lagu-lagu yang senantiasa ia dengarkan hingga menjelang berpulang ketika benaknya sedang gelisah dalam menghadapi suatu problem ilmiah) tidak kembali ke negerinya. Ya, tidak kembali ke Mesir. Namun, ia lantas mengajukan lamaran kerja ke lima posisi: tiga di AS, satu di Jerman, dan satu lagi di Belanda.

Menerima Sederet Penghargaan

Selepas diterima di kelima posisi tersebut, Ahmed H. Zewail akhirnya memilih meniti karier di lingkungan University of California, Berkeley (UCB), AS. Pada awal 1974, ia pun pindah dari Philadelphia ke Berkeley. Ternyata, perpindahan tersebut, baginya, bagaikan perpindahan dari Alexandria, Mesir ke Philadelphia, AS: menimbulkan shock berat baginya. Namun, kali ini, ia lebih siap dan sigap dalam menghadapi shock tersebut.

Segera, karier ilmiahnya melesat dan berpendar cemerlang di University of California, Berkeley. Berkaitan dengan universitas bergengsi tersebut, ia memberikan catatan, "Fasilitas luar biasa dan lingkungan ilmiah di Berkeley telah membuka mata saya tentang suatu konsep lain dalam sains di AS: Apa yang menjadikan sains di AS tetap berada di depan adalah karena adanya sejumlah kecil lembaga menonjol yang mampu menyediakan fasilitas yang mahal dan sederet dosen sangat kondang."

Selain itu, menurut Ahmed H. Zewail, AS memiliki keunggulan lain. Papar Zewail tentang keunggulan tersebut, "Salah satu hal yang saya pelajari tentang sistem AS dalam mencari tenaga ilmiah adalah para ilmuwan muda diperlakukan dengan baik. Saya, misalnya, diperlakukan dengan baik, meski saya belum apa-apa di bidang sains... Memang sangat luar biasa cara kerja sistem tersebut. Sistem itulah yang menentukan para ilmuwan muda yang masa depan mereka menjanjikan, memberikan mereka kesempatan dan kebebasan, dan kemudian dalam waktu yang relatif singkat mereka dapat menjadi tokoh dunia dalam bidang penelitian mereka."

Namun, dua tahun kemudian Ahmed H. Zewail meninggalkan UCB dan pindah ke California Institute of Technology (Caltech). Lo? "Di UCB, saya merasa bahwa saya tidak dikenal dan tidak diperhatikan oleh sebagian besar tenaga pengajar. Kecuali sebagian kecil saja," jawab sedih Zewail dalam Voyage through Time, Walks of Life to the Nobel Prize.

Beda dengan di UCB, ternyata Ahmed H. Zewail merasa sangat krasan di Caltech. Malah, akhirnya, ia berhasil menjadi guru besar kimia Linus Pauling Chair dan Direktur National Science Foundation Laboratory for Molecular Sciences di perguruan tinggi tersebut. Ia, memang, sangat menikmati kehidupan ilmiah di lingkungan Caltech. Berkaitan dengan institut teknologi bergengsi tingkat dunia tersebut, ia memberikan catatan panjang dalam karyanya di atas, Voyage through Time, Walks of Life to the Nobel Prize:

"Reputasi Caltech memang sangat memikat bagi setiap asisten profesor muda usia. Dengan ukuran apa pun, orang akan merasa rendah diri. Dalam beberapa minggu pertama (di Caltech), saya merasa berada di sebuah "Pulau Para Raksasa" dan saya mulai mengenal beberapa ilmuwan kondang tingkat dunia. Dalam bidang fisika, misalnya, saya mulai mengenal Richard Freyman, penerima Hadiah Nobel pada 1965, karena karya fundamentalnya tentang elektrodinamika kuantum. Saya juga mulai mengenal Murray Gell-Man, yang menerima Hadiah Nobel karena berhasil membuktikan bahwa proton dan netron terdiri dari partikel yang lebih kecil, quark."

Memang, Ahmed H. Zewail merasa, "Caltech merupakan tempat yang tepat baginya. Ia juga merasa, Caltech merupakan pusat sains". Meski demikian, baginya, mengajar di Caltech bukan tanpa "insiden". Utamanya "insiden kultural". Tutur Zewail tentang "insiden kultural" tersebut:

"Kelas-kelas yang ada di Caltech unik. Jumlah mahasiswa dalam tiap kelas relatif kecil. Antara 10 hingga 40 orang. Sehingga, saya mengenal mereka semua. Dengan nama pertama mereka. Baik mahasiswa S1 maupun mahasiswa pascasarjana Caltech merupakan para mahasiswa terbaik di AS maupun di dunia. Mengajar mereka merupakan pengalaman yang sangat bermanfaat. Namun, ada sedikit ganjalan yang berkaitan dengan segi kultur.

Contoh, pada 1977, ketika saya sedang memberikan kuliah di salah satu kelas, di hadapan saya menjulur sepasang kaki. Tanpa sepatu. Bukan sebuah wajah manusia. Ini karena mahasiswa undergraduate itu menaikkan kedua kakinya seenaknya di atas kursi di depannya. Memang, amat sesuai dengan "warna" Caltech, otak mahasiswa itu cemerlang sekali. Namun, saya katakan kepada mahasiswa tersebut secara pribadi, dua kaki yang terjulur di muka saya itu tidak perlu!"

Di Caltech, karier Ahmed H. Zewail melesat sangat cepat. Malah, kemudian, berkat sederet karya dan penemuannya, ilmuwan Muslim yang satu ini berhasil meraih sederet hadiah dan penghargaan. Antara lain Robert A. Welch Prize Award, Benjamin Franklin Medal, Leonardo Da Vinci Award of Excellences, Rontgen Prize, Paul Karrer Gold Medal, Bonner Chemiepreis, Medal of the Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences, Carl Zeiss Award, Hoechst Award, Alexander von Humbolt Award, Herbert P. Broida Prize, Linus Pauling Medal Award, E.O. Lawrence Award, Chemical Sciences Award, J. G. Kirkwood Medal, Peking University Medal, Pittsburgh Spectroscopy Award, First E. B. Wilson Award, Richard C. Tolman Medal Award, William H. Nichols Medal Award, Merski Award, Faye Robiner Award, Golden Plate Award, City of Pisa Medal, Medal of "La Sapienza" ("Wisdom"), Médaille de l"Institut du Monde Arabe, G. M. Kosolapoff Award, Sir C. V. Raman Award, Arab American Award, Medal of University of Buenos Aires, Medal of National University of Cordoba, Jubilee Medal of National Research Council of Egypt, 150th Anniversary Medal of the French Chemical Society, Gold Jubilee Medal (50th Anniversary) of Assiut University, Jabir Ibn Hayyan ("Geber") Medal, MIT Lifetime Achievement Award, 700th Anniversary Medal, Universidad Complutense de Madrid, Othmer Gold Medal, Arab American of the Year Award, Pioneer in Photonics Award, 375th Anniversary Celebration Medal, G. Robert Oppenheimer Medal, Gilbert Newton Lewis Medal, Sir Humphrey Davy Medal, Sven Berggren Prize, Medal of the University of Tunis, Mendel Medal of Villanova University, dan World Harmony Award of University of California. Duh!

Menerima Hadiah Raja Faisal dan Hadiah Nobel

Penghargaan demi penghargaan atas karya-karya pakar laser yang menetap di San Marino, California tersebut, ternyata, tidak hanya berhenti hingga di situ. Penghargaan atas prestasi ilmiahnya, akhirnya, mencapai puncaknya dengan keberhasilannya dalam menerima Hadiah Raja Faisal di bidang sains tahun 1409 H/1989 M dan Hadiah Nobel di bidang kimia tahun 1420 H/1999 M. Luar biasa!

Berkaitan dengan Hadiah Raja Faisal, Ahmed H. Zewail menulis, "Sejak lahir pada 1977, Hadiah Raja Faisal dengan cepat mampu membuktikan dirinya sebagai salah satu penghargaan dunia yang paling bergengsi. Reputasi tersebut tidak dapat dicapai tanpa (dua hal). Pertama, ketaatan yang sangat ketat atas prosedur nominasi dan seleksi yang memastikan setiap pemenang dipilih berdasarkan prestasinya yang luar biasa. Kedua, dukungan berkelanjutan dari lembaga akademis. Baik secara nasional maupun internasional."

Kini, mengapa Hadiah Nobel dipandang layak diberikan kepada ilmuwan Muslim yang kala itu menjabat guru besar di Caltech itu?

Akademi Ilmu Pengetahuan Swedia berpandangan, Ahmed H. Zewail "membuat terjadinya revolusi di bidang kimia (brought about a revolution in chemistry)", sehingga memungkinkan para ilmuwan "melihat gerakan-gerakan atom-atom individual (to see the movements of individual atoms)." Sedangkan Komite Hadiah Nobel mengakui bahwa karya Zewal melempangkan jalan bagi para ilmuwan untuk "memahami dan memprediksi reaksi-reaksi (kimiawi) penting (to understand and predict important [chemical] reactions)."

Sementara berkaitan dengan Hadiah Nobel itu sendiri, Ahmed H. Zewail, ketika memberikan sambutan di Caltech, Pasadena, California, AS pada 10 Juni 2011, dengan judul "We Must Dream", antara lain menceritakan:

"Ketika saya datang ke AS, pada 1969, saya tidak pernah memimpikan akan menerima Hadiah Nobel (atau Hadiah Pulitzer). Atau saya bermimpi memiliki harta kekayaan seperti Bill Gates. Berbekal pendidikan luar biasa yang saya terima di Mesir, saya hanya bermaksud ingin menimba ilmu pengetahuan danmeraih gelar Ph.D. dari lembaga pendidikan kondang terkemuka di tanah penuh peluang ini. Kebetulan, bahasa Inggris saya kala itu sangat lemah. Sehingga di restoran, saya biasa memesan "gurun" (desert) untuk "pencuci mulut" (dessert).

AS merupakan magnet bagi banyak di antara generasi saya. Ini karena kepemimpinannya di bidang sains dan teknologi serta nilai-nilai demokrasinya yang unik. Pendaratan bersejarah Neil Armstrong di Bulan, pada 1969, cukup menunjukkan pandangan AS tentang batas-batas pengetahuan baru. Saya menyadari diktum Edison, "Genius (hanya berkontribusi) satu persen (terhadap) inspirasi. Sembilan puluh sembilan persen (inspirasi merupakan hasil) lelehan keringat." Dan, saya mememanfaatkan keberadaan saya di tempat yang tepat pada waktu yang tepat: berada di AS dan Caltech. Sejatinya, suasana di Caltech dan sistem dukungan negara itulah yang memungkinkan seorang asisten profesor muda untuk melaksanakan, dengan timnya, penelitian yang hanya dalam waktu sepuluh tahun akan menentukan suatu disiplin yang diganjar Hadiah Nobel pada tahun 1999.

Orang-orang kerap bertanya kepada saya, bagaimana seseorang dapat meraih meraih Hadiah Nobel? Apa rahasia keberhasilannya? (Kebetulan, orang yang sama tidak tertarik mengemukakan pertanyaan ini sebelum saya menerima hadiah itu.) Saya yakin, passion untuk meraih sainslah yang memasok energi tersebut dan optimismelah yang membuat hal yang hampir mustahil menjadi mungkin terjadi.

Para wisudawan saya yang cintai. Kesuksesan akan datang ke pikiran seseorang yang telah siap. Sukses tidak seperti hujan yang jatuh dari langit kepada semua orang. Sukses adalah apa yang Anda tuai ketika Anda sebelumnya menaburnya dengan passion dan optimisme."

"Mimpi" Selepas Menerima Hadiah Nobel

Apa yang kemudian dilakukan Ahmed H. Zewail selepas menerima Hadiah Nobel?

George B. Kauffman, seorang profesor emeritus kimia di California State University, Amerika Serikat, menulis, "Selepas meraih Hadiah Nobel, Zewail mengubah arah penelitiannya. Ia menciptakan spektroskopi bentuk baru dengan menggunakan pulsa elektron yang sangat cepat. Bukan menggunakan cahaya. Elektron ini, misalnya, dapat melacak bagaimana lapisan grafit bergetar seperti drum. Selama beberapa dekade, istri saya, Laurie, dan saya telah memublikasikan kisah-kisah para pemenang Hadiah Nobel dan mengkaji karya-karya mereka. Memandang Ahmedlah yang pertama kali menelepon, sebagai tanggapan atas permintaan saya yang biasa saya lakukan kepada penerima Hadiah Nobel baru-baru ini untuk mendapatkan informasi (tidak ada yang pernah menelepon sejak itu), kami pun kemudian kerap berhubungan. Kami pun melakukan review atas karya-karyanya ketika terbit.

Meskipun kaum Muslim membentuk lebih dari 23 persen dari populasi dunia, pada 2015, namun hanya 12 pemenang Hadiah Nobel yang beragama Islam. Sedangkan 193 (22 persen) dari total 855 penerima hadiah tersebut adalah orang-orang Yahudi, meski mereka hanya terdiri kurang dari 0.2 persen dari populasi dunia. Pada saat Donald Trump dan orang-orang semacam ia sedang mengecoh kaum Muslim, teladan Zewail dapat memberikan dorongan atas pendidikan bagi para penganut berusia muda dari tiga agama Ibrahim untuk memulihkan kembali Era Keemasan Islam sebelumnya (abad ke-8 hingga abad ke-13).

Periode ini secara tradisional dipahami dimulai sejak masa pemerintahan Dinasti "Abbasiyah (di bawah pimpinan) Harun Al-Rasyid (786-809 M). (Yaitu) dengan diresmikannya Bait Al-Hikmah di Baghdad, di mana para cendekiawan dari berbagai belahan dunia, dengan latar belakang budaya yang beragam, menerima amanat untuk mengumpulkan dan menerjemahkan semua pengetahuan klasik dunia ke dalam bahasa Arab. Periode ini secara tradisional dikatakan berakhir dengan runtuhnya Dinasti "Abbasiyah karena invasi pasukan Mongol dan Penghancuran Baghdad pada 1258.

Sebagian dari visi Zewail adalah mengembalikan Dunia Arab ke tempat historisnya sebagai pusat pembelajaran. Ucapnya, "Orang Barat kerap melupakan sejarah prestasi pendidikan Mesir yang panjang. Universitas Al-Azhar, pusat pembelajaran Islam, mendahului Oxford dan Cambridge selama berabad-abad. Universitas Kairo, yang didirikan pada 1908, telah menjadi pusat pencerahan bagi seluruh dunia Arab."

Namun, Zewail mengakui, Timur Tengah kini tertinggal, "Sebagian dunia yang memelopori sains dan matematika, selama Zaman Kegelapan Eropa, kini sirna dalam masa kelam illiterasi. Dengan Israel sebagai pengecualian, hasil ilmiah di kawasan ini paling rendah. "Ketimbang pergi ke luar negeri untuk meraih gelar doktor seperti yang ia lakukan, ia ingin menciptakan lembaga penelitian mutakhir yang independen di Mesir. Bersama dengan sejumlah tokoh lain, ia membentuk Zewail City of Science and Technology in Cairo. Sebuah kota yang ia rancang seperti Caltech di Mesir. "

Peletakan batu pertama kota itu dimulai pada 2000. Namun, proyek tersebut terbengkalai hingga digulingkannya Presiden Mesir Hosni Mubarak pada 2011. Zewail, sebagai Ketua Dewan Pembina, memelopori penggalangan dana, utamanya dari pribadi-pribadi. Zewail City mulai membuka ruang kelas bagi para mahasiswa pada 2013. Kini, ada 535 mahasiswa yang terdaftar."

"Kembali" ke Mesir

Sayang, ilmuwan Muslim yang satu ini berpulang pada 2 Agustus 2016, di Pasadena, California ketika berusia 70 tahun. Kala itu, ia baru saja pulih dari tumor kanker di tulang belakangnya dan dinyatakan sehat dan boleh bepergian bebas. Karena itu, ia berencana kembali ke Mesir bersama kerabatnya untuk menikmati Idul Adha pada 12 September 2016. Namun, ia berpulang sebelum maksudnya untuk menikmati Idul Adha di negaranya terwujud. Jenazahnya diterbangkan ke Mesir untuk dilakukan pemakaman secara militer pada Ahad, 7 Agustus 2016.

Di sisi lain, perjalanan hidup "Bapak Femtokimia" yang pemegang dwi-kewarganegaan ini, AS dan Mesir, memberikan sebuah pelajaran indah: hadiah ilmiah paling bergengsi di dunia pun dapat diraih siapa pun dan dari manapun, meski berasal dari desa tertinggal sekalipun. Ini seperti halnya yang dialami Prof. Dr. Ahmed H. Zewail, seorang ilmuwan Muslim penerima sekitar 40 gelar doctor honoris causa, dari berbagai universitas di berbagai penjuru dunia. Dan, hal itu seperti ditekankan ilmuwan yang pernah menjadi anggota Majelis Penasihat di Bidang Sains dan Teknologi Presiden Obama, selain menjadi guru besar kimia dan fisika Linus Pauling Chair dan Direktur Physical Center for Ultrafast Science & Technology di Caltech dalam karyanya di atas, Voyage through Time, Walks of Life to the Nobel Prize:

"Keberhasilan dalam kehidupan mungkin berhasil diraih siapa pun. Di jenis kehidupan mana pun. Namun, apa pun peringkat dan profesi seseorang, sebenarnya keberhasilannya ditentukan oleh bantuan sejumlah orang lain: usaha bersama. Dengan mengakui kenyataan ini, maka si kaya harus membantu si miskin.

Untuk menjadi bagian dari sebuah sebuah negara yang beradab dan sebuah planet yang beradab, setiap orang harus berharga. Ketika seorang manusia, atau sebuah negara, atau malah juga suatu kawasan tidak menikmati keuntungan ilmu pengetahuan dan mendapatkan status terbelakang, maka buruk akibatnya. Bukan hanya karena biaya dan penderitaan manusia. Namun, juga karena dampak mereka yang negatif terhadap dunia sebagai keseluruhan. Termasuk dalam akibat ini adalah direndahkannya nilai-nilai sosial dan budaya, di samping kian meningkatnya kekerasan dan terorisme."

Terima kasih, Prof. Dr. Ahmed H. Zewail!



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top