Internasional

Lahan ganja

Perusahaan Australia Bantah Beri Rp6 T Buat Olah Ganja di Afghanistan

Perusahaan Australia Bantah Beri Rp6 T Buat Olah Ganja di Afghanistan

JAKARTA, SPOST.id - Cpharm, sebuah perusahaan konsultan medis kecil di Australia, mendadak terjebak dalam pusara publikasi setelah Taliban mengklaim perusahaan bakal mendanai US$450 juta atau setara Rp6,67 triliun untuk pengolahan ganja jenis hashish di Afghanistan.

Mengutip Reuters, beberapa media sebelumnya melaporkan bahwa perwakilan Cpharm yang berbasis di Australia telah bertemu dengan pejabat kontra-narkotika di Kementerian Dalam Negeri Negeri Kangguru. Pertemuan itu guna membahas rencana mengolah ganja secara legal menjadi produk obat-obatan dan krim.

Cpharm Australia, yang merupakan bisnis keluarga dengan 17 staf dari pusat regional Maitland, menyatakan tidak pernah berbicara dengan Taliban. Mereka juga mengklaim tidak memiliki transaksi di luar negeri atau terlibat dalam usaha ganja.

"Kami hanya mencoba mencari cara apa yang akan kami lakukan untuk menghentikannya," kata Kepala Keuangan Cpharm Australia Tony Gabites seperti dikutip, Kamis (25/11/2021).

Gabites menyebut bahwa pihaknya menerima 40 atau 50 panggilan hari ini. Ia menyayangkan publikasi sepihak yang tidak mengkonfirmasi kebenaran pernyataan Taliban kepada pihaknya.

"Ini di luar kendali kami dan semuanya adalah kebohongan, para media tidak melakukan tugasnya sebelum mempublikasikan berita," papar dia.

Gabites menduga laporan keterlibatan pihaknya berasal dari cuitan dari akun terkait Taliban yang menyebut sebuah perusahaan bernama Cpharm, merujuk pada organisasi lain dengan nama sama.

Perusahaan menyatakan pihaknya mempertimbangkan jalan hukum jika mengalami kerugian bisnis karena salah publikasi dengan transaksi Taliban tersebut.

"Sebagian besar perusahaan yang kami tangani akan melihat artikel itu dan tertawa," kata Gabites.

Sebagai informasi, kabar keterlibatan Cpharm Australia dilaporkan oleh media Afghanistan, Pajhwok Afghan News dan diberitakan oleh outlet media global seperti Times of London.

Sedangkan Cpharm Australia sendiri merupakan usaha jasa saran medis produk farmasi dan bukan produsen, sehingga tidak dapat mengambil kontrak manufaktur. Gabites juga menyebut pihaknya tak punya uang sebanyak US$450 juta. (Jo)



sumber : CNN Indonesia
0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top