Opini

Ahmad Rofi’ Usmani

Kluyuran Mengunjungi Masjid Sentral Seoul

Kluyuran Mengunjungi Masjid Sentral Seoul

Oleh: Ahmad Rofi" Usmani

"MAS. Anak-anak kok hanya sebentar di Baleendah, ya."

Demikian keluh istri beberapa tahun yang lalu. Ya, mengeluh demikian sambil menikmati sarapan pagi. "Mereka hanya dua hari di sini. Kangen saya belum hilang, mereka sudah balik ke Jakarta."

"Sekarang, anak-anak kan punya kegiatan sendiri-sendiri. " jawab saya. "Mereka tidak leluasa lagi seperti dulu, ketika mereka masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB)."

"Bagaimana kalau kita kluyuran bersama mereka ke Seoul di bulan November nanti. Sehingga, kita dapat bersama mereka. Dalam waktu yang agak lama. Di samping agar tetap dapat menjaga silaturahmi dan kluyuran, biar mereka dapat menimba ilmu dan pengalaman dari orang-orang Korea. Satu minggu saya kira cukup," sahut istri. "Di awal bulan itu, saya akan pergi ke sana. Untuk mendalami penanganan para penderita diabetes. Anak-anak kan penggemar film Korea. Tapi, mereka harus bayar sendiri. Juga, mereka kita minta untuk menyusun rancangan perjalanan. Dengan dana sehemat mungkin."

"Setuju. Mereka kan sudah mulai terbiasa kluyuran. Dengan dana terbatas. Apalagi, kalau gak salah, saat itu kan Tahun Baru Hjiriah. Jadi, anak-anak tidak cuti terlalu lama. Bagaimana jika mereka berdua kita angkat jadi tour organizer dan tour leader?"

"Bagus. Dalam perjalanan tersebut, kita jadi anak buah saja. Mereka berdua kan tahu sedikit bahasa Korea dan tentang negara itu."

Begitu kami (saya dan istri) memberitahu mereka tentang rencana tersebut, dua putri kami pun dengan semangat menyambut tawaran itu. Meski mereka berdua harus merogoh duit dari kocek mereka sendiri. Memang, mereka sejak lama mendambakan dapat kluyuran ke Negeri Ginseng.

Jasa Pasukan Turki

Segera, mereka pun mencari tiket pesawat terbang menuju Seoul. Dengan harga yang paling murah, tentu saja. Akhirnya, mereka mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia dengan rute Jakarta-Seoul. Dengan harga sekitar lima juta rupiah untuk tiket pergi-pulang. Selepas kami mendapatkan tiket, seorang kakak ipar dan istrinya ikut bergabung. Namun, karena tiket promo Garuda Indonesia sudah habis, mereka kemudian membeli tiket Air Asia, dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Seoul. Dengan harga yang tidak banyak bedanya dan waktu yang juga hampir bersamaan.

Lantas, beberapa hari sebelum berangkat, saya dan istri sudah menerima "itinerary", alias panduan perjalanan, dari anak sulung kami. Lengkap sekali. Sedap. Meski telah menerima panduan tersebut, saya tetap memelajari secara cermat Seoul, ibukota Korea Selatan. Baik apakah tentang cuaca, transportasi, kultur, makanan, adat istiadat, jadwal shalat, dan lain-lain sebagainya di kota metropolitan Korea itu.

Dari berbagai informasi yang saya dapatkan: kota yang dihuni sekitar 10 juta anak manusia itu, di bulan November, mulai menikmati musim gugur. Kisaran suhu udara di awal bulan itu antara 6-15 derajat celcius. Cuaca yang dingin bagi orang Indonesia yang terbiasa dengan cuaca sekitar 30 derajat celcius. Karena itu, berbeda dengan perjalanan ke Belanda beberapa waktu sebelumnya, persiapan kami kali ini lebih lengkap lagi: ditambah dengan jaket, baju anti-dingin, payung, dan beberapa perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menghadapi cuaca yang tidak bersahabat. Apalagi, menurut perkiraan badan meterologi, pada saat kepulangan kami dari sana, cuaca akan turun drastis menjadi sekitar -1. Dingin kan. Tentu saja. Apalagi, buat orang Indonesia yang sepanjang tahun menikmati cuaca sedang dan sedap!

Seain itu, dari berbagai informasi yang saya pelajari, tentang Korea, akhirnya saya menjadi tahu, Islam tersebar di Negeri Ginseng itu pada zaman modern ini, antara lain, lewat beberapa orang Korea yang tinggal di Manchuria. Mereka pindah ke kawasan tersebut antara 1895-1928. Yaitu ketika Korea di bawah pendudukan Jepang.

Kemudian, selepas Perang Dunia II usai, banyak orang Korea yang kembali dari Manchuria. Ternyata, banyak di antara mereka yang memeluk Islam. Kala itu, mereka belum terorganisasi dengan baik dan belum lagi memeroleh tempat di masyarakat setempat. Hal itu berlangsung hingga Perang Korea meletus. Ketika itu, pasukan Turki bertugas di Negeri Ginseng tersebut sebagai bagian dari Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-16. Nah, Pasukan Turki tersebut membawa serta seorang Imam untuk mereka. Mengetahui hal itu, orang-orang Muslim Korea pun meminta izin untuk berhubungan dengan Pasukan Turki tersebut. Dari sinilah Islam kian menguat di Korea Selatan.

Lantas, pada September 1955, dibentuklah sebuah organisasi Islam. Hal itu kemudian diikuti dengan pemilihan Imam Korea pertama, pembentukan Organisasi Maasyarakat Islam Korea, dan pembangunan Masjid Seoul. Sebelas tahun kemudian, Organisasi Masyarakat Islam diperluas dan ditata kembali sebagai Yayasan Muslim Korea. Baru setahun selepas itu, pemerintah Korea mengakui secara resmi kehadiran Islam di sana dan secara resmi pula didaftarkan di Kementerian Kebudayaan dan Informasi. Untuk memeroleh status legal.

Setelah visa Korea Selatan di tangan, sesuai dengan jadwal perjalanan yang tertera di tiket, kakak dan istrinya berangkat lebih dahulu dengan Air Asia dari Bandara Soetta. Dari Jakarta, mereka transit lebih dahulu di Kuala Lumpur. Sedangkan kami berempat berangkat dari bandara yang sama pada pukul 23.30, naik pesawat terbang Garuda Indonesia.

Setelah urusan check-in rampung, tour leader kami (putri sulung kami), memerintahkan kepada kami, "Untuk urusan imigrasi, kita gak usah lewat petugas imigrasi. Kita melewati "autogate" saja."

""Autogate", apa itu?" tanya saya. Penasaran dan penuh tanda tanya.

"Urusan imigrasi kita urus sendiri," jawab putri sulung kami. "Caranya: kita lapor dulu kepada petugas, untuk melaporkan data kita. Setelah paspor kita didata, kita dapat melintasi gerbang imigrasi yang tanpa petugas setiap kali mau pergi ke luar negeri. Enak dan gampang kan!"

"O, gitu," sahut saya. Sambil tersenyum.

Ternyata, problem muncul ketika empat jari istri dipindai: gagal, gagal, dan gagal. Duh! "Ini mungkin karena Ibu jarang mencuci dan masak, hehehe," goda putri sulung kami kepada ibunya. "Akibatnya, goresan tangan Ibu lembut sekali dan sulit dipindai. Mencuci dan masaklah Ibu, hehehe."

Baru setelah dipindai berkali-kali, empat jari istri baru berhasil disidik. Ya, karena istri, kala itu, masih bertugas penuh sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam, dan belum pensiun, kegiatannya demikian sibuk. Karena itu, dapat dikatakan ia jarang mencuci dan memasak.

Taksi Gelap

Kemudian, pada pukul 23.10, dengan mata yang mulai terkantuk-kantuk, kami pun dipersilakan masuk ke dalam perut pesawat terbang Garuda Indonesia dengan no. penerbangan GA 878. Ohoi, nyaman juga pesawat terbang penerbangan yang pada 2012 meraih no. 1 "The World"s Best Regional Airline" dan pada tahun itu menerima award "The World"s Best Economy Class".

"Hebat juga Garuda Indonesia," gumam saya, dalam hati. Sambil memasuki perut pesawat Airbus 330 yang melayani rute Jakarta-Seoul. "Kini, Garuda Indonesia bukan lagi "garuda" yang kerap dipandang dengan sebelah mata. Malah, tahun ini, untuk kelas ekonomi, Singapore Airlines pun harus mengakui keunggulan Garuda Indonesia."

Perjalanan antara Jakarta-Seoul, sekitar 5.700 kilo meter, lebih banyak kami lewati dengan memejamkan mata. Hal itu karena perjalanan kami berlangsung di tengah malam. Dan, setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam 20 menit, pesawat terbang yang kami naiki pun mendarat di Incheon (baca: incon) International Airport, sebuah bandara megah dan modern yang mengusung tagline, "More than an Airport, Beyond Expectation". Gagah benar tagline itu!

Incheon International Airport memang megah, modern, dan memang "beyond expectation": seluruh rangkaian proses turun dari pesawat, pemeriksaaan imigrasi, dan klaim bagasi berlangsung cepat dan dan tidak merepotkan. Dan, ketika kami melangkah menuju "Exit 5", dari jauh kami melihat kakak dan istrinya juga sedang menuju "exit" yang sama, setelah menempuh perjalanan dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Seoul dengan pesawat terbang Air Asia dengan no. penerbangan AK 1389 dan D7506. Alhamdulillah.

Eh, begitu berada di ruang tunggu bagian luar, seorang warga Korea mendekati kami berenam. Tahu kami sedang menimbang-nimbang kendaraan yang paling tepat menuju Seoul, antara jumbo taxi, bus, atau kereta api, orang itu menawarkan kami untuk naik mobil miliknya.

Setelah menimbang-nimbang, apalagi tempat menginap kami terpisah lumayan jauh: saya, istri, dan putri bungsu kami menginap di kawasan Seodaemun, dekat Stasiun Subway Hongje, sedangkan kakak, istri, dan putri sulung kami menginap di kawasan Jong-no, kami pun menerima tawaran orang itu. Apalagi, setelah dihitung, harga yang ia tawarkan lebih murah: 80,000,- won. Lebih murah ketimbang jika naik jumbo taxi yang mematok harga 90,000,- won. "Ternyata, di Incheon pun ada taksi gelap, hehehe," gumam saya dalam hati kala itu. "Tidak hanya di Bandara Soetta saja."

Setelah membeli T-Money, kartu untuk kluyuran di seputar Seoul, segera kami berenam pun naik mobil Carnival orang Korea itu. Dan, setelah menempuh jarak sekitar satu jam, sampailah kami berenam di Kota Seoul (baca "soul"), disambut musim gugur yang begitu indah. Karena mengantuk dan kecapaian, sebelum kluyuran di seputar Itaewon siang harinya, kami pun beristirahat.

Usai beristirahat, beberapa lama, sesuai dengan jadwal kluyuran hari itu, tujuan kami pertama-tama adalah seputar Distrik Itaewon. Baru kemudian ke tempat-tempat lain di seputar Seoul. Mengapa Distrik Itaewon yang dijadikan sebagai sasaran pertama kluyuran kami?

"Hari ini kan Tahun Baru Hijriah. Karena di Itaewon terdapat Masjid Sentral Seoul, maka distrik itu merupakan tempat paling tepat menjadi tempat pertama yang kita kunjungi di Kota Seoul hari ini," urai putri sulung saya.

"Naik apa kita ke sana? Pakai metro atau bus?" tanya saya.

"Kita manfaatkan saja bus gratis yang disediakan tempat menginap ini. Menghemat dana dan nyaman, hehehe," jawab tour leader tidak resmi itu. "Di Itaewon, selain mengunjungi Masjid Sentral Seoul, kita akan makan siang di sana. Kali ini, kita makan di luar. Tampaknya, di antara kita ada yang kelaparan, karena naik pesawat terbang yang tidak menyajikan makanan kecuali dengan membeli, hehehe."

"Saya sudah makan, lo. Beli di pesawat terbang," sahut kakak ipar sambil senyum-senyum. "Tapi, Pakde masih lapar, sih. Mungkin, karena belum menikmati makan pagi di pesawat terbang."

"Selanjutnya, setelah itu, selama dalam perjalanan ini, kita akan menikmati masakan yang dibikin Bude Us dan Ibu," urai putri sulung saya lebih lanjut. "Selain lebih hemat, juga kehalalannya lebih terjamin. Kemudian, setelah dari Itaewon, kita lihat nanti: apakah kita naik bus atau metro. Atau jika kuat, kita jalan kaki saja. Dari Itaewon, kita akan menuju tempat penginapan di Jong-no. Nanti sore, kita akan ke Gwanghamun Square. Oke?"

"Siap, komandan," sahut saya dalam hati. Begitu mendengar uraian putri sulung saya tersebut. Sambil menatap keluar jendela dan melihat lingkungan di seputar tempat menginap kami.

Menaati perintah komandan perjalanan, segera kami berlima pun berkemas dan bersiap-siap untuk "menikmati" Seoul. Naik metromini yang disediakan tempat menginap kami. Kami berenam, setelah sampai di Seoul, memang masih menyatu dan belum memisahkan diri di tempat penginapan masing-masing. Saya sendiri segera menyiapkan jaket, payung, dan air minum yang saya campur tablet vitamin C dosis tinggi (untuk menjaga ketahanan tubuh dalam menghadapi musim dingin) ke dalam "tas tempur" saya, alias tas punggung saya. Kemudian, ketika metromini yang akan kami naiki telah siap, kami pun segera naik metromini dengan rute: Hongje Subway Station-Limkwang Tower East-Seoul Subway Station-Itaewon-Ace Tower-YTN Tower-Namdaemun-Hongje Subway Station. Kali ini, tujuan kami adalah Halte Itaewon.

Dipandu Dua Cewek Libya

Sepanjang perjalanan, menuju Itaewon, pandangan saya terarah ke berbagai sudut Seoul. "Enak juga jadi anak buah," gumam saya dalam hati. "Tinggal ikut ke mana tour leader melangkah dan bebas menikmati perjalanan."

Ya, menjadi anak buah, dalam perjalanan, memang enak. Ke mana tour leader pergi, kita tinggal mengekor di belakangnya. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, yang menempatkan saya dalam posisi sebagai tour leader, kali ini kedudukan sebagai anak buah benar-benar saya nikmati. Karena itu, kali ini saya lebih banyak menempatkan diri sebagai fotografer dadakan. Apalagi, setelah melihat tour leader dan wakilnya selalu siap dengan smartphone mereka. Untuk mengecek sampai di lokasi mana metromini yang kami naiki berada.

Seoul saat itu, di musim gugur, tampak begitu indah. Daun-daun yang sedang menguning dan memerah membuat kota itu kian menawan. Sementara di sepanjang jalan, daun-daun tampak bertebaran dan berserakan di mana-mana, di antara cuatan gedung-gedung dengan aneka ragam gaya dan model. Tradisional maupun modern. Melihat pemandangan demikian, entah kenapa tiba-tiba dalam benak saya mencuat kenangan ketika masih muda dan sedang menimba ilmu di Kairo, Mesir pada awal 1980-an. Kenangan ketika malam, selepas belajar bahasa Perancis di Mounira sampai sekitar pukul sembilan malam, harus berjalan setengah berlari, untuk menghindari terpaan angin musim dingin sambil menikmati dan menghitung satu demi satu bangunan-bangunan di jalan-jalan yang dilintasi.

Setelah menyusuri berbagai sudut Seoul selama sekitar 40 menit, metromini yang kami naiki pun berhenti di sebuah halte yang berada di depan sebuah Restoran McDonald. Suasana di Itaewon-ro itu, memang, agak berbeda dengan suasana di berbagai penjuru lainnya Seoul. Suasana "internasional" lebih mewarnai distrik itu. Khususnya "nuansa" Timur Tengah dan Asia Selatan. Toko-toko di distrik ini, memang, lebih "warna-warni" ketimbang di bagian-bagian lain Kota Seoul.

Distrik Itaewon sendiri, semula, merupakan desa kecil yang menjadi tempat tinggal para pegawai pemerintahan dari Dinasti Joseon. Kemudian, selepas Perang Dunia II, distrik itu menjadi "pangkalan" tentara Amerika Serikat. Dan, kini, distrik itu tetap mempertahankan "suasananya" yang "warna-warni". Tidak aneh, karena itu, jika di distrik ini pula banyak terdapat kaum Muslim. Lengkap dengan warung, resto, maupun toko yang mereka miliki. Juga, sebuah masjid besar yang kemudian disebut Masjid Sentral Seoul.

Meski tour leader dan wakilnya sudah membawa smartphone, ternyata kami agak kesulitan mencari lokasi Masjid Sentral Seoul yang beralamat di 732-21 Hannam-dong, Yongsan-du, Seoul. Kemudian, ketika kami kebingungan dalam mencari alamat masjid tersebut, tiba-tiba muncul dua cewek cantik asal Libya. Lantas, ketika mereka berdua saya tanya, dengan bahasa Arab tentu saja, tentang alamat masjid tersebut, eh mereka malah begitu bersemangat mengantarkan kami menuju ke alamat tersebut. Melihat hal itu, putri sulung saya pun berucap, "Hebat juga Bapak. Dua cewek cantik kok mau-maunya ngantar kita hanya karena diajak ngomong bahasa Arab oleh Bapak, hehehe."

"Lo, itulah kelebihan Bapak," canda saya. "Asal Ibu gak cemburu saja."

"Gaklah!" jawab istri.

Kedua cewek cantik asal Libya itu mengantarkan kami hingga belokan menuju Usadan-ro. Sebelum berpisah, mereka saya minta untuk berfoto bersama kami. Eh, lagi-lagi kedua cewek itu dengan penuh semangat memenuhi permintaan kami.

Selepas itu, kami pun berjalan pelan di sepanjang jalan itu. Oh, di jalan itu ternyata banyak saudara-saudara kita dari Malaysia yang sedang berbelanja di toko-toko yang bertebaran di sepanjang jalan itu. Memang, di distrik ini ada sebuah guest house Malaysia, dengan harga yang relatif terjangkau. Apalagi, di sekitar guest house itu dengan mudah terdapat berbagai sajian dan masakan halal. Guest house itu selalu penuh. Karena itu, untuk mendapatkan kamar di situ, kita perlu memesannya jauh hari.

Shalat di Masjid Sentral Seoul

Selepas menyusuri Usadan-ro 10 gil, Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul yang menanjak seperti jalan-jalan kecil di Dago, Bandung, akhirnya sampailah kami di Masjid Sentral Seoul. Masjid yang pembangunannya dimulai pada Oktober 1974 tersebut tegak di atas lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi. Alhamdulillah, suatu kebahagiaan luar biasa terasakan dalam hati saya, karena dapat menikmati Tahun Baru Hijriah 1435 H di sebuah masjid nun jauh di sebuah negara non-Muslim. Kami pun melaksanakan shalat Zuhur dan Asar di masjid yang dilengkapi dengan sebuah madrasah untuk anak-anak: "Prince Sultan Islamic School". Kalau tidak keliru, salah seorang ustadz di madrasah itu berasal dari Indonesia. Sayang, kami tidak bertemu dengannya.

Selepas dari berkunjung ke masjid yang terdiri dari tiga lantai dan luas 427 meter2 itu, lapar karena dingin mulai menyapa perut kami. Kami pun segera menuju Murree Resto: Korea Muslim Food yang terletak di sebelah kiri masjid yang mulai diresmikan pada 21 Mei 1976 M itu, di Usadan-ro 10 gil. Resto itu milik seorang India Muslim yang beristrikan seorang Muslimah Korea. Resto ini cukup terkenal. Wow, lezat sekali msakan korea yang mereka sajikan. Utamanya kimbibab, buldogi, dan kimchi. Rasanya, bila kembali lagi ke Seoul, saya akan kembali ke resto itu, insya Allah.

Selepas lelah menikmati Distrik Itaewon, kami kemudian melanjutkan perjalanan, dengan naik subway alias metro menuju ke "Operation Room Two". Alias tempat penginapan kedua yang diinapi putri sulung saya, pakde, dan budenya. Setelah beristirahat di sana, program kami sore hari itu menuju ke Gwanghamun Square dan menikmati King Sejong Museum serta berbagai tempat yang telah kami susun lainnya selama satu minggu kluyuran di Korea Selatan.

Kluyuran sekeluarga memang perlu. Ya, perlu dan tidak harus dengan biaya mahal. Sedap dan sehat, kan!@ru


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top