Opini

Kota Fez

Menjenguk dan Mengintip Kota Fez, Maroko

Menjenguk dan Mengintip Kota Fez, Maroko

Oleh: Ahmad Rofi" Usmani

"ALHAMDULILLAH. Akhirnya, "mimpi" saya untuk mengunjungi Fez tercapai!"

Demikian gumam rasa syukur saya hari itu. Tiga tahun yang lalu. Tentu, saya bersyukur sekali, kepada Allah Swt., karena akhirnya mimpi lama saya, untuk dapat berkunjung ke Fez serta sebuah masjid yang kemudian juga menjadi universitas tertua di Dunia Islam, terealisasi. Sejak ketika masih menimba ilmu di Mesir, antara 1978-1984, saya memang telah "bermimpi" untuk menjenguk Fez. Namun, baru tiga tahun yang lalu, Fez berhasil saya "peluk". Sedap, kan!

Lo, masjid dan tertua di Dunia Islam? Ya. Masjid dan universitas di Fez, Maroko itu, memang, merupakan masjid dan universitas paling tua di Dunia Islam. Malah, lebih tua ketimbang Masjid dan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Apalagi, yang memiliki ide pendirian masjid dan lembaga pendidikan tersebut adalah seorang perempuan: Fathimah Al-Fihriyah. Selain itu, di Kota Tua itu juga beberapa makam ulama kondang. Antara lain, Makam Ayeikh Abu Al-Abbas Ahmad Al-Tijani, pendidi Tarikat Tijaniyah, dan Makam Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Daud Al-Shonhaji, pengarang Kitab Al-Ajurumiyah yang terkenal di pesantren-pesantren di Indonesia.

Tiga tahun yang lalu itu, selepas capai menempuh perjalanan antara Marrakesh-Fez, sekitar 536 kilo meter, akhirnya saya dan rombongan tiba di kota yang didirikan pada 789 M itu. Sepanjang perjalanan dengan naik bus, meski didominasi gurun pasir, saya sengaja tidak memejamkan mata. Ya, tidak memejamkan mata. Untuk menikmati pemandangan yang belum tentu akan saya nikmati lagi. Itulah kebiasaan saya, setiap kali menikmati kluyuran ke berbagai belahan dunia: "berusaha sekuat mungkin sedikit tidur dan sebanyak mungkin mengamati secara langsung berbagai pemandangan dalam perjalanan".

Apalagi, ketika bus yang kami naiki memasuki sebuah kota indah yang berada sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut serta terkenal dengan sebutan "Swiss Kecil": Ifrane. Nah, di kota yang dibangun Perancis pada 1929 tersebut terdapat sebuah universitas dengan desain yang menawan: Universitas Al-Akhawain. "Al-Akhawain", dalam bahasa Arab, berarti "Dua Saudara". Maksudnya, universitas tersebut diresmikan "Dua (Penguasa) Bersaudara": (Raja Al-Hasan II dari) Maroko dan (Putera Mahkota) Arab Saudi (kala itu, Abdullah bin Abdul Aziz), pada 1995.

Pendirian Universitas Al-Akhawain tersebut dirancang untuk mengembangkan Kota Ifrane menjadi "Kota Taman" dan "Kota Mahasiswa". Dengan kata lain, sejak hadirnya universitas tersebut, kota kecil indah itu dirancang mengikuti jejak langkah Oxford dan Cambridge di Inggris, Heidelberg di Jerman, Louvain di Belgia, dan Princeton ser New Haven di Amerika Serikat. Karena itu, sayang bila kluyuran ke Maroko tanpa "menjenguk" kota yang berada di atas puncak Pegunungan Atlas Tengah tersebut. Sungguh!

Mutiara Kota di Dunia Islam

Kemudian, begitu bus yang kami naiki memasuki Fez, betapa hati saya bergetar. Ya, bergetar, karena "bertemu" dengan sebuah kota di tengah gurun pasir yang telah berusia lebih dari 1.300 tahun. Usia yang cukup panjang. Lebih tua ketimbang Kairo, Mesir, yang "lahir" pada 972 M lo.

Lembaran sejarah menuturkan, Fez, merupakan sebuah kota pantai yang berada di sisi timur laut Maroko yang berdekatan dengan kawasan Andalusia. Pertama kali didirikan Idris I, pendiri Dinasti Idrisiyah, pada 789 M, kota ini didirikan di tepi kanan Wadi Faz. Karena itu, kota baru itu kemudian diberi nama "Madînah Fâz", yang berarti "Kota Faz". Dua puluh tahun kemudian, tepatnya pada 809 M, Idris II, mendirikan kota kedua di tepi kiri Wadi Faz yang dilengkapi dengan sebuah istana.

Kota lama Fez, sejak terjadinya pemberontakan kaum "Pinggiran Cordoba" pada 818, menjadi tempat tinggal sekitar 800 keluarga asal Andalusia. Kelak, karena itu, tempat itu disebut ""Udwah Al-Andalûs". Sedangkan kota kedua dihuni para imigran Arab dan kaum Yahudi dari Qairawan, Tunisia. Kota kedua ini, kelak, disebut ""Udwah Al-Qarawiyyîn". Kedua kelompok penghuni ini baru berhasil disatukan ketika kota ini jatuh di bawah kekuasaan Dinasti Al-Murabithun pada abad ke-11 M. Meski demikian, kedua corak yang mewarnai kota itu tetap bertahan. Hingga kini.

Kota yang satu ini pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam dan mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-13 M dan 14 M. Kala itu, kota ini di bawah kekuasaan Bani Marin, dengan penduduk sebanyak sekitar 200.000 orang. Lantas, pada 1276 M, dinasti tersebut melengkapi kota tersebut, yang kemudian disebut Fâz Al-Bâlî (Fez Lama), dengan sebuah kota satelit yang disebut Fâz Al-Jadîd (Fez Baru). Kota satelit tersebut disiapkan sebagai pemukiman para pangeran dan keluarganya.

Pada abad berikutnya, kota yang tegak padanya sebuah universitas Islam terkenal tersebut, yaitu Universitas Al-Qarawiyyin (berdiri pada 859 M), mengalami kemunduran. Ini karena dua dinasti yang memerintah Maroko kala itu, Dinasti Sa"adi dan Filali, memilih Marrakesy sebagai ibukota pemerintahan mereka. Namun, Fez kemudian meraih fungsinya kembali sebagai pusat pemerintahan ketika berada di bawah kekuasaan penguasa Dinasti "Alawiyah. Posisi ini bertahan hingga abad ke-19 M.

Sejak dulu, Fez terkenal sebagai sebuah kota yang memiliki karakter dan budaya Islam. Perannya dalam sejarah kebudayaan Islam, di Dunia Islam belahan barat, tidak tertandingi kecuali oleh peran Qairawan, Tunisia dan Cordoba, Andalusia. Meski demikian, Fez juga memiliki karakterik dan semangat Maghrib. Baik dalam bentuk, struktur, maupun teknik bangunan-bangunannya. Ini tampak jelas sampai pun pada salah satu sudut bangunan-bangunannya yang paling kecil. Di samping itu, Fez merupakan salah satu kota di dunia yang memiliki karakteristik khas.

Fez, seperti telah dikemukakan, terdiri dari dua kota. Malah, barangkali terdiri dari lebih dari dua kota. Sejarah kota bermula kala Pangeran Idris bin Abdullah Al-Hasani tiba di Maghrib, dalam usaha menghindarkan diri dari pengejaran para penguasa Dinasti Abbasiyah di Irak. Kemudian, dengan bantuan seorang maulâ bernama Rasyid, sang pangeran berhasil meraih dukungan suku Urba, sebuah suku Berber. Ia kemudian menjadikan Welilla sebagai ibukota pertama pemerintahannya ketika ia ditabalkan pada Kamis, 11 Ramadhan 172 H/12 Februari 789 M. Kemudian, lewat seruannya, sejumlah suku: Zenata, Zawwaghah, Zawawah, Limayah, Sidratah, Misratah, Ghiyatsah, Nafazah, Miknasah, dan Ghumarah bergabung dengannya.

Selepas Dinasti Idrisiyah tegak, Idris I mulai membangun Fez di atas puncak Gunung Zalig yang terletak di tepi Sungai Sebu yang kini disebut Sungai Fez. Kota tersebut didirikan di pemukiman dua suku Berber, yaitu suku Zawwaghah-yang dikenal dengan sebutan Bani Al-Khair-dan suku Bazghatin. Karena itu, Fez kemudian tumbuh menjadi sebuah kota dengan corak Berber dalam bentuknya yang awal. Bangunannya dibuat dari tebu dan kayu. Selain itu, di lokasi yang sama, Idris I juga mendirikan sebuah Masjid Fez pertama yang kala itu disebut Masjid Al-Asyyah (Masjid Para Syeikh). Dalam perkembangannya selanjutnya, masjid tersebut kemudian dibangun kembali oleh Idris II, putra Idris I. Sehingga, masjid tersebut kemudian memiliki bentuknya yang mirip dengan bentuknya yang ada dewasa ini.

Fez yang pertama kali dibangun itulah yang kelak dikenal dengan sebutan "Udwah Al-Andalusiyyin, dinisbatkan kepada orang-orang Andalusia yang berdatangan ke Maghrib pada 817 M. Mereka datang ke Fez karena diusir dari Cordoba pada masa pemerintahan Al-Hakam II. Orang-orang Andalusia itulah yang kemudian mengembangkan kota agraris Berber tersebut menjadi sebuah kota yang bercorak Arab-Andalusia. Sedangkan Fez kedua didirikan Idris II ibn Idris I pada 192 H/808 M. Hal itu terjadi ketika penguasa tersebut berhasil meninggalkan sepenuhnya Welilla dan kemudian menjadikan Fez sebagai ibukota pemerintahan.

Lokasi kota terakhir tersebut terletak di seberang kota pertama yang dipisahkan sebuah oase. Kala itu, kota terakhir tersebut disebut Al-Aliyah. Namun, dengan bergulirnya waktu, kota tersebut juga disebut Kota Fez. Dalam perjalanan waktu berikut, kedua kota itu pun menyatu. Masing-masing disebut "udwah. Yang pertama disebut "Udwah Al-Andalusiyyin. Sedangkan yang kedua disebut "Udwah Al-Qarawiyyin, dinisbatkan kepada orang-orang Qairawan yang bermukim di situ dan kemudian mengembangkannya.

Masjid Terbesar dan Terindah

Seperti kota-kota yang tumbuh di berbagai penjuru Dunia Islam, Fez juga dilengkapi dengan sebuah masjid raya. Nah, masjid raya pertama di kota tersebut adalah Masjid Qarawiyyin, yang berlokasi di "Udwah Al-Qarawiyyin. Masjid terbesar dan terindah di Fez tersebut, semula, merupakan sebuah masjid kecil yang disebut Masjid Al-Syurafa". Masjid keci ini didirikan Idris II di "Udwah Al-Qarawiyyin, ketika penguasa itu mendirikan Fez.

Lembaran sejarah mencatat, Masjid Al-Syurafa" didirikan pada saat yang sama dengan tahun pendirian Masjid Al-Asyyah, yaitu pada 808 M. Kedua masjid tersebut tetap dalam kondisi awalnya hingga 859 M, ketika kedua distrik Kota Fez tersebut kian menggeliat akibat kemakmuran yang dinikmati Maghrib Utara kala itu. Kala itu sendiri, Dinasti Idrisiyah sedang dalam puncak masa keemasannya, dari sisi budaya, meski dari sisi politik sedang menghadapi problem.

Dalam situasi dan kondisi yang demikian itu, kala itu di Fez ada seorang warga Qairawan, Tunisia, bernama Muhammad bin Abdullah Al-Fihri, berpulang. Pengusaha tersebut, setelah bermukim di Maghrib, berhasil menjadi seorang hartawan. Harta warisannya kemudian jatuh ke tangan dua orang putrinya: Fathimah bin Muhammad Al-Fihri dan Maryam binti Muhammad Al-Fihri. Kedua perempuan itu terkenal sebagai orang-orang yang gemar berbuat amal kebaikan.

Ketika Fathimah binti Muhammad Al-Fihri melihat kondisi Masjid Qarawiyyin kala itu, ia pun berkeinginan untuk membangun kembali dan memperluas masjid tersebut. Fathimah tidak tanggung-tanggung dalam memberikan dana perluasan dan pembangunan kembali Masjid Qarawiyyin. Sehingga, ukuran masjid itu pun menjadi kian luas. Ruang utama masjid tersebut pun menjadi kian lapang. Sehingga, masjid tersebut kian mampu menampung jamaah yang lebih banyak. Shahn (ruang terbuka masjid) maupun sayap-sayapnya pun diperluas.

Selain itu, masjid itu juga dilengkapi dengan mihrab dan mimbar baru, di samping sebuah menara yang tinggi menjulang dan memiliki reka bangunan yang memikat pandangan. Menara tersebut dibangun kembali kala masjid tersebut diperluas untuk kedua kalinya pada tahun-tahun antara 955-956 M. Sehingga, setiap sisi lantai pertama masjid memiliki lebar lima meter. Sedangkan tingginya mencapai 20 meter, seluruh tubuhnya diberi hiasan dengan mosaik, dan mustakanya diberi dekorasi dengan sejumlah tuffahah (dekorasi berbentuk buah apel) yang disepuh emas. Meski luas menara kian menyempit selepas balkon pertama, namun tangga-tangga yang berada di dalam menara tersebut tetap hampir mencapai puncak menara.

Menara yang indah ini mengalami perombakan pada 688 H/1289 M, pada masa pemerintahan Pangeran Abu Ya"qub Yusuf bin Abdul Haq dari Bani Marin. Lewat perombakan terakhir tersebut, dekorasi-dekorasi dan jendela-jendelanya kian dipercantik. Sedangkan balkon-balkonnya diberi dekorasi-dekorasi balkon-balkon dalam bentuk piramid, dan mustakanya dilengkapi dengan sebuah kubah kecil. Sehingga, menara tersebut menjadi hiasan tinggi menjulang yang kian menawan bagi Fez yang indah menawan.

Masjid Qarawiyyin mengalami perluasan besar-besaran pada masa pemerintahan Pangeran "Ali bin Yusuf dari Dinasti Al-Murabithun yang berlangsung antara tahun-tahun 1133-1143 M. Lewat perluasan tersebut, ruang utamanya kian lapang. Mihrab dan mimbarnya pun diganti dengan mihrab dan mimbar baru yang sangat menawan.

Pintu-pintu masjid-khususnya Pintu Al-Fakhkharin yang kini disebut Pintu Al-Syamma"in-diganti baru dengan pintu-pintu sangat indah yang pernah dibuat kaum Muslim. Pintu-pintu tersebut dilapis dengan tembaga dan di atas masing-masing pintu dibuat sebuah kubah kecil. Sedangkan di atas mihrab dibuat sebuah kubah dari plester dalam bentuk muqarnash yang diberi dekorasi dengan ukiran yang disepuh emas dan berwarna-warni. Karena itu, ketika seseorang memandangi dekorasi syammasat kubah-kubah masjid ini, akan tampak baginya karya-karya artistik yang bisa dikatakan sebagai salah satu puncak karya-karya di bidang arsitektur Islam.

Salah Satu Tonggak Peradaban Islam

Memang, salah satu ciri khas perluasan atas Masjid Qarawiyyin yang dilakukan Dinasti Al-Murabithun adalah kubah-kubah berbentuk muqarnash di atas atap mihrab tersebut. Dekorasi tiga dimensi pada interior kubah bangunan ini (terinspirasi oleh komposisi geometri sarang lebih) merupakan struktur stalaktit yang menghiasi bangunan-bangunan berarsitektur Islam. Muqarnash mulai timbul sekitar penggal kedua abad ke-10 M, sebagai dekorasi menara, kubah, dan atap kayu di bagian utara Iran timur dan Afrika Utara. Muqarnash memiliki aneka ragam bentuk seperti bujur sangkar, setengah bujur sangkar, belah ketupat, setengah belah ketupat, buah badam, kendi, dan ibnatang berkaki dua, baik besar maupun kecil. Untuk membuat struktur yang tersebut tersusun rapi dan tepat, elemen-elemen tersebut harus memiliki ukuran yang sama.

Nah, muqarnash-muqarnash di Masjid Qarawiyyin tersebut begitu rinci dan rapi, sedangkan di atasnya terdapat dekorasi floral yang tidak kalah rinci dan menawan. Selain itu, mimbar yang terdapat di masjid yang satu ini dapat dikatakan merupakan salah satu mimbar terindah yang diketahui hingga dewasa ini. Mimbar tersebut dibuat dari kayu yang mahal, seperti kayu cendana dan kayu eboni. Dekorasi-dekorasinya diperkaya dengan gading. Sedangkan dekorasi-dekorasi sisi-sisinya dipandang sebagai salah satu karya puncak dekorasi geometrik, di samping dekorasi-dekorasi floral berbentuk dedaunan kurma nan menawan. Semua itu merupakan hasil karya para arsitek dan pengrajin Maghrib dan Andalusia. Karena itu, karya tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu contoh karya seni Maghrib-Andalusia.

Menara Masjid Qarawiyyin ini mendapatkan bentuk akhirnya pada 688 H/1289 M. Kala itu, Pangeran Abu Ya"qub Yusuf bin Abd Al-Haq, dari Bani Marin, memerintahkan untuk mencat putih menara tersebut dan kemudian melapisinya dengan plester dan mosaik serta memperkuat sambungan-sambungan batu-batunya dan menggosoknya hingga mengkilat. Ya, mengkilat bagaikan cermin.

Dengan demikian, Masjid Qarawiyyin yang unik tersebut dapat dikatakan sebagai catatan sejarah Maghrib. Ini karena pembangunan masjid tersebut dilakukan oleh sejumlah dinasti yang silih berganti berkuasa di negeri itu. Malah, beberapa penguasa Dinasti Umawiyah di Andalusia juga ikut berperanserta dalam membangunnya, ketika kekuasaan mereka berhasil menerobos hingga ke Afrika Utara pada masa pemerintahan Khalifah al-Mustanshir dan putranya: Hisyam Al-Muayyad. Para penguasa pendudukan Perancis pun telah mencurahkan upayanya untuk memeliharanya serta mengkaji pelbagai keistimewaan artistiknya. Tak aneh jika sebagian besar sumber karya ini berdasarkan hasil kajian seorang ahli arkeologi Perancis, Georges Marcais, dalam karyanya Precis d"Art Musulman.

Masjid yang didirikan Idris II pada penggal kedua abad ke-2 Hijriyah ini ternyata kemudian menjadi salah satu tonggak peradaban Islam. Juga, masjid ini merupakan buku catatan yang lengkap dalam sejarah seni Islam. Selain itu, sejak dibangun kembali oleh Fathimah binti Muhammad Al-Fihriyah, masjid ini juga menjadi sebuah perguruan tinggi di mana para guru besar memberikan kuliah-kuliahnya dengan bersandar di bawah tiang-tiang masjid. Karena itu masjid bisa dikatakan sebagai salah satu perguruan tinggi di dunia dan dapat disejajarkan dengan Masjid al-Azhar, Masjid Cordoba, Masjid Qairawan, dan Masjid Umawi di Damaskus. Seperti diketahui, semua masjid tersebut merupakan pusat peribadahan dan menara ilmu pengetahuan.

Dengan bergulirnya waktu, dewasa ini Masjid Qarawiyyin telah berubah menjadi sebuah universitas yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu modern. Hal itu mulai terjadi pada 1947. Kemudian, pada 1965, namanya berubah secara resmi menjadi Universitas Al-Qarawiyyin. Dan, dalam sejarah panjangnya, di antara para alumni Masjid-Universitas Al-Qarawiyyin adalah seorang ulama dan pemikir kondang Muslim abad ke-12, Ibn Rusyd, Maimonides, seorang filosuf Yahudi pada abad yang sama, Paus Sylvester II, seorang ahli teologi Muslim kondang abad ke-14, Ibn Al-Haj Al-Abdari, seorang pembuat peta kondang pada abad ke-16 dan Al-Idrisi yang di Barat dikenal dengan sebutan Leo Africanus,

Nah, jika Anda kluyuran ke Maroko, jangan lupa berkunjung ke Fez, ya!@ru


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top