Catatan dari Senayan

Gunung Semeru Catatan dari Senayan

Amarah di Balik Kecantikan Mahameru

Amarah di Balik Kecantikan Mahameru

GUNUNG Semeru dijuluki juga Mahameru. Gunung setinggi 3.676 itu berlokasi di antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dalam legenda Jawa, Gunung Semeru dipercaya sebagai paku Pulau Jawa. Konon dari kitab kuno "Tantu Pagelaran" yang diyakini berasal dari abad ke-15. Di dalamnya disebutkan bahwa suatu kala Pulau Jawa terombang-ambing di atas lautan.

Dalam legenda itu disebutkan Batara Guru, sang penguasa tunggal, meminta para dewa dan raksasa untuk memindah Gunung Mahameru di India sebagai paku pada Pulau Jawa agar tidak bergerak. Berdirilah kemudian Gunung Semeru nan cantik.

Letusan pertama kali Gunung Semeru tercatat pada 8 November 1818. Kalau dijajarkan menjadi "8111818". Tanggal, bulan, dan tahun yang lebih cantik daripada "212". Berpuluh-puluh aktivitas Gunung Semeru kemudian berlanjut dan yang terakhir tercatat adalah pada akhir 2020 lalu sampai Januari 2021. Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang. Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955-1957, 1958, 1959, 1960.

Gunung Semeru termasuk salah satu gunung api aktif yang kadang istirahat, lalu melanjutkan aktivitas vulkaniknya. Seperti pada 1 Desember 1977, lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 kilometer. Saat itu sawah, jembatan, dan rumah warga rusak. Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978-1989. Aktivitas vulkanik Gunung Semeru tercatat pula pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008. Pada 2008, tercatat beberapa kali erupsi.

Kita tidak harus mempercayai legenda Mahameru, tapi data yang tersaji mestinya menjadi pelajaran berharga untuk menjaga keselamatan bersama. Bahwa di balik keindahan dan kecantikan gunung itu tetap ada aktivitas kegunungapian. Bahwa Gunung Semeru tetap menyimpan potensi bahaya jika kita tak mampu menangkap pesan aktivitas panjang itu. Memang ada jeda tidak beraktivitas, tapi beberapa waktu kemudian giat kembali.

Tak ada yang bisa mencegah dan tidak ada yang mampu memprediksi kapan "amarah" Semeru muncul kembali. Di balik Mahameru ada yang Maha Agung yang maha menguasai alam raya. Letusan gunung bukan bencana alam akibat ulah manusia. Tapi kita kembali menyadari kemahaperkasaan Sang Maha Pencipta. Tugas kita adalah pandai-pandai membaca agar terhindar dari segala bencana. Antara lain dengan memitigasi saat menghadapi bencana dan selalu menjauhi kawasan yang berpotensi terdampak bencana.

Sekali lagi kita harus pandai-pandai membaca tanda-tanda (data) yang diberikan oleh sang Khalikul Alam. Setelah membaca tanda-tanda alam, kita bermuhasabah dan berikhitiar bersama.

Berempati, berdoa, dan menolong para korban yang berduka. Bersama menghindari segala petaka.*



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top