Konsultasi Hukum

Ilustrasi Hibah

Keabsahan Hibah

Keabsahan Hibah

Pertanyaan:

PADA saat ayah kami masih hidup beliau menghibahkan sebidang tanah kepada seorang sepupu kami, untuk diketahui pada waktu itu keadaan ayah kami dalam kondisi sakit sakitan. Pertanyaannya apakah hibah tersebut sah? Untuk informasi kami sekeluarga beragama Islam.

Mohon penjelasnnya. Terima kasih.

Irfan, Jakarta


Jawaban :

Terima kasih atas pertanyannya.

Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. (Pasal 171 huruf g Kompilasi Hukum Islam/KHI)

Penghibah adalah Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat, tanpa adanya paksaan. Penghibah dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 harta bendanya kepada orang lain atau lembaga di hadapan dua orang saksi untuk dimiliki. Harta benda yang dihibahkan harus merupakan hak dari penghibah. (Pasal 209 KHI)

Hibah yang diberikan pada saat pemberi hibah dalam keadaan sakit yang dekat dengan kematian, maka harus mendapat persetujuan dari ahli warisnya.

Hibah harus dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku. hibah atas tanah dan bangunan harus dilakukan dengan akta yang dibuat Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 37 ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah:

"Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku"

Dengan demikian apabila semua syarat dan prosedur hibah telah terpenuhi maka hibah yang diberikan ayah Anda kepada sepupu Anda adalah sah.

Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat.

Muhammad Nasir, SH

Advokat pada Hendropriyono & Associated, Jakarta.



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top