Opini

Prof Todung Mulya Lubis

Mengobati Kejahatan Alam

Mengobati Kejahatan Alam

Oleh: Todung Mulya Lubis

BEBERAPA kali saya mendengarkan pernyataan sejarawan kiri Vijay Prashad di COP 26. Dia mengatakan bahwa Inggris membuat India tergantung pada batubara dari dulu. Sekarang Inggris kembali menggurui agar tak lagi menggunakan batubara karena batubara mengotori udara. Oleh Vijay dikatakan mentalitas Inggris ini adalah mentalitas penjajah yang permanen dalam arti ingin terus menjajah padahal dia sudah dikalahkan di India. Inggris (dan negara-negara maju lainnya) merasa dirinya superior ingin membersihkan bumi dari emisi karbon padahal awal mula emisi karbon di dunia ini dimulai oleh negara-negara maju.

Lihat apa yang terjadi di Afrika Selatan, Congo, Namibia dan Zimbawe dimana pertambangan dilakukan oleh para penjajah. Disitu emisi dirintis. Lihat apa yang terjadi di Indonesia, Vietnam, Sri Lanka, Brazil, Argentina dan lainnya dimana kapitalisme diperkenalkan walau tak menyebut istilah kapitalisme. Tapi perdagangan dunia ditumbuhkembangkan. Di situ alam mulai dirambah, ditanami dan diperkosa. Disitu kapitalisme tumbuh, disitu emisi terjadi. Kejahatan terhadap alam sudah sejak dulu terjadi. Dan ini yang hendak diobati?

Vijay membantu saya memahami isi buku Jeff Sparrow, Crimes Against Nature: Capitalism and Global Heating (2021). Dalam buku itu digambarkan bahwa dunia ini adalah "locus delicti" yang besar dimana kejahatan lingkungan (iklim) terjadi. _The earth is not dying, it is being killed and those who are killing it have names and addresses.

Sparrow menceritakan pelaku kejahatan lingkungan yang terlibat walau mereka pasti tak mengakuinya. Industry otomotif yang melahirkan mobil adalah salah satu sumber emisi terbesar yang mengotori bumi, memanasi bumi. Di Amerika saja sekarang ada 270 juta kenderaan dalam berbagai jenis. Car culture inilah yang merasuk seluruh dunia. Ironisnya memiliki mobil dianggap sebagai memiliki kebebasan. _Their ancestors came to this country (America) for the sake of freedom and adventure. The automobile satisfies these instincts.

Bukan tak ada yang sadar bahwa emisi telah terjadi tapi siapa yang mendengar suara yang kalah dengan derum mobil? Tahun 1896 Pedro Salom menulis esai untuk kenderaan listrik sambil mengutuk asap-asap yang keluar dari mobil yang berkeliaran. Bayangkan, kata Pedro, ribuan mobil mengeluarkan asap dan bau bensin, apakah itu baik untuk publik? Tentu suaranya tak didengar.

Tahun 1908, perusahaan mobil listrik Studebaker mengatakan mobil listrik lebih baik ketimbang mobil berbensin karena dalam balapan mobil berlistrik tak perlu keluar masuk "pit". Artinya, ada kesadaran akan emisi. Ada alternative mobil yang tak menebar asap. Hanya saja pada waktu itu orang belum bicara mengenai "climate change" atau "global warming".

Sebelum Revolusi Industri setiap pabrik tergantung pada energi dari air, angin, kuda dan manusia tetapi ketika mesin uap ditemukan maka laju Revolusi Industri menjadi kencang. Pabrik juga bisa didirikan dimana saja tak tergantung kedekatannya pada sungai. Di sinilah produktivitas ditingkatkan karena mesin uap bisa sangat produktif karena dia berada dekat dengan buruh, dan ditopang pula oleh batubara. Sparrow menggambarkan perkawinan antara tenaga kerja, ilmu pengetahuan, modal dan batubara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, dan di sinilah destruksi terhadap lingkungan itu dilakukan dengan sadar. Industri tak bisa melakukan produksinya dengan tenaga air dan angin karena tidak praktis dan lamban.

Tak mungkin membuat industri tekstil di pinggir sungai karena membutuhkan energi dari air. Jadi sejak dulu sebetulnya "renewable energy" itu sudah ada Ketika Alexis de Tocqueville mengunjungi Manchester (1835) dia menggambarkan 300,000 orang bekerja di industri yang ditopang oleh mesin uap, Manchester dipenuhi oleh asap sehingga menghalangi penglihatan. Di sini tuntutan untuk kehidupan yang lebih bersih mulai terdengar tetapi politisi-politisi kaya justru berada di belakang industri sehingga gerakan membersihkan lingkungan gagal.

Buruh juga melakukan protes, "Stop the smoke", tetapi protes itu gagal. Mereka belum mengerti mengenai "gas rumah kaca" walau mereka mengerti bahaya industry yang mengotori udara karena penggunaan batubara. Capitalism prevailed? Karena kapitalisme dianggap membawa kemakmuran (prosperity).

Kapitalisme mencengkramkan kukunya sangat dalam dan ini berarti produksi, produksi, produksi. Pada sisi lain ini berarti beli, beli, beli. Bukan hanya itu. Produk sudah didesain sebagai produk yang segera "out of date" dan harus diganti. Obsolete.

Semua produk segera "obsolete" dan harus diganti dengan produk baru. Mesin iklan merayu konsumen untuk punya 2 mobil, 2 kulkas, 2 mesin cuci dan sebagainya. peningkatan jumlah produksi membuat perusahaan untung tetapi bersamaan peningkatan produksi berarti merambah kekayaan alam lebih banyak, merusak "nature" dan "environment".

Semua produk yang sudah dipakai dan dianggap obsolete pada akhirnya akan dibuang, kita bergerak ke "disposable culture". Bayangkan berapa banyak "waste" yang dibuang? Bayangkan plastik yang dibuang? Memang ada usaha untuk melarang penggunaan plastik tapi itu masih belum terwujud. Baru sekarang ini kita bicara tentang daur ulang (recycle) dan "waste management" serta "waste to energy".

Konsep "circuler economy" mulai digulirkan. Tapi gerakan ini masih dalam tahap dini. Sementara ini kapitalisme masih menjadi primadona dan ancaman terhadap lingkungan dan panas bumi tetap menakutkan. Kita masih mendengar kalimat "nature is out of fashion". Kapitalisme memang sukar berdamai dengan "nature" karena kapitalisme kiblatnya pada profit, pada produksi, pada lapangan kerja dan pada "consumerism".

Tantangan sekarang bukan semata mewujudkan apa yang dirumuskan di COP26 tetapi lebih pada mindset ummat manusia untuk mengakui bahwa ancaman "climate change" itu nyata, bukan isapan jempol. Tahun 2030 ketika deforestasi harus dihentikan, tahun 2050 ketika "carbon neutral" harus diwujudkan. Semua ini riel, semua ini "scientific". Kapitalisme memang tak akan mati tetapi ketika ancaman terhadap "climate change" ini diremehkan maka kapitalisme itu juga akan terjerembab.

Buku Crimes Against Nature ini penting untuk dibaca sebagai "moral warning" buat semua manusia karena kita sudah berada di "critical junction" dimana kita berada pada situasi "to be or not to be".

• Prof. Todung Mulya Lubis, Akademisi Universitas Indonesia, Kini Duta Besar RI di Norwegia.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top