Opini

Ponpes Al Munawwir

K.H.M. Moenawwir: Bapak Tahfizh Alquran Indonesia

K.H.M. Moenawwir: Bapak Tahfizh Alquran Indonesia

Oleh: Ahmad Rofi' Usmani

"GUS MUS. Kawulo bade menulis tentang Mbah K.H. Moenawwir. Tapi, kok belum muncul ide, nggih."

Demikian ungkap saya kepada Gus Mus. Kemarin. Ya, kemarin pagi, betapa saya ingin menulis kembali tentang seorang kiai kondang dari Krapyak, Yogyakarta. Kiai yang satu ini dapat dikatakan sebagai Bapak Tahfizh Alquran Indonesia. Disebut demikian, karena kiai yang terkenal rendah hati dan hidup sederhana inilah yang pertama kali membuka pondok pesantren yang dengan sistematis melakukan pengajaran Alquran. Utamanya dengan "konsentrasi" pada tahfizh Alquran.

Keinginan menulis tentang jasa kiai asal Yogyakarta itu, bukan hanya karena saya pernah menjadi santri pondok pesantren yang didirikan kiai yang anak keturunan seorang panglima Pangeran Diponegoro itu. Namun, juga karena K.H.M. Moenawwir adalah guru kakek saya, Kyai Usman Cepu. Ya, guru kakek saya. Kakek saya, selepas menimba ilmu selama berpuluh tahun, antara lain di Pondok Pesantren Al-Ghozaliyah di Sarang (selama lima tahun), Pesantren Langitan (selama tiga tahun), Pondok Pesantren Syaichona Cholil Bangkalan (selama lima tahun), Pesantren Tebuireng Jombang (selama tiga tahun), dan Makkah Al-Mukarramah (selama enam tahun), sebelum mendirikan Pondok Pesantren Assalam di Cepu, Jawa Tengah, "menyepuhkan" dahulu qiraah sab"ah yang kakek dalami kepada K.H.M. Moenawwir selama setahun. Baru selepas itu, kakek berani mendirikan sebuah pondok pesantren dengan "konsentrasi" Alquran dan qiraah sab"ah.

Lama, benak saya mengalami "kebuntuan". Namun, entah mengapa, sebelum melaksanakan shalat Jumat, tiba-tiba dalam benak saya seakan "mencuat pesan", "Rofi". Bukankah kau pernah ikut Tim yang menyusun buku biografi ringkas tentang K.H.M. Moenawwir?"

Pentingnya Sanad Bacaan Alquran

Begitu menyadari pesan tersebut, saya pun segera melakukan "perburuan". Ya, melakukan perburuan yang tidak jelas. Lo?

Tentu saja tidak jelas. Ini karena saya tidak yakin apakah saya masih menyimpan buku biografi K.H.M. Moenawwir itu atau tidak. Berjam-jam saya pun melakukan "perburuan" buku itu. Di antara entah berapa ratus buku di beberapa rak buku. Selepas lelah mencari, akhirnya, buku itu saya temukan. Begitu menyimak buku tersebut, bibir saya pun bergumam pelan, "Alhamdulillah. Akhirnya, buku ini saya temukan. Dengan menemukan buku ini, dapat dikatakan saya mendapatkan kembali sanad bersambung hingga kepada Rasulullah Saw. bacaan Alquran dan qiraah sab"ah yang diajarkan kakek saya. Juga, sanad bacaan Alquran saya."

Mengapa bibir saya bergumam demikian?

Ini karena sanad bersambung bacaan Alquran hingga kepada Rasulullah Saw. merupakan hal yang sangat dijaga para ulama dalam pengajaran Kitab Suci tersebut. Sahnya sanad tersebut dan ketersambungannya merupakan salah satu syarat keabsahan bacaan Alquran tersebut. Menyadari hal itu, segera sanad itu saya cari dalam buku yang diterbitkan pertama kali pada 1975 itu, dengan judul K.H.M. Moenauwir, Pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Alhamdulillah, pada halaman 6 buku itu saya dapatkan sanad bacaan Alquran yang dimiliki K.H.M. Moenawwir.

Sanad bacaan Alquran K.H.M. Moenawwir itu adalah sebagai berikut:

Allah Swt.-Malaikat Jibril-Rasulullah Muhammad Saw. (w. 11 H/ 632 M)-Utsman bin Affan (w. 23 H/ 644 M), Ali bin Abu Thalib (w. 74 H/ 639 M), Zaid bin Tsabit (w. 45 H/ 665 M), Abdullah bin Mas"ud (w. 32 H/ 652 M), dan Ubay bin Ka"ab (w. 30 H/ 650 M)-Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib bin Ruba"iah Al-Salma Al-Kufiy (w. 73 H/ 692 M)-Ashim bin Al-Najud/bin Bahdalah - Maula Bani Judzaimah - bin Malik bin Nashr bin Qa"in bin Asad (w. 128 H/ 745 M)-Hafsh bin Sulaiman bin Al-Mughirah Al-Asadi Al-Kufi-Abu Muhammad Ubaid bin Al-Shabbah bin Abu Syuraih bin Shabih Al-Kufiy Al-Baghdadiy Al-Nahlasyiy ( w. 235/ 849)-Abu Al-Abbas Ahmad bin Shahl Al-Fairuzaniy Al-Asynaniy (w. 307 H/ 919 M)-Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Shalih bin Abu Dawud Al-Hasyimiy (w. 368 H/ 978 M)-Abu Al-Hasan Thahir bin Abdul Mun"im bin Abdullah bin Ghalbun ( w. 399 H/ 1008 M)-Abu Amr Utsman bin Sa"id bin Utsman bin Umar Al-Daniy (w. 444 H/ 1053 M)-Abu Dawud Sulaiman bin Najah bin Abu Al-Qasim Al-Andalusiy (w. 496 H/ 1103 M)-Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Hudzail (w. 564 H/ 1168 M)-Abu Muhammad Al-Qasim bin Firruh bin Khalaf bin Ahmad Al-Syathibiy Al-Ru"ainiy Al-Andalusiy (w. 590 H/ 1194 M)-Abu Al-Hasan Ali bin Syuja" bin Salim bin Ali bin Musa Al-Hasyimiy Al-Abbasiy Al-Mishriy (661 H/ 11262 M)-Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Khaliq bin Ali bin Salim Al-Mishriy Al-Syafi"iy (725 H/ 1324 M)-Muhammad bin Abdurrahman bin Ali bin Al-Hasan bin Al-Sha"igh Al-Hanafiy (776 H/ 1374 M)/Abu Muhammad Abdurrahman bin Ahmad bin Ali bin Al-Mubarak bin Ma"aliy Al-Wasithiy Al-Mishriy Al-Baghdadiy (781 H/ 1379 M)-Abu Al-Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf Al-Jazariy Al-Syafi"iy (833 H/ 1429 M)-Syihabuddin Ahmad bin Asad bin Abdul Wahid al-Umyuthi Al-Syafi"iy (w. 872 H/ 1467 M)/Abu Al-Na"im Ridhwan Al-Aqabi/Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya Al-Anshariy al-Mishriy (926 H/ 1520 M)/Nashiruddin Muhammad bin Salim bin Ali Al-Thabalawi (w. 966 H/ 1559 M )/Syahadzah Al-Yamaniy/Abu Al-Futuh Saifuddin bin Atha"illah Al-Wafa"iy Al-Fadhaliy (w. 1020/ 1611)/Sulthan bin Ahmad bin Salamah bin Isma"il Al-Mazzahiy Al-Mishriy (1075 H/ 1664 M)/Aliy bin Sulaiman bin Abdullah Al-Manshuriy (w. 1134 H/1722 M)/Abu Al-Su"ud bin Abu Al-Nur-Ahmad Hijaziy/Ahmad bin Umar Al-Isqathi-Musthafa bin "Abdurrahman bin Muhammad Al-Azmiriy (w. 1156/1743)/Abdurrahman Al-Syafi"i-Ahmad Al-Rasyidiy/Ahmad bin Abdurrahman Al-Absyihi-Isma"il Basytin/Hasan bin Ahmad Al-Awadil-Abdul Karim bin H. Umar Al-Badriy Al-Dimyathiy-Sa"ad Antar Al-Dimyathi-Yusuf Hajar Al-Dimyathi-K.H. Muhammad Munawwir (lahir: 1870 dan w. 11 Jumada Al-Tsaniyah 1360 H/6 Juli 1942 M).

Berasal dari Kauman Yogyakarta

Kini, bagaimanakah kisah kisah Pondok Pesantren "Al-Munawwir", Krapyak, Yogyakarta: sebuah pesantren yang terkenal telah melahirkan sederet kiai dan pakar tentang Alquran?

Sebelum mengetahui kisah Pondok Pesantren Krapyak, ada baiknya kita cari dahulu lokasi pondok pesantren tersebut. Nah, untuk menuju lokasi pesantren tersebut, kita naik sepeda saja. Kita berangkat dari depan Gedung Agung yang terletak di pusat keramaian Kota Yogyakarta, tepatnya di ujung selatan Jalan A. Yani, dengan mengayuhkan sepeda ke arah selatan. Setelah melintasi perempatan, kita bergerak lurus saja ke arah Alun-Alun Utara.

Setelah sampai di Alun-Alun Utara tersebut, kita belok ke kanan menuju ke arah Jalan Kauman, dengan melintasi Masjid Besar Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Nah, setelah berada di Jalan Kauman, sepeda yang kita naiki kita arahkan ke arah selatan, dengan melintasi Taman Sari. Dari situ, tanyakan ke mana arah menuju Alun-Alun Selatan. Dari alun-alun tersebut, bergeraklah menuju ke arah selatan, menuju ke Jalan Panjaitan. Setelah berada di Jalan Panjaitan, kayuhlah sepeda Anda ke selatan sampai di sebelah kiri Anda menemukan sebuah plang yang bertuliskan Pondok Pesantren "Al-Munawwir". Ya, di situlah Pondok Pesantren "Al-Munawwir" Krapyak, Yogyakarta berada.

Usia Pondok Pesantren Krapyak sendiri sejatinya cukup lama: 112 tahun. Ini karena awal perjalanan pondok pesantren ini bermula pada 1910. Satu tahun sebelum itu, perintis dan pendiri pondok pesantren ini, K.H.M. Moenawwir, mulai membuka pengajian di Kampung Kauman (tepatnya di Gondomanan IV/276), setelah pulang dari Makkah dan menimba ilmu di Tanah Suci itu selama 21 tahun. Ya, selama 21 tahun menimba ilmu di Tanah Suci. Lama sekali. Di sana, antara lain, ia mendalami qiraah sab"ah kepada Syeikh Yusuf Hajar Al-Dimyathi.

Kemudian, sebelum menetap di Krapyak, putra kedua pasangan suami-istri K.H. Abdullah Rosyad dan Khodijah ini tinggal di Gading. Di situ, kiai yang pernah menimba ilmu kepada sederet kiai kondang ini, antara lain kepada Syaichona Cholil Bangkalan, Madura dan Kiai Haji Saleh Darat, Semarang, tinggal bersama kakak kandungnya: K.H. Mudzakkir (ayah Prof. Abdul Kahar Mudzakkir, seorang pahlawan nasional yang juga tokoh Muhammadiyah). Baru setahun kemudian, atas saran K.H. Said Gedongan (pengasuh Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon), K.H.M. Moenawwir pun berusaha mengembangkan pengajaran Ilmu Alquran di tempat yang lebih luas dan layak.

Tidak lama selepas itu, didapatkanlah sebuah tempat yang tepat dan layak untuk didirikan pondok pesantren. Segera, atas bantuan dari H. Ali dari Graksan, Cirebon, tanah itu pun dibeli. Satu tahun kemudian, berdirilah Pondok Pesantren Krapyak. Dengan kata lain, pada 1328 H/1910 M kiai yang pernah mendapat pesan dari gurunya, Syaichona Cholil Bangkalan, Madura, "Jadilah engkau bagaikan air, diperlukan oleh siapa pun dan kapan pun. Dan, janganlah engkau menjadi bagaikan kalajengking, siapa yang melihatnya akan ketakutan" ini pun mulai menempati tempat baru yang kemudian terkenal dengan nama Pondok Pesantren Krapyak. Lokasinya sekitar lima kilo meter di sebelah selatan Keraton Yogyakarta.

Semula, Pondok Pesantren Krapyak ini menekankan pengajaran Alquran. Baik dengan membaca langsung (bi al-nadzar) atau dengan hapalan (bi al-ghaib). Kemudian dari pelajaran Alquran bi al-ghaib tersebut dilanjutkan dengan pelajaran qirâ"at sab"ah, tujuh macam bacaan Alquran oleh Nafi" bin Na"im (berpulang pada 109 H) dari Madinah, Abu Ma"bad Abdullah bin Katsir atau Ibn Katsir (berpulang pada 120 H/738 M) dari Makkah, Abdullah bin Amir (berpulang pada 118 H/736 M) dari Syam, Abu "Amr bin Al-A"la (berpulang pada 154 H/771 M) dari Bashrah, Abu Bakar Ashim bin Abu Al-Nujud (berpulang pada 127 H/745 M), Abu "Imarah Hamzah bin Habib (berpulang pada 216 H/831 M), dan Abdul Hasan Ali bin Hamzah Al-Kisa"i (berpulang pada 189 H/805 M), dari Kufah. Melengkapi pelajaran Alquran, diberikan pula pelajaran berbagai kitab fikih, tafsir, dan kitab-kitab agama lainnya. Karena itu, dapat dikatakan, pendiri Pondok Pesantren Krapyak sebagai perintis pendidikan penghapalan Alquran secara sistematis di Indonesia. Atau dapat dikatakan, K.H.M. Moenawwir adalah Bapak Tahfizh Alquran Indonesia.

Segera, pesantren yang semula mengkhususkan pada kajian Alquran, yang qiraahnya berdasarkan qiraah Imam Ashim (Abu Bakar Ashim bin Abu Al-Najudi Al-Kufi bin Bahdalah) menurut riwayat Imam Hafsh (Abu Umar Hafsh bin Sulaiman bin Al-Mughirah Al-Bazzaz), ini berkembang. Dan, pengasuh pesantren ini kembali kepada Sang Pencipta pada 12 Jumada Al-Tsaniyyah 1361 H/26 Juni 1942 M selepas melaksanakan shalat Jumat dalam komplek pesantren yang ia dirikan.

Kini, dapat dikatakan, beberapa pesantren tahfizh Alquran besar di Jawa bermuara kepada K.H. Moenawwir. Misalnya Pesantren Yanbu" Alquran, Kudus (didirikan K.H. Arwani Amin), Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo (didirikan K.H. Ahmad Umar), Pesantren Al-Asy"ariyah, Kalibeber, Wonosobo (didirikan K.H. Muntaha), Pesantren Kempek, Cirebon (didirikan K.H. Umar Sholeh), Pesantren Benda Bumiayu, Brebes (didirikan K.H. Suhaimi), dan Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta.

Kini, "taburan" benih pengajaran Alquran yang dirintis cucu K.H. Hasan Bashari itu (yang dikenal pula dengan sebutan Kasan Besari), ajudan dan sekaligus komandan pasukan Pangeran Diponegoro untuk Daerah Kedu ketika menghadapi pasukan Belanda, telah membuahkan hasil yang luar biasa: ribuan penghapal Alquran bermunculan di Indonesia. Semua itu, tidak lepas dari jasa K.H.M. Moenawwir bin Abdullah Rosyad dari Yogyakarta. Rintisan dan teladan kehidupan yang indah!@ru






0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top