Opini

Syaefuddin Simon

Glorifikasi

Glorifikasi

Oleh: Syaefudin Simon

Prof. Teuku Jacob, Rektor UGM (1981-1986), pernah menulis di koran Kedaulatan Rakyat Yogya, tentang sifat manusia yang suka mengglorifikasi dan melebih-lebihkan dirinya dan nenek moyangnya. Yang luar biasa, mereka suka mengglorifikasi guru, panutan, atau kyainya setelah berpuluh-puluh tahun sang guru atau ulama itu wafat. Makin lama, glorifikasi itu makin hebat. Sampai sang tokoh yang diglorofikasi seperti menjadi makhluk dongeng.

Pak Jacob memberi contoh, kalau orang sudah sangat tua, biasanya ia akan "melambungkan" rentang usianya. Ia melebih-lebihkan umurnya. Ngakunya berusia 150 tahun. Padahal setelah diteliti umurnya baru 120 tahun.

Begitu pula tentang pengalamannya. Setelah meninggal, anak cucunya akan melebih lebihkan lagi. Makin lama ia wafat, akibat "glorifikasi" dari anak cucu atau cerita penduduk setempat, jadilah ia manusia legenda dan mitologi.

Tulis Jacob, ada saja kisah-kisah aneh yang menyertai mitos itu. Padahal ia sebetulnya hidup biasa-biasa saja. Jika ada keistimewaan dari aspek fisik dan psikis, hal itu masih dalam koridor ilmu pengetahuan dan bisa diteliti secara ilmiah.

Saya punya adik ipar, yang dianggap kyai sepuh oleh masyarakat Tegalgubug. Adik ipar saya ini -- sebut saja M -- tiap hari Minggu mengaji kitab Ihya Ulumuddin untuk orang kampung. Saya pernah kaget -- ada salah seorang santri bercerita, M kalo tidur mulutnya terus berzikir. Bayangkan, kata si santri, M tidur aja berzikir. Apalagi kalo melek malam. Padahal saya tahu, kalo tidur, M biasa saja seperti orang lain -- bahkan sering ngorok.

Kini, M nyaris menjadi manusia mitologis di usianya yang sekitar 70-an. Ia jadi tempat bertanya apa saja. Mulai soal perkawinan sampai pendidikan dan tentu saja keislaman. Saat pandemi merebak Juli 2021, M sering diminta pendapatnya soal memandikan mayat. Ia berpendapat orang yang wafat karena corona tetap harus dimandikan dan disalatkan seperti mayat biasa. Alasannya, kematiannya bukan karena perang fi Sabilillah. Dampak fatwanya itu, banyak korban tewas karena tertular corona.

Glorifikasi juga terjadi pada kisah wali songo di Pulau Jawa. Terus makin seru lagi glorifikasi terhadap para wali yang menjadi guru para wali di Jawa. Syekh Abdul Kadir Jailani misalnya, saking hebatnya, bergelar Sulthonul Auliya (rajanya para wali). Salah satu mitologinya, jangankan orangnya, sandal syekh Abdul Kadir saja bisa terbang, dan bisa mengepruk orang kafir.

Ujung dari glorifikasi ini tertuju kepada Nabi Muhammad. Nabi misalnya digambarkan bisa menyetop perjalanan matahari. Awan kumulus misalnya, dikisahkan, selalu melindungi Nabi dari panasnya terik sang surya.

Nabi misalnya, dikisahkan lahir pada tahun Gajah. Padahal dari pelacakan historis, yang disebut tahun gajah (saat terjadi penyerangan Kota Mekah oleh Kerajaan Abessinia) terjadi 20-an tahun sebelum Nabi lahir. Setelah sekian ratus tahun Nabi wafat muncul mitologi lain: Nabi Muhammad itu maksum. Hidupnya suci bersih tanpa noda dan dosa.

Akibat konsep ismah (kemaksuman) ini, kehidupan Rasul sulit dilacak secara historis. Karena, jika ada kisah sejarah yang "menceritakan" Nabi sebagai manusia biasa, langsung ditolak oleh kaum muslimin. Karena tidak sesuai kemaksuman Muhammad.

Padahal Qur'an sendiri menyatakan secara gamblang, Muhammad adalah orang biasa. Bahkan beliau pernah ditegur Allah waktu bertemu dengan orang buta yang nylonong di tengah pertemuan Rasul dgn para pemimpin Quraish.

Saat itu nabi bermuka masam -- kok orang buta (Abdullah bin Maktum) nyolong di tengah pertemuan penting (dengan Abu Sufyan, pemimpin kaum Quraish). Tuhan pun langsung menegur nabi.

Peristiwa Rasul sebagai manusia biasa juga pernah terjadi ketika salah seorang sahabat tengah menanam kurma. Nabi saat itu menganjurkan bibit kurmanya harus ditanam dan dipupuk begini begitu. Petani kurma itu kemudian nurut saran Rasul. Ternyata pohon kurmanya banyak yang mati.

Sahabat itu komplain. Kenapa pohon kurma banyak yang mati setelah aku tanam mengikuti saran Rasulullah? Tanya sang sahabat kepada Muhammad. Rasul pun berkata : Antum a'lamu biumuuri ddunyaakum (kamu lebih tahu urusan duniamu).

Hadist inilah yang kemudian banyak dirujuk kaum muslim modernis dalam urusan kehidupan dunia sekarang. Terutama dalam melakukan ijtihad hukum Islam (fikih) agar lebih kompatibel dengan zaman. (*)

Syaefudin Simon, penulis, alumnus Fakultas MIPA UGM.



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top