Opini

Masjid Salman ITB

Kitab Ihyâ", Masjid Salman ITB dan Kaligrafi Masjid Istana Kepresidenan

Kitab Ihyâ", Masjid Salman ITB dan Kaligrafi Masjid Istana Kepresidenan

Oleh: Ahmad Rofi" Usmani

"ALLÂHUMMA ighfir lahumâ warhamhumâ wa"âfihimâ wa"fu anhumâ wanawwir qabrahumâ walahumâ Al-Fâtihah."

Demikian gumam pelan bibir saya. Beberapa hari yang lalu. Ya, bibir saya berdoa pelan demikian, ketika saya sedang membungkus dan menyiapkan pengiriman 16 jilid Kitâb Ihyâ" "Ulûmiddîn kepada seorang sahabat di Jakarta. Ya, 16 jilid Kitâb Ihyâ" "Ulûmiddîn yang saya terjemahkan selama sekitar enam tahun tanpa mengenal lelah. Ya, tanpa mengenal lelah, antara 2005-2012.

Malah, ketika sedang asyik menerjemahkan karya puncak (masterpiece) Imam Abu Hamid Al-Ghazali itu, saya ikuti jejak langkah sufi, pemikir, dan penulis agung asal Thus, Iran itu: tidak kerap melakukan kontak sosial. Termasuk dengan istri dan anak-anak saya. Hari demi hari saya "bertapa" di depan laptop. Akibatnya, kala itu, istri kerap bercanda sambil tersenyum kecil, "Saya ini istri dia yang ke-17. Betapa kerap dia tidak ingat kalau saya selalu mendampinginya." Duh!

Usai berdoa, benak saya tiba-tiba "melayang-layang". Ya, "melayang-layang", karena teringat dua sosok yang saya doakan tersebut: Allah yarham Pak Achmad Nou"man dan Allah yarham Bang Ammar Haryono.

Lo, apa kaitan dua sosok itu dengan Kitâb Ihyâ" "Ulûmiddîn yang saya terjemahkan itu?

Tentu saja, ada kaitannya yang sangat erat. Mereka berdualah yang meminta saya untuk menerjemahkan karya besar itu. Mereka menginginkan, karya besar itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dicerna dan dimengerti. Utamanya, oleh generasi muda. "Rofi". Terjemahkanlah ulang Kitâb Ihyâ" ini. Ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dicerna orang seperti saya ini. Namun, tetap akurat. Saya kan tidak menguasai bahasa Arab seperti Rofi". Juga, biar para mahasiswa ITB mudah menyimak karya besar Imam Al-Ghazali ini. Bukan hanya para mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo saja," ucap Pak Achmad Noe"man.

Dengan segala kelemahan saya, permintaan dua sosok itu akhirnya saya laksanakan. Karena itu, Pak Achmad Nou"manlah yang kemudian membikinkan cover alias sampul depan karya besar tersebut, selain sederet cover buku-buku lain. Sedangkan Bang Ammar Haryono yang mencetak dan menerbitkannya lewat Penerbit Pustaka, Bandung yang ia komandani. Padahal, biayanya sangat mahal: 16 jilid, kan!

Yang menarik, sekitar dua bulan sebelum Pak Achman Nou"man berpulang, arsitek beken itu meminta diantarkan Bang Ammar Haryono ke pesantren yang saya asuh bersama istri: Pesantren Nun, Baleendah, Bandung. Tampak, betapa bahagia dua orang itu ketika berada di pesantren. Mereka berlama-lama "menikmati" suasana pesantren. Seakan mereka tidak mau pulang. Dan, sekitar dua bulan selepas itu, Pak Achmad Nou"man berpulang. Kemudian, beberapa lama kemudian, Bang Ammar Haryono "mengikuti jejak langkah" Pak Achmad Nou"man. Seakan, kedatangan mereka berdua ke pesantren, kala itu, merupakan pamitan kepada kami. Pamitan untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji"ûn.

Tak aneh, karena itu, ketika saya sedang membungkus 16 jilid terjemahan karya besar Imam Abu Hamid Al-Ghazali tersebut, tiba-tiba "bayang-bayang" sosok Pak Achmad Nou"man mencuat dalam benak saya. Tidak lama kemudian, dalam benak saya muncul kembali "bayang-bayang" pertemuan saya dengan maestro masjid yang lahir di Garut, pada 10 Oktober 1924 itu. Pada suatu pagi sekitar empat belas tahun yang lalu.

Pagi itu, ketika kedua tangan saya sedang asyik "menenun" ide-ide yang sedang "menggeliat" dan "membara" dalam benak, tiba-tiba telpon genggam saya berdering. Ya, berdering tanpa henti. Saya pun segera mengangkat telpon genggam itu. Begitu telpon genggam itu saya angkat, tiba-tiba suara ramah dan santun dari seberang pun mengucapkan salam.

Sejenak saya termenung dan kemudian berusaha mengingat-ingat suara itu. Segera saja, saya mengenali suara yang telah saya kenal semenjak lama, tapi lama tidak saya dengar. Itulah suara Ir. Achmad Noe"man (alm.), seorang arsitek senior Indonesia yang terkenal sebagai perancang Masjid Salman ITB dan sederet masjid lainnya itu. Entah mengapa, saya senantiasa merasa bahagia setiap kali mendengar suara tokoh berwajah teduh, santun, ramah dan kuat dalam memegang nilai-nilai yang mulia itu.

Masjid Tanpa Kubah

Entah mengapa pula, tiba-tiba dalam benak saya "melenting" bayang-bayang Masjid Salman ITB. Yang telah lama tidak saya kunjungi. Sebuah masjid yang tidak megah, tapi indah, dengan kubah terbalik di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Lembaran sejarah menorehkan, masjid yang tegak di Jalan Ganesha, Bandung itu dirancang sosok yang menelpon saya pagi itu.

Berdirinya masjid itu sendiri bermula dari bangkitnya kesadaran kehidupan beragama pada sebagian civitas akademika, dosen, mahasiswa, dan karyawan ITB. Kondisi yang demikian itu kemudian mendorong mereka untuk mengusahakan berdirinya sebuah masjid. Cikal bakal semangat ini bersemi sekitar 1374 H/1953 M, dengan dilakukannya beberapa kegiatan. Lantas, pada 1379 H/1959 M, mulai dibentuk suatu kepanitiaan. Yaitu Panitia Pembangunan Masjid Kampus ITB. Nah, sebagai arsitek, Pak Achmad Noe"manlah yang dipilih. Lahirlah kemudian, sebuah rancangan masjid tanpa kubah. Tidak seperti masjid-masjid lain pada umumnya.

"Tahun 1959, saya merancang Masjid Salman. Waktu itu (saya) sudah lulus dari ITB. Ketika itu, yang namanya arsitek masih dapat dihitung dengan jari... Untuk merancang masjid itu, saya pertama-tama membongkar-bongkar literatur arsitektur. Kemudian, akhirnya saya naik haji. Usai naik haji, saya mampir ke Regent Park di London. Waktu itu Regent Park belum jadi. Lalu ke Bonn, Muenchen, dan Istanbul. Ke Hagia Sophia. Saya mencari acuan. Akhirnya, saya menemukan Surah Al-Taubah ayat 108: janganlah kita membuat masjid yang mengakibatkan riya". Gitu kan. Saya justru mencari nilai-nilai yang universal. Yang transendental. Maka, saya hilangkan itu bentuk kubah. Memang, berat juga waktu menghilangkah kubah dari rancangan saya. Itu kan ciri kita," tutur Pak Achmad Noe"man suatu ketika. Tentang proses perancangan Masjid Salman ITB.

Pada tahun berikutnya, tepatnya pada Jumat, 1 Dzulhijjah 1379 H/27 Mei 1960 M, sekitar 41 tahun yang lalu, diselenggarakanlah shalat Jumat pertama di Aula Barat ITB. Kemudian, pada Dzulqa"dah 1382 H/Maret 1963 M, kepanitiaan tersebut dikukuhkan menjadi suatu badan hukum. Yaitu Yayasan Pembina Masjid Salman. Dengan ketua umum pertamanya Prof. TM. Soelaeman. Nama masjid ini sendiri, "Salman", diambil dari nama seorang sahabat Nabi Muhammad Saw. berdarah Persia, Salman Al-Farisi: seorang arsitek pembuatan parit pertahanan dalam Perang Khandaq yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw. masih hidup. Tepatnya, ketika terjadi pada Perang Ahzab (koalisi) yang terjadi pada Syawwal 5 H/Maret 627 M.

Ide Salman Al-Farisi yang cemerlang itu menjadi inspirasi bagi Presiden Sukarno (Bung Karno), presiden pertama Republik Indonesia, ketika memberi nama masjid itu. Bung Karno sendiri, begitu melihat rancangan masjid yang kubahnya terbalik itu, langsung menyetujui rancangan Ir. Achmad Nou"man itu dan membubuhkan tanda tangan persetujuannya atas rancangan itu. Menara adalah bangunan pertama yang didirikan. Lantas, pada Jumat, 21 Rabi" Al-Awwal 1392 H/5 Mei 1972 M, bangunan ini resmi dibuka Rektor ITB kala itu, Prof. Dr. Doddy Tisna Amijaya (alm.). Dalam perjalanan masjid ini selanjutnya, berbagai kegiatan marak dilakukan dalam rangka memakmurkan masjid ini.

Nah, selepas mengenali suara itu, saya pun segera membalas salam arsitek yang telah merancang banyak masjid itu dan menanyakan tentang kesehatannya.

"Ya, alhamdulillah, saya juga sehat. Rofi", bolehkah saya mengganggu?" jawab Pak Achmad Noe"man. Dengan nada suara lamban dan pelan.

"Silakan, Pak."

"Begini, Rofi". Saat ini saya sedang merancang desain kaligrafi Masjid Baiturrahim, di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta. Rancangan itu kini sudah rampung. Saya ingin Rofi" meneliti desain kaligrafi itu. Saya tidak ingin ada kesalahan pada desain itu. Karena itu, saya harap, desain itu Rofi" teliti cermat dengan melihatnya langsung."

"Insya Allah, desain itu akan saya lihat dan periksa, Pak."

"Alhamdulillâh, terima kasih. Hari Sabtu saya tunggu ya. Assalâmu"alaikum."

Kaligrafi Masjid Istana Kepresidenan

Dua hari kemudian, saya kemudian menuju ke Masjid Salman ITB. Sekitar pukul satu siang, saya kemudian menuju sebuah paviliun yang terletak di Jalan Ganesha. Di situlah, kala itu, kantor Pak Achmad Noe"man, PT Birano, berada.

Selepas mengetuk pintu paviliun itu beberapa lama, keluarlah tokoh yang telah saya kenal semenjak 1985 M itu. Adik seorang pelukis Muslim kondang Indonesia, Ahmad Sadali, itu sendiri yang membukakan pintu. Karena hari itu Sabtu dan libur, tiada seorang pun karyawan yang hadir. Dengan kata lain, yang ada di kantor itu hanya arsitek berwajah teduh itu. Sendirian. Ya, sendirian.

Selepas melintasi sebuah lorong, kami kemudian memasuki sebuah ruang kecil berukuran tidak lebih dari 3 x 3 meter di sebelah kanan ujung lorong. Begitu memasuki ruang yang menurut saya sangat sederhana, bagi seorang maestro seperti halnya Pak Achmad Noe"man, mata saya pun segera "menari-nari". Ke berbagai "penjuru" ruang itu.

Dalam ruang itu terdapat sebuah meja satu biro. Di meja itu penulis lihat ada sebuah Alquran dan Al-Mu"jam Al-Mufahraz (indeks Alquran). Di belakang meja itu terdapat rak-rak yang sarat dengan buku-buku arsitektur. Sedangkan di sebelah kiri meja terdapat rak yang berhiaskan sebuah pesawat radio lama. Yang sedang menyiarkan lagu-lagu jazz. Tanpa bertanya, saya segera menyadari bahwa Radio KLCBSlah yang sedang "naik pentas". Melihat dan mendengar semua itu, tiba-tiba bibir saya pun bergumam pelan, "Alquran, buku-buku arsitektur, dan lagu-lagu jazz tampaknya menyatu dalam kehidupan maestro arsitektur yang satu ini."

Tidak lama kemudian, perbincangan panjang pun mengalir tentang banyak hal. Lama. Malah, sangat lama. Dalam perbincangan itu, arsitek berwajah teduh dan ketika berbicara agak tergagap itu, antara lain, mengemukakan, saat itu beliau sedang terlibat dalam kegiatan pemugaran Masjid Baiturrahim. Di lingkungan Istana Kepresidenan di Jakarta.

Di sela-sela perbincangan itu, tokoh yang pernah menjadi anggota Corps Polisi Militer di Bandung, dengan pangkat letnan dua itu, menunjukkan beberapa desain kaligrafi yang akan menghiasi pintu utama masjid negara itu dan meminta supaya kaligrafi-kaligrafi itu diteliti. Dengan sangat cermat. Permintaan indah itu pun segera saya laksanakan. Hingga menjelang waktu shalat Asar tiba. Ketika suara azan dari Masjid Salman ITB menggema, saya pun pamit kepada Pak Achmad Noe"man. Untuk melaksanakan shalat Asar di masjid kondang itu.

Masjid Salman ITB memang tidak pernah lepas dari sentuhan tangan seorang arsitek senior Indonesia yang bernama Achmad Noe"man itu. Namun, selain merancang sederet masjid, di Indonesia dan luar negeri, arsitek yang satu itu sejatinya juga sangat lekat dengan kaligrafi Islam. Karena itu, tidak aneh bila selain merancang masjid, kaligrafi Islam, utamanya kaligrafi berlanggam kufi, setiap hari nyaris "menyita" hari-hari panjangnya. Salah satu warisannya adalah kaligrafi yang kini menghiasi Masjid Baiturrahim, di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta.

Kini, mengapa arsitek yang satu ini juga menekuni kaligrafi?

"Kita tahu, kaligrafi itu bermacam-macam. Katakanlah mazhabnya... Yang saya sukai naskhi dan tsuluts. Kufi juga senang. Kufi itu kan geometris. Kalau naskhi itu betul-betul mengikuti ujung pena yang ujungnya dipotong. Kalau dulu dari kayu, dari bambu. Jadi, kalau dimiringkan hingga datar, karakternya juga akan datar. Betapa displinnya kita ketika sedang menulis kaligrafi. Thuluts itu kan anatominya dari wau, sin, dhad, alif, proporsional begitu dengan huruf lain. Itu eksak, lo. Jadi, bukan sekadar menulis saja. Itulah yang membuat saya menyenangi kaligrafi, karena indah dan disiplin," tutur arsitek yang berpulang di Bandung pada 4 April 2016 itu.

"Ya Allah. Limpahkanlah kasih sayang dan cinta-Mu kepada Pak Achmad Noe"man dan Bang Ammar Haryono yang kini telah kembali kepada-Mu," doa pelan saya, sepenuh hati, seusai membungkus 16 jilid terjemahan Kitâb Ihyâ" "Ulûmiddîn.

"Allâhumma âmîn."


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top