Opini

Amir Uskara

Bilakah Omicron "Meledak" di Indonesia

Bilakah Omicron "Meledak" di Indonesia

Oleh: Dr. H.M. Amir Uskara M. Kes

PUBLIK waras mulai cemas. Mutan Omicron dari virus Covid-19 yang daya tularnya lebih besar dari virus Delta, kini mulai menyebar di Indonesia.

Pusat Penelitian dan Audit Nasional Perawatan Intensif menyatakan, bila seseorang "bersinggungan" dengan mutan omicron, kemungkinan terinfeksinya 60 kali lebih besar dari "hal yang sama" dengan virus Covid-19 sebelumnya (awal kemunculan virus corona penyebab pandemi). Kondisi ini, sangat rentan untuk orang yang belum divaksin.

Jangankan orang yang belum divaksin, Omicron dalam kondisi tertentu mampu "mencekik" orang yang sudah divaksin dua kali. Dari penelitian di Perancis dan Jerman, ternyata daya tempur Omicron sangat kuat sehingga mampu menjebol sel-sel tubuh manusia yang sudah dibentengi vaksin.

Hingga Selasa (11/1/2022), kasus aktif Covid-19 mutan Omicron mencapai 802 di Indonesia. Sebagian besar disumbangkan oleh pelaku perjalanan dari luar negeri (PPLN). Dari 537 kasus di Jakarta, 435 kasus berasal dari PPLN.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi puncak kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia akan terjadi pada awal hingga pertengahan Februari 2022. Lonjakan kasus itu bahkan diprediksi bisa mencapai 60 ribu kasus dalam sehari. Prediksi jumlah itu lebih tinggi dari rekor penambahan kasus harian yang terjadi pada 15 Juli dengan 56.757 kasus, akibat sebaran varian Delta yang telah menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia.

"Bisa sampai 40-60 ribu kasus ya. Diprediksi puncak kasus sekitar minggu pertama atau kedua Februari 2022," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/1).

Gelombang besar kasus positif tersebut, penyebab utamanya adalah kemunculan Omicron atau virus berkode B.1.1.529 di tengah masyarakat -- jelas Nadia.

Sementara itu, dari data harian yang dirilis Satgas Covid-19 Selasa (11/1/2022), tercatat ada penambahan kasus baru sebanyak 802 orang. Sedangkan kasus sembuh bertambah 446l. Ada pun yang meninggal 8 orang.

Hingga saat ini, Selasa (11/1) di Indonesia, secara kumulatif, terdapat 4.267.451 orang positif corona. Dari jumlah itu sebanyak 4.116.648 orang dinyatakan pulih; 6.659 orang menjalani perawatan di rumah sakit dan isolasi mandiri; sisanya 144.144 orang meninggal dunia.

Gegara kemunculan Omicron, angka Covid-19 di dunia terus meningkat. Pada 7 Desember 2021, misalnya, penambahan kasus positif per hari di dunia mencapai 692.577. Ini jumlah penambahan tertinggi sejak pandemi mereda. Tapi begitu datang Omicron, pertambahannya kembali melejit. Hingga 7 Januari 2022 -- penambahan kasus positif di dunia mencapai 2.879.121 kasus.

Di Amerika Serikat, gegara Omicron, pada 3 Januari 2022, misalnya, tercatat 1.082.549 tambahan kasus dalam sehari, nyaris tembus angka sejuta. Padahal, sebulan sebelumnya pada 3 Desember 2021 penambahan kasus harian hanya 153.245 orang. Melonjaknya kasus covid-19 di Amerika terjadi di tengah penyebaran varian Omicron yang terus meluas.

Inggris juga mengalami lonjakan kasus harian yang amat tinggi. Kasus baru covid-19 perhari pada 4 Desember 2021 mencapai 41.457 orang. Dalam sebulan, 4 Januari, melonjak menjadi 218.705 kasus. Hal ini juga terjadi di Australia. Pada 6 Desember 2021 kasus positif sehari di Australia mencapai angka 1.279. Sebulan kemudian, kasusnya naik tajam, menjadi 72.12 orang dalam sehari.

Lagi- lagi kenaikan jumlah kasus positif tersebut karena datangnya Omicron.

Kita tahu, AS, Inggris, dan Australia adalah tiga negara yang tingkat vaksinasinya sudah mencapai sekitar 70 persen. Ini sebuah kondisi yang secara epidemiologis, sudah mampu membentuk herd community atau kekebalan komunitas. Tapi faktanya? Omicron mengacak-acak asumsi baku tersebut.

Dari gambaran tersebut, masyarakat Indonesia perlu mewaspadai penyebaran Omicron. Betul, dalam satu bulan terakhir, Desember 2021, Indonesia mengalami kemajuan pesat dalam "menangkal" penyebaran covid. Ruang rawat rumah-rumah sakit mulai kosong. Wisma Atlit lengang. Tapi, sejak munculnya Omicron di tengah masyarakat, ruang-ruang rawat di rumah sakit mulai terisi lagi. Wisma Atlit pun mulai sibuk lagi.

So what! Kita harus waspada terhadap kemunculan Omicron. Sambil menanti suntikan vaksin booster untuk "memperkuat ketahanan tubuh" dari serangan Omicron, kita harus tetap disiplin mengikuti protokol kesehatan. Yaitu tetap rajin mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik; memakai masker; dan menjaga jarak dengan orang lain.

Hanya dengan cara itulah, masyarakat bisa mencegah ledakan Omicron di Indonesia. Awas, virus corona belum musnah. Masih ada di mana-mana.

*Dr. H.M. Amir Uskara M. Kes, Anggota DPR RI/Ketua Fraksi PPP


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top