Opini

Ahmad Rofi’ Usmani

Ancaman Seorang Istri dan Rintihan Seorang Ulama

Ancaman Seorang Istri dan Rintihan Seorang Ulama

Oleh: Ahmad Rofi" Usmani

"SAHABATKU. Berilah saya nasihat."

Demikian ucap seorang ulama kondang kepada salah seorang sahabatnya. Suatu hari.

"Janganlah kau biarkan dirimu menjadi pemalas," jawab sang sahabat. "Malam nanti, jalan-jalanlah kau tanpa diketahui orang lain. Dengarkanlah keluhan orang-orang lain, sebagai pengingat dirimu. Di hadapan Tuhanmu!"

Siapakah ulama yang meminta sahabatnya untuk memberikan kepadanya nasihat tersebut?

Al-Hasan Al-Bashri, itulah sosok ulama tersebut. Ia adalah salah seorang tokoh dari generasi tabi"ûn dan sufi terkemuka pada abad 2 H/8 M. Ia lahir di Madinah pada 21 H/642 M, pada masa pemerintahan "Umar bin Al-Khaththab, dengan nama lengkap Abu Sa"id Al-Hasan bin Abu Al-Hasan Yassar Al-Bashri. Namun, kemudian keluarganya pindah ke Bashrah, selepas terjadi Perang Shiffin pada 35 H/656 M. Sehingga, ia lebih terkenal dengan sebutan "Al-Bashri" (yang asal Bashrah).

Ibu Al-Hasan Al-Bashri, seorang hamba sahaya Ummu Salmah, istri Nabi Muhammad Saw., bernama Khairah binti Sa"id bin Zaid bin "Amr. Sedangkan ayahnya yang berdarah Persia, Firuz yang kemudian berganti nama Yassar, memeluk Islam ketika kaum Muslim menaklukkan Irak dan mantan budak Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Sebelum memeluk Islam, menurut Muhammad bin Jarir Al-Thabari, sang ayah beragama Nasrani. Di sisi lain, ketika Al-Hasan Al-Bahsri masih bayi, ia beberapa kali disusui istri Nabi Saw. itu.

Al-Hasan Al-Bashri tumbuh dewasa di Kota Nabi: Madinah Al-Munawwarah. Dalam lingkungan yang saleh dan mendalam pengetahuan agamanya. Tak aneh bila selama bermukim di Kota Suci itu, ia bertemu tidak kurang dari 70 sahabat Nabi Muhammad Saw. Di samping terkenal berpengetahuan agama yang mendalam, ia juga terkenal hidup jauh dari pesona duniawi dan rendah hati. Di antara ucapannya yang terkenal adalah, "Dunia ini bagaikan seorang janda bongkok dan telah lama ditinggal mati suaminya." Juga, ia berpesan, "Barang siapa mencintai seseorang yang saleh, ia bagaikan mencintai Allah."

Sikap hidup guru pendiri Aliran Mu"tazilah, Washil bin "Atha", yang demikian itu dipicu perasaan takutnya kepada Allah SWT, perasaan sedih, dan renungan untuk meraih ridha Allah dan surga-Nya di akhirat kelak. Mengenai hal ini AbdulWahhab bin Ahmad Al-Sya"rani, dalam karyanya Al-Thabaqât Al-Shughra, berucap, "Diri Al-Hasan Al-Bashri penuh diliputi rasa takut. Sehingga, neraka seakan hanya diciptakan untuk dirinya seorang."

Tak aneh bila karena kehidupan Al-Hasan Al-Bashri yang amat saleh, ia pernah melakukan oposisi keagamaan terhadap rezim Dinasti Umawiyah, lewat sepucuk surat yang ia kirimkan kepada "Abdul Malik bin Marwan, penguasa ke-5 dinasti tersebut. Dalam suratnya itu, ia menuntut agar rakyat diberi kebebasan untuk melakukan apa yang mereka anggap baik. Sehingga, dengan begitu, ada tempat bagi tanggung jawab moral. Suratnya tersebut bernada menggugat praktek-praktek zalim penguasa Dinasti Umawiyyah. Namun, ia dibiarkan penguasa, karena wibawa kepribadiannya yang saleh dan pengaruhnya yang amat besar kepada masyarakat luas. Pada 42 H/662 M tokoh yang terkenal petah dalam berbicara, tegas dalam berpendapat, dan pemberani dalam bersikap ini ikut serta dalam pasukan Abdullah bin Amir, Gubernur Bashrah, dalam berbagai ekspedisi militer sampai ke Kabul, Afghanistan. Dan, ia baru kembali ke Bashrah pada 53 H/673 M dan menetap di kota itu sampai ia berpulang.

Nah, ketika malam tiba, mengikuti pesan sahabatnya, ulama yang berpulang pada Kamis, 1 Rajab 110 H/10 Oktober 728 M itu pun diam-diam jalan-jalan di seputar Bashrah: kota pertama yang dibangun kaum Muslim atas perintah Umar bin Al-Khaththab. Batu pertama kota ini dipancangkan Utbah bin Ghazwan Al-Mazini pada 16 H/635 M. Utbah adalah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw.

Lantas, ketika kedua kaki Al-Hasan Al-Bashri telah terasa sangat berat, untuk diayunkan, ia pun duduk di bawah balkon sebuah rumah berlantai dua. Ya, di bawah balkon sebuah rumah berlantai dua. Ketika ia sedang duduk di situ, tiba-tiba ia mendengar seorang istri sedang berucap kepada suaminya di balkon tersebut:

"Suamiku! Sudah 50 tahun kita tinggal dalam satu rumah kita ini. Baik apakah dalam suka maupun duka, aku selalu bersabar. Selama itu pula, aku tidak pernah bertindak yang tidak benar. Aku pun tidak pernah mengeluhkan kepada orang tentang dirimu. Kepada siapa pun. Apalagi berselingkuh. Karena itu, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu karena satu hal: jika kau berselingkuh dan mencintai perempuan lain selain diriku. Ini karena aku telah melakukan segala-galanya untuk dirimu. Karena itu pula, perhatikankanlah diriku dan jangan sekali-kali kau memerhatikan perempuan lain!"

Mendengar ucapan yang demikian, Al-Hasan Al-Bashri sejenak tertegun dan termenung. Lalu, ia segera berdiri dan bergegas pulang ke rumahnya.

Begitu berada di dalam rumah, Al-Hasan Al-Bashri pun langsung bersujud, menangis, dan merintih pelan, "Ya Allah, Tuhan kami. Ampunilah hamba-Mu ini. Cemburu perempuan itu mengingatkan aku pada titah-Mu dan cemburu-Mu, "Aku akan mengampuni semua dosa kalian. Namun, jika dalam pikiran kalian ada sedikit kecenderungan kepada yang selain Aku dan kalian menyekutukan Aku dengan yang selain Aku, Aku tidak akan mengampuni kalian." Ya Allah, betapa aku masih kerap cenderung kepada yang selain Engkau dan menyekutukan Engkau dengan yang selain Engkau: dengan kedudukanku, rasa banggaku sebagai ulama, ilmuku, dan lain-lain sebagainya. Ampunilah aku, duhai Tuhan Yang Sangat Pemaaf…."

Bagaimanakah halnya dengan kita? (*)


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top