Seni budaya

Wayang

Wayang Millehnium Wae Ki Mujar Sangkerta

Wayang Millehnium Wae Ki Mujar Sangkerta

Oleh: Raihul Fadjri

SEKELOMPOK anak muda memainkan alat musik perkusi dengan ritme dinamis, sementara tiga perempuan penari mengikuti irama itu dengan gerak tarian tradisi yang enerjik. Mereka tampil di depan deretan karya instalasi Wayang Millehnium Wae pada pembukaan acara pameran seni rupa yang digelar untuk mengumpulkan dana amal bagi warga terdampak erupsi Gunung Semeru, Jawa Timur. Pameran bertajuk Warna Cinta itu berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, 15 - 21 Januari 2022.

Karya instalasi Wayang Millehnium Wae ini merupakan karya Ki Mujar Sangkerta, alumnus Jurusan Kriya Logam dari STSRI ASRI (kini Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Wayang berukuran jumbo itu dipajang di bagian depan ruang pamer, berupa bentuk Garuda Sakti sebagai maskot dan juga sejumlah figur legendaris dalam sejarah Majapahit, antara lain Raja Hayamwuruk, Ratu Tribuana Tunggadewi, Patih Gajah Mada, Kebo Iwa, dengan sejumlah figur prajurit.


Ada juga tokoh yang diambil dari relief candi pada jaman ke-emasan Raja Wangsa Syailendra, seperti Pohon Kalpataru dengan penjaganya Kinnara-kinnari, Roro Jonggrang, Prajna Paramita Ratu Boko, dan Bandung Bondowoso.

Agak berbeda dengan bentuk wayang kulit dalam pertunjukan wayang, Ki Mujar membentuk figur-figur wayangnya dengan bentuk realis, mulai dari bentuk dada, tangan dan kaki berotot, kepala berambut panjang, kumis, jenggot, hingga bulu di kaki, dan dibalut dengan berbagai bentuk aksesoris tradisional menghias bentuk tubuh figur-figur itu.

"Saya membuat Wayang Millehnium Wae untuk memperkenalkan kepada generasi milenial untuk mencintai kesenian wayang yang sudah diakui dunia sebagai warisan budaya bangsa Indonesia," ujar Ki Mujar Sangkerta.


Menurut dia, budaya adiluhung itu wajib dipelihara, dikembangkan, dan diapresiasi agar tidak punah. "Pada wayang banyak ilmu pengetahuan yang patut kita pelajari," katanya. Mujar sejak anak-anak sudah belajar dari orang tuanya berbagai kesenian, mulai dari macapatan, gegurian, menembang, hinga menggambar.

Wayang Milehnium Wae berarti wayang yang terbuat dari plat logam aluminium saja. Ki Mujar Sangkerta yang punya nama Mujar Siswantoro adalah penggagas, kreator, dan inisiator Wayang Millehnium Wae yang dia dirikan pada 2009. Gelar Ki di depan namanya dia peroleh dari Menteri Pendidikan (1993-1998) Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro.


Pria kelahiran Jember, Jawa Timur, 55 tahun lalu ini, hingga kini sudah membuat 200-an wayang dengan bentuk 50 figur tokoh yang dia buat dari bahan plat logam aluminium. Wayang generasi 1-3 menggunakan plat aluminium yang sangat tipis sehinga mudah robek. Sedang wayang generasi ke 4-6 sudah menggunakan bahan tembaga, kuningan dan stainless. Ukuran wayang terkecil: 50 x 100 cm, ukurang sedang: 100 x 200 cm, dan ukuran besar: 300 x 300 cm.

Dengan bahan dari logam, Wayang Millehnium Wae tahan cuaca. Ketika digetarkan menimbulkan bunyi yang menggelegar dan tampak seperti hidup saat diarak di jalan raya. "Ketika kena sinar lampu muncul pantulan warna-warni yang indah dan memukau," katanya.


Ki Mujar Sangkerta kerap menggelar pertunjukan Wayang Millehnium Wae di alam terbuka berupa kubangan lumpur di sawah, di sungai, di tepi pantai, bahkan di atas jembatan tol hingga di gedung-gedung pertunjukan kelas atas.#

* Raihul Fadjri, Pemerhati Seni Rupa, Wartawan Senior.



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top