Opini

Todung Mulya Lubis

Menakar Penetrasi Sosialisme

Menakar Penetrasi Sosialisme

Oleh: Todung Mulya Lubis

OXFORD University Press punya seri buku-buku kecil yang merupakan pengantar dari isu-isu tertentu. Saya baru membaca buku Socialism tulisan Michael Newman, dan saya senang karena tulisannya jelas dan tajam. Memberi konteks yang relevan. Pada dasarnya sosialisme merupakan komitmen terhadap masyarakat egalitarian berdasarkan prinsip equality, cooperation dan social solidarity. Sosialisme adalah alternatif terhadap kapitalisme yang memang menyerahkan semua persoalan sosial ke tangan ekonomi pasar bebas (dengan asumsi terjadinya perfect market padahal yang selalu terjadi adalah imperfect market).

Tapi mewujudkan sosialisme itu juga tak mudah, dan sejarah membuktikan pergumulan ide dan praktik yang tajam dan jatuh bangun. Karenanya jangan heran melihat sosialisme yang sentralistik dan desentralistik, top down dan bottom up, visoner dan pragmatik, revolusioner dan reformis, internationalist dan nationalist, menggantungkan pada partai atau serikat buruh dan sebagainya. Ada berbagai mahzab di sini dan masing-masing menjalankan ageda yang berbeda dengan tujuan yang sama: egalitarian society.

Tak salah kalau ada yang mengasosiasikan sosialisme dengan komunisme karena tujuannya memang sama yaitu membentuk masyarakat egalitarian. Komunisme lebih tegas bicara mengenai "classless society" di mana "means of production" diambil alih oleh buruh, di mana negara memainkan peran yang dominan dan karenanya selalu disebut sebagai "command economy". Intinya perekonomian dikelola oleh negara, bukan oleh sistem ekonomi pasar. Karl Marx melalui bukunya Das Kapital memberikan pengaruh sangat kuat terhadap komunisme dan sosialisme, karena pada dasarnya Marx menolak kapitalisme yang menimbulkan individualisme, inequality dan penumpukan private property.

Tapi sosialisme bagus sebagai idea namun tak mudah untuk diwujudkan. Menyerahkan perekonomian kepada negara bisa melahirkan kekuasaan otoriter yang belum tentu mampu mengawal dan menjamin terciptanya masyarakat egaliter. Sebaliknya menyerahkan perwujudan masyarakat egalitarian ini kepada masyarakat lokal juga dihadapkan pada kendala derasnya laju perekonomian pasar yang bisa jadi menggerus sosialisme itu sendiri. Karena itu ada yang mengatakan bahwa sosialisme itu seperti sebuah utopia. Runtuhnya Tembok Berlin (1989) membuat sosialisme (komunisme) terpinggirkan. Semua orang bicara bahwa satu-satunya ideologi yang survive adalah liberalisme dan kapitalisme.

Perjalanan sejarah memberikan indikasi bahwa dalam tubuh sosialisme juga terjadi dialektika yang akhirnya membuat sosialisme terpecah dua: sosialisme (klasik atau orthodox) yang tetap melihat negara sebagai lokomotif ekonomi di mana ekonomi digerakkan, dan ini kita saksikan di Russia dan negara satelitnya di Eropa Timur termasuk Cina, Vietnam dan Cuba (command economy). Kelompok ini disebut sebagai pemerintahan komunis.

Pada sisi lain lahir apa yang disebut sosial-demokrat yang juga bertujuan menciptakan masyarakat egalitarian namun menggunakan mekanisme pasar bebas yang kelak berkembang menjadi "social market economy" di Jerman dan "welfare state" di Skandinavia. Belakangan dengan menguatnya gerakan menyelematkan lingkungan - Climate Change - maka pemerintahan baru Jerman memperkenalkan apa yang disebut "social-ecological market economy".

Perhatikan juga perkembangan di Amerika Latin di mana negara-negara Meksiko, Bolivia, Peru, Honduras, Chili dan mungkin juga Columbia dan Brazil akan diperintah oleh pemerintah sosialis yang "sosial demokrat" seperti di banyak negara Eropa Barat. Sosialisme tidak mati. Dia bermetamorfosa menjadi "sosial demokrat": berada di bumi nyata. Berbagi peran antar negara dengan pasar inilah yang menjadi sintesa menarik apalagi jika semua ini ditambahi dengan masuknya gender dan climate change ke dalam ekuasi.

Perjalanan sejarah sosialisme terus dihadapkan pada dialektika yang melahirkan percikan pikiran yang memberi warna. Misalnya ada New Left dan Green Socialism.

Saya tak akan membahas semua itu tapi saya hanya ingin menekankan bahwa sejarah Indonesia juga tak luput dari penetrasi sosialisme. Pikiran sosialisme masuk bersama paham komunisme yang datang dari Eropa, tetapi seperti di Eropa komunisme juga terbelah.

Ketika Serikat Islam dihadapkan pada "SI Merah" yang masuk ke SI adalah paham sosialisme. Ketika Partai Sosialis Indonesia (PSI) didirikan maka yang menjadi rujukan adalah sosialisme, bukan komunisme. PSI adalah sama dengan "Social Democrat" di Eropa. Malah dalam tubuh PSI ada yang disebut sebagai "Sosialis Kanan" atau "Soska" yaitu orang-orang sosialis yang percaya bahwa ekonomi pasar bisa dikelola dengan semangat sosialisme, sepenuh-penuhnya untuk kemaslahatan rakyat banyak. tak berlebihan jika saya katakan bahwa orang-orang sosialis juga memberi warna pada pertumbuhan tujuan kita berbangsa dan bernegara.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa orang-orang seperti Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir bersama kawan-kawan mereka adalah orang-orang yang bepikir mengenai keadilan sosial dan ekonomi kerakyatan. Ketika Pasal 33 UUD 1945 diperdebatkan dan dirumuskan menjelang kemerdekaan pikiran tentang sosialisme itu bisa dirasakan. Indonesia tidak merdeka dengan tujuan untuk menegakkan kapitalisme.

Ketika Soekarno bicara mengenai "Marhaenisme" saya percaya bahwa Soekarno juga bicara mengenai nasib rakyat kebanyakan yang harus terjamin ekonominya. Soekarno tidak bicara mengenai kapitalisme yang melahirkan "inequality" walau Soekarno tak menggunakan istilah sosialisme. Sudah waktunya kita membaca sejarah dengan jujur, tidak didikte oleh sikap alergik. (*)

*Prof. Todung Mulya Lubis, akademisi Universitas Indonesia, kini menjabat Duta Besar RI di Norwegia.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top