Opini

Guntur Soekarno

PSSI Tempo Dulu

PSSI Tempo Dulu

Oleh: Guntur Soekarno

SEMUA pecinta dunia sepakbola Indonesia pasti ingat betapa hebatnya dunia persepakbolaan kita beberapa dekade yang lalu, dikala itu boleh dikatakan setiap bulannya ada saja tim sepakbola tamu dari luar negeri yang datang bertanding dengan PSSI ataupun kesebelasan-kesebelasan di daerah, misalnya Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persema dan lain sebagainya. Setiap ada pertandingan di Jakarta rata-rata selalu dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden yang antusias ikut menyaksikan pertandingan-pertandingan tersebut.

Biasanya tendangan pertama secara simbolik selalu dilakukan oleh Presiden Sukarno untuk memulai pertandingan. Penulis yang juga penggemar sepakbola saat itu juga hadir di Stadion Ikada (Ikatan Atletik Jakarta) tempat pertarungan dilaksanakan. Adapun kesebelasan-kesebelasan luar negeri yang datang bertanding antara lain: Arian Gymkhana dari India kemudian ada Spartak Moscow, Dynamo Moscow dari Uni Soviet, juga kesebelasan nasional Yugoslavia yang salah satu pemainnya kemudian menjadi pelatih PSSI bernama Tony Pogacknik

Adapun pemain-pemain andalan Indonesia di kala itu antara lain adalah penjaga gawang Wilhelm Gottfried Parengkuan dan Maulwi Saelan untuk penyerang tengah Ramang yang lainnya adalah Jamiat Dahlar, Sidhi, Witarsa, Sian Liong, Tan Lionghow, Kiatsek dan banyak lagi.

Salah satu pertandingan yang selalu penulis ingat adalah pertandingan antara Persebaya melawan Dynamo Moscow dengan penyerang tengahnya Bubukin yang mempunyai tendangan "maut". Dalam suatu serangan ke gawang Persebaya, Bubukin menembakkan tendangan "maut" nya ke arah gawang Persebaya yang oleh Sidhi tembakan tadi ditahan dengan menggunakan kepalanya untuk menyelamatkan gawang Persebaya akan tetapi ia langsung jatuh pingsan untuk beberapa saat.

Arian Gymkhana dari India berhasil membuat Persija tekuk lutut dengan skor tipis 1-0 yang membuat Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta "naik pitam" dan menegur Kapten kesebelasan Persija WG Parengkuan di ruang ganti pakaian Stadion IKADA. Sedangkan penulis kalah bertaruh dengan ajudan Presiden Letnan Kolonel Sudarto yang pro kepada Arian Gymkhana dari India. Benar-benar tidak patriotis.

Untuk persiapan menghadapi Olimpiade Melbourne tahun 1956 dari jauh-jauh hari Presiden Sukarno sudah minta kepada Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito agar Yugoslavia dapat mengirimkan seorang pelatih sepakbola untuk PSSI yang akan diterjunkan di medan laga Olimpiade.

Persiapan PSSI Menghadapi Olimpiade Melbourne Tahun 1956

Dalam menghadapi olimpiade 1956 di Melbourne Australia PSSI mendapat pelatih seorang pemain andalan kesebelasan nasional Yugoslavia Tony Pogacknik sesuai permintaan Presiden Sukarno kepada Presiden Yugoslavia.

Pogacknik hijrah ke Indonesia (Jakarta) dengan memboyong seluruh keluarganya termasuk anak istrinya karena akan bermukim cukup lama di Jakarta. Penulis menjadi akrab dengan keluarga tersebut karena putra tertua dari Tony Pogacnik bernama Drazen bersekolah di Yayasan Perguruan Cikini tempat penulis bersekolah.

Kami duduk sekelas di SMA Perguruan Cikini. Mula-mula komunikasi dengan yang bersangkutan agak sulit tersendat karena yang bersangkutan kurang memahami bahasa Inggris apalagi dalam menghadapi pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru, oleh karena itu secara tidak langsung penulis menjadi "guru" bahasa untuk Drazen. Kadang-kadang pulang dari sekolah yang bersangkutan penulis ajak ke Istana Merdeka untuk belajar bahasa khususnya bahasa Indonesia di sana. Tidak memakan waktu lama yang bersangkutan sudah dapat berbahasa Indonesia dengan lancar bahkan dengan dialek Betawi.

Sebagai pelatih PSSI Pogacnik secara berkala datang ke Istana Merdeka untuk melaporkan kesiapan pemain-pemain PSSI dalam menghadapi Olimpiade bersama-sama dengan Menteri Olahraga saat itu kadang-kadang seluruh pemain pemain PSSI datang ke Istana Merdeka dan diberi arahan tentang perjuangan pendidikan watak dan jiwa bangsa serta Heroworship (pemujaan/penghormatan) kepada para pahlawan agar secara kejiwaan mereka siap mental menghadapi ajang pertandingan di Olimpiade. Saat itu tidak ada janji-janji, hadiah atau apresiasi bila menang dalam pertandingan, bekalnya hanyalah siap mental dan siap fisik belaka.

Ternyata ketika PSSI yang kala itu diperkuat oleh pemain-pemain seperti Maulwi Saelan sebagai penjaga gawang yang kemudian yang bersangkutan menjadi ADC senior Presiden sekaligus Wakil Komandan Resimen Cakrabirawa kemudian juga penyerang tengah Ramang dari Makassar kemudian Jamiat Dahlar, Sidhi Witarsa, Tan Liong How, Kiatsek berhasil menahan kesebelahan Nasional Uni Soviet di babak penyisihan dengan skor 0;0.

Dalam pertandingan ulang ternyata PSSI harus mengakui keunggulan Uni Soviet dengan kalah 4;0. Namun demikian PSSI dengan pelatihnya Tony Pogacnik telah menunjukkan prestasinya yang maksimal dan bertarung dengan gagah perkasa sportif melawan kesebelasan raksasa dunia Uni Soviet.

Presiden Sukarno mengikuti pertandingan heroik tadi melalui laporan pandangan mata dari radio di kantor pribadinya di Istana Merdeka bersama-sama petinggi-petinggi olahraga Indonesia.

Bagaimana PSSI Saat Ini?

PSSI yang saat ini di bentengi oleh pemain muda usia walaupun prestasinya menurut hemat penulis belum sehebat PSSI di tahun 1956 namun untuk kemudian hari masih dapat diharapkan untuk menyamai prestasi PSSI di era Olimpiade Melbourne akan tetapi bukan saja PSSI hendaknya seluruh dunia olahraga Indonesia pada umumnya agar mempunyai semangat juang yang tinggi tanpa perlu diiming-imingi adanya hadiah atau apresiasi bila meraih kemenangan. Cukup dibekali terutama sekali semangat juang yang berkobar-kobar, sportifitas yang tinggi dan dilandasi oleh pembangunan watak serta jiwa bangsa, semangat pemujaan/penghormatan terhadap pahlawan-pahlawan di barengi semangat Korsa yang sekeras-kerasnya.

Dengan Demikian semoga dunia olahraga Indonesia pada umumnya dan PSSI pada khususnya selalu dapat menjunjung tinggi panji-panji merah putih di setiap ajang pertarungan di manapun juga.

Bravo PSSI!!

*Guntur Soekarno, Pemerhati Sosial


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top