Catatan dari Senayan

Krisis Ukraina

Cegah Perang Rusia-Ukraina Meluas

Cegah Perang Rusia-Ukraina Meluas

WARGA DUNIA kini sangat risau dengan perang terbuka Rusia-Ukrainia. Imbauan dan ancamana negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Prancis atas Rusia yang menginvasi Ukraina tidak digubris. Presiden Rusia Vladimir Putin dengan alasan pembenarnya sendiri pantang mundur. Aksi-aksis unjuk ras yang dilakukan warganya sendiri pun dianggap sepi.

Tiga hari ini serbuan jet tempur dan peluru kendali ke bumi Ukraina menyasar lokasi-lokasi strategis. Pasukan Rusia dengan persenjataan ultra-modern juga terus merangsek. Kiev, ibu kota negeri pecahan dari Uni Soviet pun berantakan.

Semula kita percaya pe gerahan pasukan Rusia di negara-negara yang berbatasan dengan Ukraina hanyalah gertakan semata. Tapi kenyataannya Rusia bergeming dengan imbangan pengerahan pasukan Amerika Serikat dan NATO. Rupanya negara-negara itu hanya sesumbar. Begitu invasi Rusia benar-benar dilakukan,

Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya tak kunjung bergerak. Wajar kalau kemudian Presiden Ukrania Volodymyr Zelensky teriak bawa dirinya dibiarkan sendirian melawan Rusia. Sehingga sampai hari ini pun Rusia tetap saja melakukan serangan-serangannya ke sasaran strategis di Kiev dan sekitarnya.

Dunia mengkhawatirkan perang Rusia-Ukraina ini menggerakkan negara-negara lain ikut terlibat. Cina yang menyokong Rudsia berhadapan dengan AS dan para sekutunya. Bahkan jika perang ini berkembang bisa meluas ke Perang Dunia III. Bisa dibayangkan betapa ngerinya kalau ini terjadi. Di era modern ini semua negara yang terlibat dipastikan akan mengunakan persenjataan modern, termasuk tenaga nuklir. Inilah yang dicemaskan dunia.

Imbas dari perang yang masih terbatas saat ini pun terasakan di bidang ekonomi, sosial, dan kemanusiaan. Ratusan tentara dan warga Ukraina tewas, banyak bangunan hancur, warga berbagai negara sudah dan bersiap dievakuasi dari Ukraina. Kecemasan di mana-mana. PBB segera bersidang membahas krisis di Ukraina. Boikot atas invasi Rusia atas Ukraina pun dilakukan para olahragawan, seniman, dan lainnya. Pengelola siber ikut serta memboikot. Semuanya tak menghendaki perang berlanjut.

Ancaman balasan dan sanksi ekonomi yang sudah dijatuhkan Amerika Serikat dan para sekutunya tak menyurutkan invasi itu. Perang tak gampang diselesaikan dengan perang. Ada yang menyarankan Zelensky minta maaf ke Putin. Ada yang menyarankan agar Zelensky menyerahkan diri. Tapi tampaknya dia memilih terus melawan. Bahkan sang Presiden menyerukan rakyatnya untuk membalas serangan Rusia. Kedua negara yang berperang sama-sama keras kepala. Meskipun tak dapat dihindari Ukraina akan hancur mengingat pasukan dan kekuatan persejataan negara itu tak sebanding dengan Rusia.

Ancaman pengerahan pasukan dan persenjataan Amerika Serikat dan Sekutu tak akan mengentikan, bahkan justru akan lebih memperparah perang. Lebih arif jika mereka menahan diri sambil terus melakukan upaya lewat jalur diplomasi. Di zaman peradaban modern seperti ini apa pun alasannya, perang tetaplah proses menuju kehancuran dan ketidakberadaban.

Banyak desakan agar Pemerintah Indonesia ambil bagian dalam penyelesaian konflik ini. Tapi tidaklah realistis mengharapkan Indonesia berperan berlebihan. Keikutsertaan Indonesia menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina mesti tetap proporsional sejalan dengan politik luar negeri kita yang bebas-aktif. Juga sesuai dengan amanat Konstitusi kita: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top