Konsultasi Hukum

Warisan

Tiga Istri Berebut Waris

Tiga Istri Berebut Waris

Pertanyaan:

Kepada pengasuh rubrik konsultasi hukum SenayanPost. Almarhum Ayah saya mempunyai 4 (empat) orang istri. Dan Saya seorang anak dari istri ke 3 (tiga). Seiring berjalannya waktu salah satu istri dari almarhum ayah saya ada yang mempermasalahkan mengenai harta warisan.

Yang ingin saya tanyakan, apakah istri dari masing-masing almarhum ayah saya berhak mendapatkan harta warisan?

Demikian Terimakasih.

Tarno, Lampung Selatan.

Jawaban:

Terimakasih atas pertanyaan dari saudara Tarno di Lampung Selatan.

Sebelumnya kami akan menjelaskan terkait perolehan harta atau yang akan menjadi harta gono gini. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Harta Gono gini dibagi ke dalam tiga kategori, yang pertama, harta yang diperoleh selama perkawinan. Harta ini merupakan harta yang dikuasai bersama selama perkawinan.

Kedua, harta bawaan, yaitu harta yang dibawa oleh masing-masing pihak sebelum proses perkawinan dilakukan. Harta ini dikuasai masing-masing pihak sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Ketiga, harta perolehan, yaitu harta yang diperoleh dari hadiah atau warisan. Harta ini dikuasai oleh masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 96 ayat (1) memuat ketentuan bahwa "Apabila terjadi cerai mati, maka separuh harta gono gini menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama".

Sedangkan dalam Pasal 97 disebutkan bahwa "Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta gono gini sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan".

Untuk menjawab pertanyaan dari saudara.

Bahwa almarhum ayah saudara telah melakukan perkawinan poligami, maka perhitungan harta waris bisa dilakukan dengan memperhatikan harta waris suami harus dikurangi dengan harta bersama suami dengan istri pertama, istri kedua, dan seterusnya (Pasal 128 KUHPerdata).

Sedangkan jika merujuk pada Pasal 94 Kompilasi Hukum Islam, maka harta bersama dari perkawinan suami yang memiliki lebih dari satu istri berdiri sendiri dan dihitung secara terpisah/harta yang diperoleh oelh suami selama dalam ikatan perkawinan dengan istri pertama, merupakan harta bersama milik suami dan istri pertama.

Namun, jika harta yang diperoleh suami selama dalam ikatan perkawinan dengan istri kedua/ketiga/keempat bahkan sampai kelima dan selama itu pula suami masih terikat perkawinan dengan istri pertama, maka harta tersebut merupakan harta bersama milik suami, istri pertama/kedua/ketiga dan seterusnya. Dan jika si istri sudah meninggal dunia maka.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Ratna Kumala Sari, S.H., M.H.

Konsultan Hukum LKBH Intan Bandar Lampung


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top