Seni budaya

DEDY SUFRIADI, Re-hyper Text, Story Sorry, Buku-buku, Semen, Besi dan Memorabilia 2022

Ada Letkol Soeharto pada Pameran Seni Rupa SO 1 Maret 1949

Ada Letkol Soeharto pada Pameran Seni Rupa SO 1 Maret 1949

Oleh: Raihul Fadjri

KEPUTUSAN Presiden No.2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang dituding tidak mencantumkan nama Letkol Soeharto sebagai aktor dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dipersoalkan oleh Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso—partai besutan Tommy Suharto—dan politisi Partai Gerindra Fadli Zon. Pada saat yang sama berlangsung pameran seni rupa bertajuk "Daulat & Ikhtiar, Memaknai Serangan Umum 1 Maret 1949" di Benteng Vredeburg, Yogyakarta 1-30 Maret.

Pameran yang dikurasi Mikke Susanto, dosen seni rupa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini selain diikuti perupa secara pribadi—Lutse Lambert Daniel Morin, Ded Sufriadi, Riyan Kresnandi—juga diikuti kelompok Tempa Yogyakarta dan Broken Pitch Yogyakarta. Di ruang pameran tak hanya dipajang karya seni rupa, tapi juga memamerkan artefak sejarah yang berhubungan dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang terjadi di Yogyakarta.

LUTSE LAMBERT DM, Echo War 4, Resin, Kuningan, Helm Baja, Peluru, 2022

Karya Lutse Lambert, misalnya berupa karya patung bertajuk Echo War 5 (2022) berujud sepotong bentuk kaki dalam posisi berjinjit dengan bentuk bambu runcing di sebelahnya. Ada pula bentuk sepotong tangan memegang bagian tengah bambu dan topi baja menggantung di ujungnya. Meski hanya ada dua bentuk organ tubuh manusia pada karya ini, tapi orang membayangkan figur manusia sedang memegang bambu runcing.

Pada karya bertajuk Echo War 4 (2022), Lutse Lambert memajang patung berbentuk figur setengah badan dengan otot menonjol. Kepalanya berhiaskan topi baja dalam posisi menengadah dengan ekspresi wajah yang kuat. Sedang kedua tangan menghunus belati dan menggenggam peluru yang mengesankan suasana diri sang serdadu yang siap bertempur. "Karya-karya Lutse Lambert berlandaskan pengamatannya terhadap pola hidup dan tingkah laku tentara pada era itu," tulis teks kuratorial.

LUTSE LAMBERT DM, Echo War 5, Tembaga, Helm Baja, 2022

Lain lagi cara Dedy Sufriadi mengeksplorasi tema pameran ini lewat karya instalasi bertajuk Re-hyper Text, Story Sorry (2022). Dia memajang sederet tumpukan berbagai buku yang dipadatkan dengan semen, dari buku yang tampak masih menunjukkan warna aslinya, hingga buku yang sudah digerogoti rayap. Dia juga membuat struktur besi berlapis sapuan semen kasar berbentuk persegi menutup sebagian layar monitor yang menayangkan rekaman pertempuran perjuangan kemerdekaan dengan melibatkan Tentera Pelajar.

Sejarah menulis, pada 17 Juli 1946 di asrama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di kawasan Pingit, Yogyakarta, Mayor Jenderal Moestopo atas nama Menteri Pertahanan meresmikan perkumpulan pelajar yang ikut mengangkat senjata dengan nama Tentera Pelajar. Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, Tentera Pelajar menjadi bagian yang membentuk sejarah.


TEMPA, Jaga Nyala Jiwa, Print Digital Kain, Gerabah, 2022

"Dedy menawarkan kepada publik bahwa belajar adalah bagian dari perang terhadap kebodohan," tulis keterangan kuratorial.

Pameran ini juga mengusung narasi peran kaum perempuan pada masa revolusi lewat Laskar Wanita Indonesia (LASWI) yang ikut berjuang dalam PMI, Kurir, dan Dapur Umum. Peran itu tercatat dalam sejarah lewat salah satu tokohnya Ibu Ruswo yang kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Yogyakarta. Kelompok Tampi Yogyakarta menghadirkan peran itu lewat karya instalasi berupa susunan 180 keramik berupa tungku bakar berbentuk wajah manusia dengan mulut terbuka lebar dan rambut tergerai.


STEN GUN Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Wehrkreise III, Koleksi Museum Monumen Yogya Kembali

Pameran ini juga memajang benda-benda memorabilia dari berbagai peralatan dapur yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan makan para prajurit, mantel yang dikenakan Panglima Besar Jenderal Soedirman selama perang gerilya, hingga senjata Sten Gun: "Senjata Sten Gun ini merupakan senjata yang digunakan Letkol Soeharto selama perang gerilya dan memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949." Letkol Soeharto kelak menjadi penguasa Orde Baru selama 31 tahun.#

* Raihul Fadjri, pemerhati senirupa, wartwan senior.



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top