Seni budaya

Intuition, Acrylic, Chinese Ink on Canvas, 2020

Jejak Realisme Pada Karya Lukis Abstrak Sutjipto Adi

Jejak Realisme Pada Karya Lukis Abstrak Sutjipto Adi

Oleh: Raihul Fadjri

KANVAS berukuran besar itu penuh berisi citraan sosok figur anak-anak. Ada yang menangis, ada pula yang tertunduk bak sedang berdoa, dan di bagian latar dalam citraan yang samar muncul sekumpulan bocah berpakaian seperti yang biasa dipakai pendeta Budha. Bidang kanvas itu juga berisi garis-garis tegas yang membentuk bidang persegi berisi warna-warna lembut. Sutjipto Adi, sang pelukis, memberi judul karya lukis bertarikh 2018 itu: Long Juorney To Freedom II.

Dalam peta seni rupa kontemporer Indonesia Sutjipto Adi dikenal sebagai pelukis yang mengolah bentuk figur manusia dengan elemen garis-garis tegas dalam warna-warna cerah. Karya lukis itu merupakan puncak masa keemasan Sutjipto Adi menggeluti teknik realis fotografis lewat karya lukisnya. Saat itu pria kelahiran Jember, Jawa Timur pada 1957 ini berusia sekitar 61 tahun, suatu masa ketika seseorang mulai mengalami perubahan, termasuk Sutjipto Adi.







Pada pameran tunggalnya bertajuk Tranformation di Kiniko Art, Yogyakarta, 21 - 30 Maret 2022, Sutjipto memajang karya lukis bertajuk Redemption 2020 yang menggambarkan proses transisi dari karya bercorak realis beralih ke ekspresi abstrak. Karya ini menyisakan citraan realis berupa figur setengah badan dengan wajah yang menunjukkan garis-garis ketuaan dan figur laki-laki merentangkan kedua tangannya ke atas bentuk salib, mirip posisi Yesus di tiang salib dengan kaki ditusuk paku.

Kanvas ini dominan dalam warna merah. Sapuan kuas ekspresif dalam warna gelap mengular dari kanvas bagian bawah hingga bagian atas. Adegan ini bak menegaskan: selamat tinggal realisme, selamat datang dunia abstrak. "Saya berproses ketika masuk ke dalam corak abstrak," katanya.


Inilah pameran yang menandakan dunia estetik baru Sutjipto Adi, ketika dia mengekspresikan rasa estetiknya lewat pendekatan bentuk abstrak. Pada lembaran baru bidang kanvasnya ini bentuk tidak lagi bagian utama dalam proses kreatifnya. "Saya tidak lagi mempermasalahkan bentuk, melainkan energi pikiran untuk membahasakan rasa," ujar Sutjipto dalam acara diskusi di ruang pamer Kiniko Art, 22 Maret 2022.

Yang menarik, meski terjadi perubahan bentuk ekspresi yang signifikan, tapi karya lukis Sutjipto Adi yang bercorak abstrak tetap menyisakan kepiawaiannya menggarap detil. Sebanyak 14 karya lukis abstraknya bertumpu pada kekuatan garis vertikal dalam warna-warna cerah yang ditingkahi dengan sapuan ekspresif sebagai latar belakang (background).


Pada karya bertajuk Energi Rasa 1 (2022) misalnya, Sutjipto menggoreskan kuas dalam bentuk garis vertikal dalam warna merah hingga bagian tengah, yang kemudian diteruskan dengan garis terputus-putus hingga bagian atas. Garis vertikal itu saling-silang dengan berbagai garis dalam warna yang lebih gelap yang menghasilkan bentuk hamparan jaring hingga ke bagian atas kanvas yang berubah menjadi komposisi bentuk titik-titik.


Sebaliknya, pada karya Puisi Intuisi #7 (2021) Sutjipto membalikkan komposisi jejeran goresan vertikal dalam warna lebih muda dengan latar belakang komposisi goresan dalam warna yang lebih kuat. Pola komposisi ini goresan warna yang lebih muda tetap menonjol. Pada karya Puisi Intuisi #4 (2021) Sutjipto tetap mengandalkan kekuatan detil garis dengan mengubah komposisi goresan menjadi horizondal dengan komposisi warna yang lebih muda menonjol di atas komposisi warna-warna yang kuat (merah, hijau).


Karya lukis abstrak Sutjipto Adi sebagaimana struktur garis dalam karya realisnya, berupa pola struktur torehan kuas berbentuk garis vertikal dan horizontal yang dikuatkan dengan peran komposisi warna dari warna muda hingga warna yang kuat. Hasilnya, karya lukis dengan dominasi narasi rasa, bak baris-baris puisi yang mengandalkan keindahan kekuatan kata.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top