Seni budaya

Parangtritis 5, Oil on Canvas 2021

Djoko Pekik, Dari Realisme Sosialis Ke Ekspresi Personal

Djoko Pekik, Dari Realisme Sosialis Ke Ekspresi Personal

Oleh: Raihul Fadjri

DJOKO PEKIK adalah generasi dengan gaya realisme sosialis yang masih tersisa hingga kini. Karya lukis pria kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, 85 tahun lalu ini mengeksplorasi narasi sosial masyarakat kelas bawah. Ada pencari kerikil, penjual mainan, tukang becak, pengamen, atau penjaga malam yang muncul lewat sapuan kuas ekspresif dalam komposisi warna-warna gelap dengan warna coklat yang dominan.

Tapi setelah enam kali menggelar pameran tunggal sejak 1990, pada pameran tunggal bertajuk Gelombang Masker di Bentara Budaya Yogyakarta pada 26 - 31 Maret 2022 ini Pekik, pangilan akrabnya, nyaris kehilangan aura realisme sosialis. Pada pameran yang berlangsung pada 26 - 31 Maret 2022 ini karya lukisnya menjadi sangat personal dengan sapuan kuas yang terkesan kurang bertenaga. Sederet 10 lukisan potret dirinya dan sembilan lukisan lanskap pantai Parangtritis di selatan Yogyakarta menjadi subject matter.


Hanya dua karya lukis yang masih menyisakan narasi sosial, yakni Gelombang Masker (2020) yang menggambarkan kerumunan orang yang antri memperoleh pembagian sembako di sekitar mobil bak terbuka bertuliskan Corona 2020, dan lukisan berjudul Tayuban (2020).

Lukisan seri potret diri itu menggambarkan sosok lelaki berkacamata dengan rambut, kumis, dan jenggot yang memutih dalam sapuan kuas ekspresif, dipoles warna merah dan coklat yang dominan. Ada juga lukisan potret dirinya yang menggambarkan gestur tubuh dalam posisi terbungkuk dan tangan memegang tongkat (Tapal Batas, 2022). "Saya sudah tua bangka, mlaku wes tuyuk-tuyuk, jalan terbungkuk," ujar Pekik saat pembukaan pameran.


Dua tahun masa pandemi Covid-19 ini membuat Pekik tertekan, karena tidak bebas pergi kemana yang dia inginkan. Berita tentang kematian ratusan orang akibat covid membuat dia gemetar ketakutan, apalagi Pekik menyandang diabetes selama 20 tahun. "Saya sudah tua, punya penyakit gula lagi, jadi resiko pandemi besar terhadap diri saya," katanya.

Masalahnya, situasi pandemi memaksa dirinya mengisolasi diri di rumah. Kalau ke luar rumah harus pakai mobil dan tidak turun dari mobil. "Saya stress, sering jemu," ujar Pekik. Situasi inilah yang mendorongnya terus melukis. "Kalau melihat kanvas kosong langsung saya bisa berdiri, dan langsut saya sabet."

Hasilnya, 25 lukisan selama dua tahun pandemi. "Pameran ini sebagai bukti saat pandemi saya bertahan hidup, masih kuat pameran," kata Pekik.


Bertahan hidup bukan hal baru bagi Pekik. Sebagai seniman Kiri yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)—underbow PKI—dan ikut mendirikan Sanggar Bumi Tarung bersama Amrus Natalsya (1933) dan seniman Kiri lainnya. Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 dia diciduk dan dijebloskan ke dalam penjara. Pekik mendekam di dalam penjara selama tujuh tahun tanpa diadili sebagaimana anggota PKI dan simpatisannya.

Sekeluar dari bui Pekik bekerja serabutan, termasuk menjadi tukang jahit. Tapi energi berkeseniannya sebagai pelukis bangkit kembali pada tahun 1990-an. Karyanya sempat diikutkan pada pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat KIAS pada 1990 yang sempat menuai pro dan kontra. Bahkan setelah Soeharto terguling pada 1998 Pekik menghasilkan karya Berburu Celeng yang lepas dengan harga fantastis saat itu: Rp 1 miliar.


Satu ironi sebagai orang berlatar berlakang sosialis, harga karya lukisnya di pasar kapitalisme seni rupa terus meroket. Misalnya, karya lukisnya bertajuk Go to Hell Crocodile dibandrol Rp 6 miliar pada Art Jog 2014 di Taman Budaya Yogyakarta. Lukisan ini berisi narasi tentang eksploitasi perusahaan tambang asing di Papua berupa citraan seekor buaya dengan lidah menjulur merah melingkari ceruk galian tambang.


Pekik mengaku duit bukan tujuannya melukis. Tujuannya melukis adalah berbicara kepada publik lewat lukisannya. Bahkan lukisan yang dia pamerkan saat ini pun dia berikan kepada anak-anaknya, dan mereka belum mau menjual lukisan itu. Pekik merasa risih tiap kali menjual lukisannya. "Soal jadi duit itu kecelakaan," katanya.#


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top