Seni budaya

CAROLINE RIKA, Ubet, Mixed Media, Variable Dimension, 2020

Pameran Perupa Perempuan: Women Do Unlimited, Wani Nglangkah, Wani Nrabas

Pameran Perupa Perempuan: Women Do Unlimited, Wani Nglangkah, Wani Nrabas

Oleh: Raihul Fadjri

PERINGATAN Hari Kartini tiap 21 April digelar 19 perempuan perupa yang tergabung dalam Kelompok Empu di Yogyakarta dengan menggelar pameran berjudul Wadon, dengan subjudul: Woman Do Unlimited, Wani Do Nglangkah, Wani Do Nrabas. Perempuan bertindak tanpa batas, berani melangkah, berani menerabas. Pameran yang berlangsung di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, 9 - 23 April 2022 ini dalam konsepnya mempresentasikan lagi arti kata emansipasi wanita dengan mengangkat konsep wadon, satu filosofi bagi perempuan Jawa yang bermakna abdi.

Secara sederhana pendekatan konsep wadon ini menjadi sangat realistis terhadap posisi perempuan, bahkan hingga kini ketika masyarakat menilai perempuan setara kedudukannya dengan lelaki.

"Dalam memaknai istilah wadon yang acapkali berkonotasi negatif karena perempuan hanya ditempatkan dalam posisi konco wingking (teman belakang) sing wani ditata (berani ditata), maka Empu sebagai kolektif perempuan mencoba mengulik dan memberikan pemaknaan baru pada kata Wadon," tulis konsep kuratorial pameran ini.

Bagi 19 perempuan perupa ini, menjadi perempuan butuh pengabdian tanpa batas, satu perbuatan sakral yang tak hanya berada dalam batasan konsep partiarkal, tapi lebih ke pemikiran dimana seorang perempuan mampu menjadi abdi. Tidak cuma bagi pasangannya, tapi lebih luas lagi dalam konteks sosial, politik, maupun lingkungannya. "Menjadi wadon (perempuan) ditumbuhkan lebih dari sikap pasrah, namun keberanian dan perjuangan yang gigih sehingga akhirnya lebur ke dalam sosok hidup yang tangguh dan bermakna."

Pada pameran kali ini Kelompok Empu mengangkat berbagai karya yang berhubungan dengan ranah domestik perempuan dan definisi perempuan dalam kata Wadon. Sejumlah karya menggunakan media dua dimensi dengan pendekatan yang berbeda, misalnya Kana Fuddy Prakoso menggunakan media kanvas berupa enam potret wajah perempuan secara ekspresif (Istimewa, 2019) yang tidak dalam bentuk empat persegi, melainkan bentuk segitiga dengan ujung yang lancip seolah menyimpan potensi untuk menusuk.

Adapun karya lukis Liesti Yanti Purnomo (Not Alone, 2022) berupa seri lukisan potret perempuan yang asik bermain telpon genggam di ruang publik hingga perempuan yang sedang sibuk menata bunga. Liesti menutup karya lukisnya dengan lembaran kaca yang juga dia beri coretan kuas melengkapi eksplorasi bentuk di atas kanvas di belakangnya. Citraan bunga juga dieksporasi Avina Candra lewat sejumlah karya lukisnya.


LIESTI YANTI PURNOMO, Not Alone, Acrylic on Canvas Mixed Media, 2022

Sosok perempuan pula yang menjadi subject matter karya lukis Media Noverita (Coloring Woman, 2022), bak menggambarkan perempuan modern dalam berbagai pose potret wajah bercorak pop art dengan komposisi warna-warna cerah yang kuat.


ENDANG LESTARI, Unlimited Seemless, Ceramic Stoneward, 2022

Eksplorasi media yang tak biasa juga dilakukan Justina lewat karya bertajuk Luruh Peluh Cinta Ibu (2022) dengan menderetkan enam bidang kanvas dalam ukuran berbeda dengan latar warna merah menyala. Pada kanvas itu dia melukiskan citraan sosok perempuan tanpa alas kaki sedang mengangkut barang di atas kepala sembari menggendong dua anak, juga citraan perempuan dengan beban di punggungnya seperti yang dilakukan buruh gendong di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Lembaran kain panjang dalam warna merah dan coklat terhampar di depan karya lukis ini.


MEDIA NOVERITA, Coloring Woman, Acrylic on Canvas, 2022

Lembaran kain merupakan materi karya yang juga dieksplorasi sejumlah perempuan perupa pada pameran ini. Lashita Situmorang (Repeating Patters, 2022), misalnya berupa hamparan berbagai potongan tekstil dengan corak garis persegi. Sedang Ambar Kusuma Wardhani (Set To No Boundaries, 2020) yang menggantungkan sejumlah pakaian perempuan dan pria dalam warna hitam yang dia potong hingga hanya tersisa bagian tepinya yang mengesankan garis-garis dalam karya gambar (drawing). Karya instalasi ini menjadi lebih menarik ketika cahaya sinar lampu menghasilkan bayangan garis-garis bentuk potongan pakaian itu di dinding.


JUSTINA TS, Luruh Peluh Cinta Ibu, Acrylic on Canvas, 2022

Dua mode atau kegiatan jahit-menjahit memang akrab dengan kaum perempuan, sebagaimana Caroline Rika yang biasa mengeksplorasi media kain pada karyanya, kali ini menampilkan karya instalasi berupa bentuk dua gaun yang saling terhubung lewat juntaian panjang kain dalam warna yang sama pada karya bertajuk Ubet (2020). Atau Agni Tripratiwi (Memories, 2022) yang lebih menegaskan lagi kedekatan perempuan dengan jahit-menjahit lewat karya mix media. Karyanya berupa susunan kain yang beberapa diantaranya berupa karya sulaman, dan salah satunya dia beri citraan bentuk mesih jahit yang dibangun dari susunan lembaran plastik negatif foto.

Dunia jahit-menjahit ini pula yang dieksplorasi Bekti Isti (Lantip, 2022) lewat karya patung dari kayu jati berbentuk jarum jahit dengan citraan bentuk benang tergerai. Sedang pelukis Laila Tifah membuat karya seri drawing (Tengkuluk, 2022) yang menampilkan berbagai posisi bentuk tengkuluk (selendang) yang biasanya menutup bagian atas kepala perempuan di kalangan masyarakat Minang, Sumatera Barat.


BEKTI ISTIWAYAH, Lantip, Kayu Jati Tambang, 2022

Dari semua karya perempuan perupa pada pameran ini, karya Endang Lestari (Unlimited Seemless, 2022) memakai bahasa rupa yang tidak stereotype. Perupa yang biasa berekspresi lewat karya keramik ini menampilkan dua patung torso—figur setengah badan—dari keramik dalam warna merah menyala dengan kepala bak berhiaskan mahkota dengan bentuk potongan ranting bercabang-cabang dalam warna putih. Dari mulut figur ini seperti mengeluarkan leleran bentuk cairan yang membanjiri badannya.

Menurut Endang, karya ini menggambarkan perempuan dengan setumpuk perannya yang nyaris tak terbatas dalam keluarga maupun masyarakat membuat pikirannya bercabang-cabang bak bunga yang indah, tapi terasa sangat mengganggu. "Perempuan menanggung banyak beban, tapi juga menyenangkan," ujar Endang Lestari. #

Raihul Fadjri, wartawan senior, pemerhati senirupa, tinggal di Yogyakarta.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top