Catatan dari Senayan

Police line Catatan dari Senayan

Pembegal Dibunuh, Kejahatan Harus Dilawan

Pembegal Dibunuh, Kejahatan Harus Dilawan

KASUS penersangkaan seorang yang melawan begal, lantaran membunuh dua pembegalnya menjadi perhatian masyarakat. Warga sekitar berunjuk rasa tidak terima menetapkan seorang korban pembegalan sebagai tersangka. Para pakar dan pemerhati hukum pun ikut bicara. Bahwa penersangkaan korban begal yang melawan begalnya tidak tepat.

Ceritanya, Satuan Reskrim Lombok Tengah, menetapkan Amaq Sinta menjadi tersangka dengan dugaan pembunuhan. Amaq diduga telah melakukan pembunuhan terhadap dua begal yang menyerang Amaq di Desa Ganti, Praya Timur. "Korban begal dikenakan Pasal 338 KUHP menghilangkan nyawa seseorang melanggar hukum maupun Pasal 351 KUHP ayat (3) melakukan penganiayaan mengakibatkan hilang nyawa seseorang."

Petinggi Polri tanggap, Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto mendengar reaksi masyarakat segera meminta polisi menghentikan penersangkaannya. Kita apresiasi sikap Kabareskrim yang cepat merespon reaksi masyarakat atas tindakan aparatnya. Itulah penegakan hukum yang sebenarnya. Cepat ada koreksi apabila ada langkah penegakan hukum yang tidak tepat.

Faktanya memang ada orang yang membunuh dua orang. Bukti kuat, ada dua orang terbunuh, pelaku pembunuh mengakui dia yang membunuh, barang bukti cukup. Tapi dia membunuh karena ada pembelaan terpaksa. Kalau tidak membunuh dia justru yang akan terbunuh.

Mestinya polisi melihat konstruksi kejadiannya secara utuh, sehingga tidak dengan cepat menetapkan korban menjadi tersangka. Kemungkinan sang polisi tidak menguasai lengkap aturan hukum. Hanya melihat peristiwa terbunuhnya dua begal dan hanya membaca 338 dan 331 KUHP tentang pembunuhan dan penganiayaan. Polisi sang tidak membaca pasal tentang "pembelaan terpaksa".

Di pasal 49 ayat (1) KUHP disebutkan: "Barangsiapa terpaksa melakukan perbuatan untuk pembelaan, karena ada serangan atau ancaman serangan ketika itu yang melawan hukum, terhadap diri sendiri maupun orang lain; terhadap kehormatan kesusilaan (eerbaarheid) atau harta benda sendiri maupun orang lain, tidak dipidana".

Pasal itu sangat jelas adanya perlindungan hukum terhadap orang yang melakukan pembelaan karena terancam nyawanya. Jika dia tidak dilindungi, sama artinya orang tidak boleh melakukan pembelaan dalam situasi apa pun. Orang tidak boleh melawan penjahat dan mempertahankan hartanya. Orang harus pasrah jika ada pihak lain yang akan membunuhnya. Sama halnya dengan melarang masyarakat untuk berani melawan kehatan.

Jadi kebaranian masyarakat melawan penjahat justru dilemahkan oleh hukum yang tidak dipahami dan dilaksanakan oleh aparat penegak hukumnya sendiri. Sungguh memprihatinkan. Karena itu kekhilafan polisi harus diluruskan. Kita harus mengapresiasi keberanian korban pembegalan itu.

Cacatan terpenting dalam kasus ini, pertama, pengetahuan hukum polisi mesti ditingkatkan, tidak hanya menggunakan "kecamata kuda." Kedua, kejahatan harus dilawan. Masyarakat mesti disupport keberaniannya, bukan malah dihinggapi ketakutan melawan penjahat. Bukan hanya terhadap kejahatan pembegalan, tetapi terhadap semua kejahatan lainnya, termasuk korupsi sebagai extra ordiniary crime yang sangat merugikan rakyat. (*)



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top