Seni budaya

BAYU WIDODO, Ngehe, Fusing, Marker on plastic, 2022

Dari Sampah Plastik Menjadi Karya Seni Rupa

Dari Sampah Plastik Menjadi Karya Seni Rupa

Oleh: Raihul Fadjri

KETIKA berbagai upaya dilakukan aktivis menyelamatkan lingkungan dengan memanfaatkan limbah plastik, sebanyak 26 perupa dan aktivis lingkungan menggelar Pameran Seni Upcycle di Survive Gerage, Yogyakarta, 16 - 24 April 2022. Pameran ini menarik dari segi penggunaan media maupun teknik dan narasi yang diusung, yakni memanfaatkan tas plastik bekas—di Yogyakarta disebut tas kresek—sebagai media pengganti kanvas dan material plastik untuk membuat berbagai bentuk di atasnya sebagai pengganti cat.

"Pameran Seni Upcycle mengajak seniman dan publik mengolah dan mencitakan media seni baru dengan memanfaatkan limbah yang paling merusak lingkungan berupa sampah plastik yang tidak akan terurai dalam waktu ratusan tahun," ujar Iwan Wijono, kurator pameran ini.

LAKSMI SHITARESMI, Hulu ke Hilir, Sampah plastik, 2022

Menurut Iwan yang dikenal sebagai seniman performance, perlu definisi ulang mengenai arti limbah, sebagai bahan antar produksi dalam memproduksi kembali dari bahan sisa, menjadi produk yang sama (recycle) dan produk baru berfungsi lebih (upcycle). "Problem kerusakan lingkungan adalah tanggung jawab bersama penghuni bumi. Solusi tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus dilakukan secara kolektif dan berjaringan luas sebagai satu kesatuan masyarakat bumi," katanya.

Kegiatan workshop yang diikuti peserta pameran berlangsung selama tiga hari, termasuk melihat langsung gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Piyungan yang tiap hari menerima 700 ton sampah tiap hari di seluruh Daerah Istimwa Yogyakarta. Dari workshop itu peserta menghasilkan karya dua dimensi dan tiga dimensi. "Proyek ini penting dengan mencontohkan bagaimana seni rupa kontemporer dapat menjadi alat untuk menangani masalah global kontaminasi plastik," ujar Iwan.

ADHIK KRISTIANTORO, Pemberontak Sampah, Fusing Technique on plastic, 2022

Dalam proyek ini peserta dilatih membuat media kanvas dari enam hingga tujuh lapis tas plastik bekas yang direkat lewat proses pemanasan dengan alat setrika yang dilapisi kertas, sehingga menghasilkan ketebalan media. Proses yang sama mereka lakukan dalam proses eksplorasi bentuk dengan menggunakan berbagai potongan plastik bak menorehkan cat di atas kanvas dalam berbagai warna.

Hasilnya, karya dua dimensi dan tiga dimensi yang merupakan produk baru berfungsi lebih (upcycle). Tengoklah karya Fitri Dk (Cerita Piyungan #1, 2022; Cerita Piyungan #2, 2022) yang menggambarkan dua sapi sedang memamah gunungan sampah diantaranya tas plastik bekas dalam warna hitam dengan latar belakang warna hijau dan oranye, dan alat berat backhoe sedang mengeruk gunungan sampah.

TENNESSA QUERIDA, Unsettled, Mix Media, 2022

Bayu Widodo (Ngehe, 2022) mengolah limbah plastik menjadi citraan bentuk dua figur berwajah anak-anak dan orang dewasa dengan latar bak gunung hitam menjulang dengan bagian bawah berupa hamparan bentuk flora dalam komposisi warna hijau, merah dan hitam.

Adapun Laksmi Shitaresmi (Hulu ke Hilir, 2022) menggunakan plastik bekas dalam berbagai warna yang dia ukir dengan teknik gravir menghasilkan bentuk-bentuk ornamen bertekstur. Pada bagian tengah karya ini ada citraan bentuk kepala bertanduk dengan volume tiga dimensi.

BIO ANDARU, SOS From Our Self, Pastik bekas, cat semprot, 2022

Karya Tennessa Querida (Unsettled, 2022) seperti mengingatkan orang langsung pada tas plastik yang menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat. Dia menampilkan bentuk fisik tas plastik di bagian atas yang mengalami proses perubahan bentuk menjadi bentuk-bentuk abstrak geometris yang semakin detil hingga ke bagian karyanya paling bawah.

Atau tengok juga karya Adhik Kristiantoro (Pemberontak Sampah, 2022) yang mengolah bentuk potret wajah anonim dari potongan teks yang terdapat pada kemasan berbagai produk konsumsi antara lain: instan, minuman, sachet, kopi, warm water, hot water, komposisi, penyajian, 150 cc, hingga merata, into a cup, dan hidangkan. Berbagai teks itu menyelimuti sekujur wajah dan kepala dengan latar belakang warna merah menyala bak teror sampah plastik terhadap manusia.

LEJAR DANIARTANA, Ketawa, Fusing Plastik, 2022

Ketika seni rupa bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi teror masif sampah plastik mestinya pasar seni rupa bisa menyerapnya. Harapan ini muncul dari karya yang dipamerkan juga dilabeli harga sebagaimana praktek pameran biasanya. Tapi karya itu dilabeli harga yang relatif murah dibanding karya memakai cat minyak atau akrilik di atas kanvas, dari harga paling rendah Rp 500 ribu, hingga paling tinggi Rp 20 juta.

Seiring waktu teknik mengolah sampah plastik menjadi karya seni rupa mungkin akan lebih mudah. Atau tak menutup kemungkinan teknologi pengolahan limbah plastik kelak bisa membuat bahan pewarna yang bisa dipakai untuk membuat karya seni rupa sebagaimana cat minyak maupun cat akrilik, sehingga karya yang dihasilkan pun bisa lebih maksimal.#

Raihul Fadjri, pemerhati senirupa, jurnalis senior, tinggal di Yogyakarta.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top