Catatan dari Senayan

Ilustrasi mudik. (ist)

Mengantisipasi Uforia Mudik

Mengantisipasi Uforia Mudik

ARUS mudik mulai sangat terasa. Puluhan ribu kendaraan sudah meninggalkan Jakarta dan sekitarnya. Stasiun kereta api, Pasar Senen dan Gambir mulai dipadati pemudik. Sejumlah terminal bus ramai. Bandara Cengkareng pun meningkat frekuensi penerbangan menuju berbagai daerah. Demikian juga kapal-kapal penyeberangan maupun pelayaran jarak jauh mulai dipadati penumpang.

Pemerintah membolehkan mudik lagi bagi masyarakat yang ingin merayakan Lebaran di kampung halaman. Setelah dua tahun dilarang karena pandemi Covid-19, tahun ini sedang dipersiapkan segala sesuatunya agar tradisi itu bisa dilakukan dengan lancar. Mudik kali ini menjadi semacam uforia. Ibarat aliran air yang tersumbat, begitu sumbat dilepas, air pun tumpah deras.. JIka tidak diantisipasi dengan hati-hati dan bijak, bisa juga menemggelamkan.

Sejak awal Kemenhub dan Kemen-PUPR paling sibuk menyiapkan kelancaran para pemudik lewat darat, laut, dan udara. Mulai dari perbaikan dan pelebaran jalan, percepatan pembangunan jalan-jalan tol yang akan dilalui pemudik, dan sejumlah rekayasa jalan dan jalan tol seperti diterapkannya one way, ganjil genap, dan sebagainya. Demikian juga instansi lain seperti Pertamina mesti menyiapkan stok BBM lebih besar daripada hari-hari biasa. Kemenkes mesti menyiapkan pengamanan prokes karena kita belum terlepas dari pandemi Covid-19. Polri terus menyiapkan pengamanan di jalan raya, terminal, atasiun, pelabuhan, bandara dan lainnya.

Mudik sejak dulu menjadi tradisi setiap tahun bagi masyarakat Indonesia. Mereka yang merantau di perkotaan berbondong-bondong pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama sanak saudara. Berbeda dengan pulang kampung, yang bisa dilakukan kapan saja tanpa menunggu momentum di akhir bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idul Fitri atau yang dikenal dengan Lebaran.

Ada yang mempertanyakan kenapa harus mudik dan bermacet-macet di jalanan? Banyak pemborosan dilakukan. Mudik dicap sebagai penghamburkan dana, waktu, dan tenaga untuk mudik. Negara dan semua aparatnya menjadi supersibuk. Di pihak lain Lebaran dianggap hal yang sakral dan harus dilakukan para pemudik. Meski harus berdesakan dan bermacet-macetan di jalan raya, semuanya selalu dinikmati. "Untuk apa kerja keras selama setahun kalau tidak mudik untuk bersilaturahim dengan sanak saudara di kampung," begitu dalih para pemudik.

Fakta saat mudik dilarang pun muncul angka yang mencengangkan. Meski dilarang semangat untuk mudik tetap saja ada. Data Kementerian Perhubungan di tahun 2017 ada 20 juta pemudik lalu 2018 ada 21,6 juta atau naik 6% dan 2019 ada 23 juta pemudik. Sementara pada 2020 jumlah kendaraan keluar atau mudik lewat tol 552.759 buah atau turun 66% dan arus balik 438.688 buah atau turun 70% (periode H-7 dan H+7 lebaran). Prediksi kali ini turun signifikan jumlahnya.

Ritual mudik ini terbukti bisa menggerakan ekonomi di semua sektor. Lihat catatan sejak lima tahun silam. BI menyiapkan uang tunai Rp 152,14 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan atau Idul Fitri 1442 H. Jumlah ini naik 39,33% dibandingkan dengan tahun 2020 yang sebesar Rp 109,20 triliun. Oleh karena itu, beralasan jika perputaran uang selama mudik naik pesat. Perhitungan BI penarikan uang saat mudik 2021 naik 20% ketimbang 2020. Penarikan uang tunai pekan terakhir Ramadan sekitar Rp 15,4 triliun per hari. Realitas ini menunjukan perputaran uang selama mudik luar biasa besarnya.

Mudik bukan hanya peristiwa sosial dan budaya, tapi juga ada hentakan ekonomi yang luar biasa. Perputaran uang di hari-hari biasa terpusat di Jakarta, dengan mudik berpindah ke berbagai daerah. Dengan demikian yang merasa bahagia bukan hanya pemudik tapi juga dirasakan warga tujuan pemudik. Keramaian dan kesibukan di Ibukota berpindah ke daerah.

Terpenting, agar semua pemudik menaati disiplin berlalu lintas, menaati protokol kesehatan, dan aturan lainnya. Jangan sampai banyak korban kecelakaan saat mudik. Kondisi pandemi yang terus membaik jangan sampai pula malah antiklimaks, kembali meningkat tajam akibat pemudik mengabaikan protokol kesehatan. Ini terjadi negara-lain seperti Cina, Jerman, dan Inggris. (*)


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top