Seni budaya

No War Love Yes, Acrylic on Canvas 2022

Ekspresi Cinta Dalam Bingkai Geometris Lukisan Dedok

Ekspresi Cinta Dalam Bingkai Geometris Lukisan Dedok

Oleh: Raihul Fadjri

PELUKIS I Made Arya Dwita Dedok pernah dikenal dengan karya lukis bercorak figuratif yang dia sebut bergaya kartun. Kini pada pameran tunggalnya bertajuk Katresnan di Tumpeng 9 Coffee Eatery, Yogyakarta, 26 Maret - 22 Mei 2022 pria kelahiran Denpasar, Bali, 51 tahun lalu ini memajang karya lukis bercorak abstrak. "Semakin lanjut usia saya, karya lukis saya mengarah ke corak abstrak," kata Dedok, panggilan akrabnya, Ahad (23/4/2022).

Dalam perjalanan karirnya sejak pameran pertama pada 1997, Dedok juga mengikuti berbagai pameran dan residensi di dalam dan luar negeri. Dia pernah mengikuti kegiatan residensi di Red Mill Gallery, Vermont Studio Center di kota Johnson, Amerika Serikat pada 2009. Dia juga memperoleh penghargaan Special Prize dari The Mellow Art Award 2020 lewat karya lukis bertajuk Social Distancing (2020). Dedok dan istrinya yang juga pelukis, Grace Tjondronimpuno, baru saja mengikuti pameran seni rupa bertajuk The 21st (Public Appeal) pada International ART Exchange Exibition di Tokyo, Jepang, pada 10 April 2022.


Pada pameran berdurasi panjang di Yogyakarta kali ini—hampir tiga bulan—Dedok menampilkan 26 karya lukis dalam ukuran mungil (30 x 30 Cm). Padahal kebanyakan karya lukis bercorak abstrak dibuat pada kanvas berukuran lebih besar yang memberi keleluasaan bagi pelukisnya berekspresi, terlebih dengan corak abstrak ekspresif sebagaimana karya lukis Dedok. Tapi Dedok justru membuat karya abstrak berukuran kecil dengan pendekatan yang juga tidak biasa.


Pada sejumlah karya abstraknya Dedok menggabungkan sapuan kuas ekspresif dengan penggunaan elemen geometris berupa garis persegi. Karya berjudul The Power of Love (2022), misalnya dia menutup bagian tepi lukisan berupa sapuan-sapuan (brush stroke) ekspresif dalam komposisi warna hijau, putih, biru, hitam dengan garis tebal dalam warna transparan merah menyala.

Hal yang sama, tapi dengan membalik cara sebelumnya, dia lakukan pada karya bertajuk No War Love Yes (2022) dengan membingkai bentuk hati—simbol cinta—dalam warna merah menyala yang menonjol dengan latar bentuk geometris. Bingkai persegi itu justru berupa sapuan abstrak ekpresif dalam komposisi warna hitam, putih, biru dan merah. Sedang pada karya Love Zone (2021) elemen geometris dia pakai memisahkan karyanya menjadi tiga bagian.


Dedok adalah sosok yang tidak pernah diam pada satu corak tertentu. Meski kini menggarap gaya abstrak yang dia lakukan sejak 2018, Dedok masih menyisakan elemen figuratif pada karya lukisnya. "Ada kekuatan yang mendorong saya untuk tidak tetap berada dalam corak tertentu," ujarnya.

Bahkan dia juga mengkombinasikan satu corak dengan corak lain. Seperti pada karya The Star (2020), berupa potret wajah perempuan yang dia bentuk dalam garis-garis geometris persegi dalam warna dominan merah.

Pada karya bertajuk Lotus (2020) dia masih menyisakan bentuk tumbuhan air (Nelumbo nucifera)—dikenal dengan nama Seroja—berupa susunan kelopak bentuk bunga dalam torehan ekspresif dengan komposisi warna putih dan merah. Bentuk utama bunga Lotus itu seperti ditopang bentuk tangkai berupa blok garis persegi dalam warna hijau. Dia pun masih membingkai karya ini dengan blok garis persegi dalam warna merah menyala.


Bahkan pada karya berjudul Kiss (2020) Dedok mengekspresikan rasa cinta dengan memadukan goresan abstak ekspresif dengan abstrak geometris berupa garis-garis tegas yang membentuk bidang persegi.

Kombinasi sapuan ekspresif dengan garis geometris pada karya lukis Dedok pada pameran ini bak mengisyaratkan ekspresi rasa cinta yang terkendali. Suatu ungkapan yang bisa dengan mudah dinikmati dalam komposisi warna cerah yang menyenangkan tanpa harus repot memikirkan narasi di dalamnya. "Ketika jatuh cinta muncul berjuta warna yang menyenangkan," kata Dedok.#


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top