Catatan dari Senayan

Suka Cita Idul Fitri, iblis pun Menjerit Catatan dari Senayan

Suka Cita Idul Fitri, Iblis pun Menjerit

Suka Cita Idul Fitri, Iblis pun Menjerit

ALHAMDULILLAH hari ini, Senin 2 Mei 2022, umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri serentak. Yang menggunakan metode hisab maupun metode rukyatul hilal sama-sama menetapkan 1 Syawal 1443 H pada hari ini. Lebaran sangat semarak. Apalagi dua tahun berturut-turut sebelum ini negeri kita dirundung petaka Civid-19. Nyaris tidak ada masyarakat yangnerayakan Lebaran karena adanya batatasa ketat prokes.

Sejak tadi malam hingga pagi ini gema takbir berkumandang sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadan dan menyongsong Idul Fitri yang sering disebut sebagai hari kemenangan bagi umat Islam yang telah berpuasa selama sebulan yang disempurnakan dengan membayar zakat fitrah untuk menyucikan diri.

Perasaan umat Islam sebenarnya bercampur aduk, antara sedih dan gembira. Di satu sisi sedih karena harus berpisah dengan Ramadan, sebuah bulan yang agung dan mulia, bulan dimana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, amal kebaikan pahalanya dilipatgandakan, pintu taubat dibuka lebar-lebar, dan ada satu malam lailatul qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Di lain sisi gembira karena manusia akan merayakan idulfitri sebagai hari kemenangan, hari manusia kembali kepada kesucian, ibarat bayi yang baru lahir, hari saling memaafkan dan membebaskan setiap kesalahan, hari untuk saling bersilaturahim, dan hari untuk berziarah kubur. Dengan kata lain, kedatangan idulfitri disambut dengan penuh suka cita. Takbir bergema sepanjang malam. Ada yang takbir di masjid, takbir keliling, atau di rumah masing-masing. Semuanya mengagungkan kebesaran Allah.

Datangnya Idul Fitri, selain disambut dengan suka cita, mari kita rayakan dengan sederhana, tanpa mengurangi makna dari perayaan Idul Fitri itu sendiri. Suka cita harus dimaknai dengan rasa syukur bahwa kita masih diberikan umur untuk merayakannya bersama keluarga. Orang yang berada di perantauan rela mudik, menempuh jarak ratusan bahkan ribuan kilometer, rela menembus kemacetan, demi untuk bisa berlebaran di kampung halaman.

Idul Fitri merupakan momen istimewa untuk saling memaafkan. Anak bersimpuh memohon maaf kepada orang tua, suami istri saling memaafkan, orang yang lebih muda sowan kepada yang lebih tua untuk memohon maaf sekaligus meminta nasihat.

Idul Fitri merupakan hari yang sangat indah dan momen yang tepat untuk mengekspresikan rasa syukur kepada Allah. Oleh karenanya, jangan sampai ternoda oleh hal yang berlebih-lebihan, karena Allah Swt. tidak suka terhadap orang yang berlebih-lebihan.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa pada hari raya Idul Fitri iblis menjerit, karena pada hari tersebut Allah mengampuni dosa-dosa umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan disertai keimanan dan keihlasan. Oleh karena itu, iblis mengumpulkan bala tentaranya dan memerintahkan untuk menggoda umat Islam dengan kesenangan dan kelezatan yang berlebihan, minum arak, berbuat maksiat agar kesucian umat Islam yang telah kembali ke fitrah ternoda oleh dosa-dosa yang lakukan di hari raya ini. Oleh karena itu, umat Islam yang bersuka cita merayakan idul fitri harus mawas diri dan jangan sampai lengah, tergoda oleh setan.

Dalam suka cita, jangan lupa prokes. Masing-masing muslim mesti menyadari bahaya Covid-19 masih mengancam di sekitar kita. Jangan sampai kondisi yang baik, pandemi yang menuju akhir, malah meningkat lagi. Ada batas-batas suka cita di hari Fitri ini.

Selamat berlebaran. Taqabbalallahu minna waminkum. Minal aidin wal faaizin. Maaf lahir batin.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top