Opini

Ahmad Erani Yustika

Idul Fitri

Idul Fitri

Oleh: Ahmad Erani Yustika

MATERI pertama yang mesti dikunyah oleh para mahasiswa ilmu ekonomi adalah tausyiah perkara: kelangkaan sumber daya ekonomi untuk memenuhi hasrat manusia yang tanpa batas. Itu sebabnya sekujur tubuh teori ekonomi didesain demi menjalankan keyakinan tersebut.

Metode dan prosedur pemikiran dirancang agar khalayak memperoleh kepuasan tertinggi di atas keterbatasan sumber daya. Ricardo, Harrod-Domar, Rostow, Gossen, Samuelson, dan lain-lain mengulik perihal itu agar individu selalu terhubung dengan pencapaian "self-seeking behavior".

Sejak dini, sifat manusia itu pula yang dipostulatkan oleh Lao Tzu, filsuf dan penulis Tiongkok kuno yang terkenal lewat karya-karya monumentalnya. Ia adalah pendiri Taoisme yang amat tersohor.

Lao Tzu berbicara tentang empat tiang utama yang bisa meningkatkan kebahagiaan, keseimbangan, dan kebijaksanaan; yakni penghormatan kepada kehidupan, ketulusan dalam ragam bentuk, kelembutan paripurna, dan dukungan utuh.

Lao Tzu memimpikan individu mencapai kondisi 'wu wei', yaitu kebebasan dari segala keinginan. Diksi "keinginan" (tanpa batas) itulah yang menjadi sumber petaka.

Apakah Allah menciptakan puasa (Ramadan) sebagai perkakas mengubur "kebebasan dari segala keinginan"? Tidak gampang menjawabnya. Manusia adalah makhluk yang diberikan dua kelengkapan: pikiran dan perasaan.

Pikiran membentuk rasionalitas, sedangkan perasaan (kerap) memantik absurditas. Hasrat yang tidak terkelola adalah kutuk nafsu yang sukar ditindih oleh akal. Setiap hari ialah kisah aneka kekalahan rasionalitas melawan absurditas. Manusia yang lemah diberi pilihan yang memiliki daya paksa bernama puasa.

Bagi yang mengimani ketauhidan dan segepok nilai agung agama, pilihan pengendalian nafsu (yang sering menerbitkan angkara) opsinya amat banyak, bukan semata puasa. Ramadan hanya menjadi terminal, tetapi sesungguhnya pengendalian diri mesti diperagakan pada setiap meter perjalanan.

Tepat pada titik inilah nilai-nilai kemuliaan agama menjadi sumber untuk menaklukkan "kebebasan dari segala keinginan". Idulfitri sebetulnya simbolisasi atas kemenangan hakikat melawan syahwat. Maaf lahir batin bermukim dalam tindakan perbaikan, bukan ucapan kesementaraan.

Selamat Idulfitri 1443 H. Mohon maaf lahir dan batin. Rukun, damai, sejahtera. Salam. (*)

Prof. Ahmad Erani Yustika, PhD, Kepala Setwapres, Guru Besar di FEB Universitas Brawijaya, Malang.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top