Opini

Syaefudin Simon

Sodomi dan LGBT

Sodomi dan LGBT

Oleh: Syaefudin Simon

PAK IO (konon mantan pendeta, nama lengkapnya Ioanes Rakhmat) adalah teolog dan pemikir Kristen. Ia penulis buku produktif. Tulisannya tentang teologi dan masa depan sains sangat reflektif. Membuka wawasan umat.

Aku sering mendengar ceramahnya di berbagai forum. Terutama di perpus Freedom Institute, milik Rizal Mallarangeng, Jakarta.

Pak Io menyatakan, peristiwa sodomi dalam kitab suci agama Semit (Islam, Kristen, dan Yahudi) latar belakangnya bukan cinta sesama jenis. Tapi penghinaan. Dalam peperangan antar suku atau kerajaan di era jadul, tentara yang menang perang mempermalukan tentara yang kalah dengan cara menyodominya.

Jadi "sodomi" antar lelaki seperti yang diceritakan kitab-kitab suci adalah bentuk penghinaan. Bukan bermain cinta sesama jenis (LGBT). Itulah sebabnya Tuhan murka. Sebab perbuatan tentara pemenang perang tersebut barbar, di luar perikemanusiaan.

Penghinaan dengan cara sodomi ini ternyata sampai sekarang masih terjadi. Salah satu bentuk penghinaan tentara Serbia yang "menyerbu" Bosnia (1992-1995) seperti diceritakan tentara Bosnia kepada PBB adalah kasus sodomi tadi.

Serangan barbar tentara etnis Serbia terhadap etnis Bosnia saat itu, oleh sebagian umat Islam dianggap sebagai serangan Kristen kepada Islam. Kebetulan etnis Bosnia mayoritas beragama Islam. Tapi bagi Barat serbuan Serbia terhadap Bosnia tersebut adalah tragedi ethnic cleansing.

Itulah sebabnya dunia Barat membantu etnis Bosnia sekuat mungkin. Amerika berada terdepan untuk menghentikan ethnic cleansing tersebut. Akhirnya aktor2 pembantai puluhan ribu manusia di Balkan itu -- Slobodan Milosevic, Radovan Karadzic, dan Ratko Mladic -- harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di mahkamah internasional di Den Haag.

Jadi? Kasus sodomi tersebut, kata Pak Io, bukan merupakan sodomi cinta kaum LGBT. Tapi penghinaan tentara yang menang perang terhadap tentara kalah perang.

Lalu bagaimana sodomi antar LGBT yang berbasis cinta? Terlarang, dikutuk Tuhan? Ceritanya panjang.

Sayangnya Dedy Corbuzer tidak mewawancarai Prof. Dr. Musda Mulia, Gubes UIN Jakarta, yang pernah berkunjung menyaksikan pernikahan antarpria muslim di sebuah tarekat tasawuf di Afrika.

Kata Prof. Musdah banyak ulama Islam zaman dulu yang LGBT. Dan kontribusi ulama yang LGBT tersebut sangat besar dalam mengembangkan Islam. ³Salah satunya yang amat terkenal adalah Maulana Jalaluddin Rumi, penyair dan filsuf muslim yang kitab-kitabnya sampai sekarang masih best seller di Barat, melampaui buku-buku sastra terlaris karya novelis Ernest Hemingway.

Di Amerika misalnya seperti ditulis Denny JA, 8 dari 10 orang warga Uncle Sam tidak membaca Quran.Tapi sebaliknya, 8 dari 10 warga AS tersebut, membaca puisi Rumi yang sangat Islamis. Sampai hari ini tak ada kalimat bijak dan inspiratif yang paling banyak dikutip manusia sejagad seperti baik-bait puisi Jalaludin Rumi. Mastnawi, salah satu karya masterpiece Rumi, oleh sebagian sastrawan dan filsuf, dianggap sebagai Qur'an kedua.

Harus kita akui, kitab suci agama-agama Semit memang secara umum kurang luas dalam membahas LGBT itu. Sehingga di sana hanya ada dua gender pria dan wanita. Padahal genderitas dalam kehidupan sehari hari banyak sekali.

Hal tersebut terjadi,menurut penelitian neurosains mutakhir, karena perbedaan kadar hormonal di otak manusia yang tercipta sejak embrio. Dari aspek hormonal inilah seharusnya kita melihat LGBT. Sifat-sifat kelelakian dan keperempuan manusia tergantung kadar hormon

Mereka manusia yang tak minta dilahirkan dalam kondisi seperti itu. Lalu salahkah mereka?

Neurolog, dr. Ryu Hasan menjelaskan bahwa seseorang bisa memiliki orientasi seksual Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) berawal dari adanya bakat yang didapat semenjak lahir. Hal itu disebabkan adanya kekurangan atau kelebihan hormon Estrodial dalam kandungan.

"Ada yang Estrodialnya berlebihan, ada yang kekurangan. Makanya memang berbeda-beda tergantung dari pada saat di kandungan. Nah, bakat itu berawal dari situ," ujar Ryu Hasan di Kantor LBH, Jakarta, Selasa (9/2/2022).

Menurutnya, bakat tersebut dapat tercipta jika ada hal-hal yang memicu.

Bagaimanapun, jika bakat tersebut tidak ada pemicunya, maka bakat tersebut tidak akan muncul secara alamiah. Kelompok LGBT saat ini, merupakan orang-orang yang mempunyai bakat tersebut dan terpicu.

Ryu menjelaskan bahwa semua manusia di bumi ini, saat masih berada di kandungan sebelum minggu ke 6, mempunyai jenis kelamin wanita, tanpa kecuali.

Kemudian, minggu berikutnya, baru dapat dibedakan antara perempuan atau laki-laki tergantung dari resapan testoteron yang diserap oleh ibunya.

"Tidak ada manusia yang 100 persen laki-laki dan 100 persen perempuan, dan tidak mungkin jika laki-laki yang mempunyai testoteron tinggi, kemudian bisa serta merta menjadi perempuan," ujar Ryu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat pria kemayu, gadis tomboy, laki atau perempuan suka dengan sesama jenis; bahkan ada yang biseksual (suka dengan pria maupun wanita).

Manusia sejagad bisa menikmati keperkasaan petenis legendaris perempuan seperti Martina Navratilova dan Serena Williams karena faktor-faktor hormonal tersebut. Salahkah Martina dan Serena! Alam yang melahirkannya. Dan manusia sejagad mengagumi Martina dan Serena. Masih banyak wanita perkasa di cabang olah raga lain seperti angkat besi, lari marathon, dan tinju yang mengagumkan dunia. Semua itu terjadi karena faktor hormonal tadi. Hidup pun makin indah dan variatif jika melihat fakta-fakta adanya kaum LGBT tersebut secara positif.

Di Indonesia, salon yang dikembangkan Rudy Hadi Suwarno, misalnya, menjadi inspirasi bagi pengusaha alat-alat kecantikan sampai hari ini. Begitu pula dunia model berkembang pesat dengan adanya tangan-tangan terampil dari kaum LGBT.

Tak banyak orang tahu jika almarhum Prof. Benedict Andersen, Indonesianis dari Cornell University, New York, yang amat terkenal itu, adalah bagian dari LGBT. Saya tahu karena pernah tiga hari menginap di rumahnya di Cornell.

Menurut Pak Ben -- begitu panggilan akrabnya -- justru banyak agama dan kepercayaan lokal yang menerima kehadiran kaum LGBT. Di kerajaan Bugis dan Jawa, misalnya, kehadiran kaum LGBT mendapat apresiasi kraton. Sampai hari ini, yang namanya Warok -- elit Reog Ponorogo yang umumnya LGBT keberadaannya secara kultural diakui dan tetap dihormati masyarakat lokal, kata Pak Ben. Anehnya, agama-agama mainstream terutama yang datang dari Timur Tengah intoleran terhadap LGBT.

Pada akhirnya, mau tak mau, kita harus mengakui bahwa kaum LGBT ada di rumah kita. Ada di sekeliling kita. Negara-negara Barat sudah mengakui realitas ini. Lalu memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk melegalkan pernikahan mereka.

Ah, aku jadi ingat cerita indah dari Budha ketika ditanya muridnya.

Murid: Guru, Kenapa hal hal yang tertulis dalam kitab suci banyak bertentangan dengan kenyataan hidup sehari-hari?

Budha: Kalau begitu ubahlah kitab suci itu agar sesuai dengan kenyataan hidup sehari-hari. Sebab semua manusia bahkan semua makhluk berhak untuk bahagia. (*)

Syaefudin Simon, kolumnis, almunus FMIPA UGM.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top