Opini

AM Hendropriyono

Pesan dari Mahaguru Intelijen

Pesan dari Mahaguru Intelijen

Oleh: Khairi Fuady

SETELAH viral dikabarkan terbaring sakit, Prof. AM. Hendropriyono kembali tampil di depan publik dengan gagah dan flamboyan dalam acara Halal bi Halal yang diselenggarakan di gedung Sekar Wijaya Kusuma, Jakarta. Mengenakan setelan jas coklat tua, kopiah kuning keemasan, serta kacamata hitam, Prof. AMH berpidato dengan ditemani Sang Isteri, Ibu Taty Hendropriyono.

Ia mengucap banyak kalimat syukur dan terima kasih kepada Tuhan, serta atas kebaikan orang-orang terdekatnya. Sebagai seorang tokoh, ia menyadari betul bahwa kehadiran orang-orang tersayang dalam kehidupannya adalah salah satu faktor kenapa hingga hari ini ia berdiri kokoh.

Hendropriyono malang melintang dalam dunia telik sandi dan perpolitikan nasional. Jika ada perbincangan publik tentang dunia intelijen, namanya adalah salah satu yang paling kerap disebut. Pertama karena kiprahnya, kedua karena memang ia menjalani proses akademik hingga mendapatkan gelar guru besar di bidang tersebut.

Di usia yang pada momentum ulang tahunnya tempo hari sudah menginjak usia 77 tahun, ia dengan hangat berbincang dengan para peserta yang hadir dalam acara halal bihalal. Salah satu yang ia tekankan adalah bahwa kebersamaan dan kesetiaan menjadi modal yang harganya tak ternilai. Karena itulah ia menyapa satu per satu sahabat serta orang-orang terdekat yang ia anggap membersamainya dalam perjalanan.


Ia juga bernostalgia tentang salah seorang seniornya di dunia militer yang dianggap sangat berjasa, yakni Almarhum Widjojo Soedjono yang baru saja tutup usia dan kembali kehadiran Rabb-nya. Bagi AMH, Jenderal TNI adalah mentor dan inspiratornya dalam perjalanan karir militer. Seorang prajurit utama yang bijak, cerdas, berani, tabah, tangkas, dan kuat.

Kepada generasi muda, AMH menitipkan pesan untuk menjaga Pancasila, Undang-Undang Dasar 45, dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Ihwal Pancasila, secara khusus ia mengulas tentang Kemanusiaan. Sebuah kata yang terletak pada sila kedua, namun baginya menjadi inti dari kandungan Pancasila. Sebab kemanusiaan lah yang akan menghantarkan kita pada sikap tenggang rasa, gotong royong, akhlak budi, dan juga keadilan.

Ketuhanan yang tak berjalan seiring dengan kemanusiaan, menurutnya, akan berpotensi menyebabkan disintegrasi karena kebenaran yang monopolistik. Sementara jika Ketuhanan dan Kemanusiaan berjalan seiring, maka persatuan dan keadilan akan terwujud. Oleh karena itu ia berpesan kepada generasi muda agar menjaga Pancasila, dan menjaga prinsip Kemanusiaan kita. Prinsip yang memuliakan kita semua. Sebagaimana petuah dari Mahatma Ghandi:

"You must not lose faith in humanity. Humanity is like an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty."

(Kamu tidak harus kehilangan keyakinan dalam kemanusiaan. Kemanusiaan laiknya samudera; jika beberapa tetes lautan kotor, lautan tidak menjadi kotor).



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top