Catatan dari Senayan

Kevin/Ahsan

Tak Ada Kadrun dan Kampret di Olahraga

Tak Ada Kadrun dan Kampret di Olahraga

MUNGKIN luput dari pengamatan banyak orang bahwa nasionalisme dan toleransi itu adanya terutama di dunia olah raga. Contoh kongkret kebetulan saat ini ada dua event penting olahraga di sekitar kita. Thomas Cup dan Uber Cup di Bangkok, dan SEA Game di Vietnam. Juga tidak jauh-jauh kita cermati tim nasional sepakbola kita, para pemain berasal dari berbagai suku bangsa, warna kulit, dan agama. Semua pemain yang sangat heterogen itu sama-sama membela Indonesia.

Demikian pula para atlet di tim Thomas Cup dan Uber Cup kita. Juga berasal dari beragam suku, golongan, dan agama. Lihatlah pasangan ganda Muhamad Ahsan dan Kevin Sukomulya. Mereka berbeda suku, agama, dan warna kulit. Tapi keduanya bekerjasama dengan baik, bahu membahu untuk membela bangsa dan negara. Ketika pasangan ganda itu memenangi pertarungan melawan ganda Jepang, keduanya melampiaskan kegembiraannya dan berdoa menurut agama masing-masing. Di sini tercermin toleransi di antara mereka.

Di mata penonton Indonesia, yang menyaksikan langsung di lapangan, melalui televisi atau media lainnya, semuanya memberikan dukungan dan support kepada para pemain tanpa memedulikan suku dan agama para pemain. Mereka ikut berdebar dan terbawa perasaan ketika tim nasional kita bertanding. Semuanya ingin tim kita menang dan merah putih berkibar.

Tentunya di cabang olahraga lainnya pun demikian. Terjadi hal yang sama. Selalu ada keberagaman, selalu tercermin nasionalisme dan tolerasi. Para pemain berbaur sebagai sesama anak bangsa. Semua suku bangsa dari agama dan golongan yang bermacam ramai-ramai mensupport dengan derajat yang sama. Tidak dikenal istilah kadrun dan kampret di olahraga.

Itulah olah raga. Pemain dan penonton sama-sama memfokuskan untuk kemenangan tim nasional Indonesia. Tak ada sekat agama, suku, dan warna kulit. Ketika tim Indonesia menang, semuanya larut dalam kegembiraan. Sebaliknya saat tim kita kalah, semua tenggelam dalam kesedihan.

Mengapa ini hanya terjadi di sektor olahraga? Andai nasionalisme dan toleransi ini ada di sektor lain, alangkah indahnya. Keberagaman adalah keniscayaan. Karena itu perlu diikat dengan nasionalisme dan toleransi yang tinggi.

Tuhan menciptakan manusia dengan beragam latar belakang. Meskipun demikian berbagai perbedaan itu tidak harus menyebabkan kita bercerai berai. Bahkan Tuhan dalam QS Alhujurat:13 menyebut diciptakannya keberagaman latar belakang manusia itu agar saling mengenal, lita'arafu.

Keragaman bukan untuk berpecah belah dan saling memusuhi, melainkan untuk saling mengenal dan menyayangi. Dengan pengenalan yang baik, akan terjalin kedekatan, kerja sama dan bisa saling memberikan manfaat. Ya kita hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama, dan memakan dari hasil tanaman di bumi yang sama. (*)



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top