Opini

Mata-Mata di (Sekitar) Ka’bah?

Mata-Mata di (Sekitar) Ka'bah?

Mata-Mata di (Sekitar) Ka'bah?

Oleh: Ahmad Rofi" Usmani

"BENARKAH ia seorang mata-mata?"

Demikian seru kencang dua bibir saya beberapa hari yang lalu. Ya, bibir saya berseru demikian, beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang membuka dan menyimak halaman demi halaman sebuah novel dengan judul sangat menarik yang saya terima hari itu, "Mata-Mata di (Sekitar) Ka"bah (Jâsus fî Al-Ka"bah)". Lama novel, yang berhasil menjadi salah satu "best seller books 2021" di Mesir itu, saya simak.

Menurut pengakuan Mustafa Obeid, novel itu ia susun karena dipicu rasa penasaran selepas menyelinap ke sebuah makam di sebuah pemakaman besar di Kairo, Mesir. Banyak masyarakat setempat yang memandang makam tersebut sebagai makam orang saleh. Dipicu rasa ingin tahu untuk mengetahui lebih jauh tentang tokoh tersebut, Obeid pun melakukan riset, riset dan riset. Akhirnya, lahirlah novel historis tentang tokoh asal Swiss tersebut. Dengan judul yang mengagetkan: "Mata-Mata di (Sekitar) Ka"bah".

Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah, sejak lama, memang "menjadi incaran" para pengelana dan petualang non-Muslim dari Eropa. Apapun motivasi dan tujuan mereka. Tidak aneh jika sejak 1503 tidak kurang dari 25 pengelana dan petualang non-Muslim berhasil "menyelundup" ke dua Kota Suci itu. Berkaitan "penyusupan" tersebut, Paul Lunde dalam tulisannya berjudul "The Lure of Mecca" (Saudi Aramco World, November/Desember 1974) mengemukakan:

"Di masa silam, meski adanya larangan yang sangat keras dan meski perjalanan haji merupakan perjalanan yang lama, sulit, dan berbahaya, para penyusup bukan tiada. Antara 908-1349 H/1503-1931 M, misalnya, ada sekitar 25 pengelana dan petualang Barat yang berhasil menyusup ke dalam Kota Suci kaum Muslim itu. Mereka termasuk seorang turis dari masa Renaissans, seorang tawanan perang Inggris, seorang mata-mata Spanyol, seorang ilmuwan asal Swiss, dan seorang penerjemah sebuah karya klasik, Alf Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam)."

Ludovico di Varthema, seorang petualang asal Bologna, Italialah yang memulai "penyusupan" tersebut. "Penyusupan" itu terjadi pada 1510 M. Petualang yang semasa dengan Vasco da Gama dan Leonardo da Vinci itu berhasil menyusup ke Madinah dan Makkah. Petualang non-Muslim berikut yang berhasil menyusup ke Makkah adalah Vincent Leblanc, seorang pelaut Perancis asal Marseilles. Pelaut Perancis itu mengunjungi Makkah sekitar 1568 M. Johann Wild, seorang anak muda asal Austria, adalah non-Muslim berikut yang berhasil memasuki Makkah. Kisah petualangannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah karya berjudul Neue Reisbeschreibung eines gefangenen Christen.

Seorang warga Exeter, Inggris, Joseph Pitts, adalah penyusup selepas Johann Wild. Selama empat bulan berada di Kota Suci itu, ia berhasil masuk ke dalam Ka"bah dua kali. Duh! Menurut ia, di dalam Rumah Allah itu tidak ada apa-apa! Kisah petualangannya kemudian ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul A Faithful Account of the Religion and Manners of the Mahometans.

Penyusup berikut adalah seorang petualang flamboyan asal Spanyol. Bernama asli Domingo Badia y Leblich, pada Dzulqa"dah 1221 H/Januari 1807 M ia tiba di Makkah. Untuk naik haji dengan memakai nama "Ali Bey Al-"Abbasi. Ternyata, ia adalah seorang mata-mata yang dikirim Napoleon Bonaparte. Tentu saja, untuk mengamati situasi dan kondisi Timur Tengah kala itu. Kisah petualangannya kemudian ia tuangkan dalam sebuah karya berjudul The Travels of Ali Bey el-Abbassi in Africa and Asia.

Itulah kisah beberapa penyusup non-Muslim yang berhasil "menembus" Makkah Al-Mukarramah. Memang, masih ada beberapa penyusup non-Muslim lain. Mereka juga berhasil memasuki kota yang terletak dekat garis 21 derajat Lintang Utara dan garis 40 derajat Bujur Timur itu. Antara lain adalah Ulrich Jaspar Seetzen (seorang pakar kajian Arab dan ahli botani asal Jerman yang bekerja di lingkungan Czar Rusia dan akhirnya terbunuh di Yaman) dengan karyanya Reisen durch Syrien, Palästina u.s.w., Sir Richard F. Burton (seorang tokoh Inggris) dengan karyanya A Personal Narrative of a Pilgrimage to Al-Madinah and Makkah, Giovanni Finati (warga Italia dan mantan anggota pasukan Napoleon Bonaparte), Leon Roches (seorang perwira Perancis) dengan karyanya Trente-deux ans à travers l"Islam, G.A. Wallin (seorang orientalis Finlandia), John Fryer Keane (seorang warga Inggris), C. Snouck Hurgronye (seorang orientalis Belanda) dengan karyanya Mekka, mit Bilderatlas, Gervais Courtellemont (seorang fotografer keturunan Perancis-Aljazair) dengan karyanya Mon Voyage à la Mecque, dan Arthur J.B. Wavell (seorang perwira Inggris) dengan karyanya A Modern Pilgrim in Mecca.

Kini, siapakah tokoh utama novel berjudul Jâsûs fî Al-Ka"bah tersebut? John Lewis Burckhardt, itulah namanya.

Menimba Ilmu di Universitas Cambridge

Lahir di Lausanne, Swiss pada 22 November 1784 M (atau 10 Muharram 1199 H seperti tertera di nisannya di Kairo), John Lewis Burckhardt, ternyata, berasal dari keluarga bangsawan kaya dari Basle. Nama aslinya, di Swiss, adalah Johann Ludwig (atau Jean Louis) Burckhardt. Ketika Napoleon Bonaparte menyerang Swiss, keluarga ini turut merasakan akibatnya. Sanak keluarga Burckhardt ikut terlibat dalam upaya perlawanan terhadap pendudukan Perancis di Bern dan kota lainnya. Namun, pasukan Perancis lebih kuat. Gagallah perlawanan tersebut. Malah, tentara pendudukan itu berhasil merampas harta benda penduduk setempat. Yang rencananya diperlukan Napoleon untuk membiayai ekspansinya ke Mesir.

Dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan tersebut, John Lewis Burckhardt pun memutuskan migrasi ke Inggris. Sebelum menuju ke Inggris, ia singgah lebih dulu di Universitas Leipzig dan Gottingen, Jerman. Untuk menimba ilmu beberapa lama. Namun, pendudukan Napoleon merusakkan segalanya. Ia kehilangan kesempatan baik untuk belajar di dalam negeri. Sebagaimana pernah dicita-citakan Burckhardt dan keluarganya.

Kepergian John Lewis Burckhardt ke Inggris, pada 1806 M, semata atas dasar pertimbangan bahwa negara itu mampu melakukan perlawanan terhadap upaya penjajahan Napoleon Bonaparte: satu hal yang tidak dapat dilakukan Jerman sekalipun. Sehingga, ia memutuskan untuk meninggalkan Leipzig. Ia betul-betul ingin dapat belajar secara serius dan mengembangkan diri di dunia akademis.

Selama berada di London, John Lewis Burckhardt kerap melibatkan diri dengan sebuah perhimpunan orang-orang Afrika: Association for Promoting the Discovery of the Interior Parts of Africa. Ternyata, ia mempunyai minat untuk menyusuri Benua Afrika. Hal yang menggoda perhatiannya sebenarnya sepele: ia merasa penentuan letak aliran Sungai Niger yang ia lihat pada sejumlah peta Benua Hitam ini cukup mengganggu. Hubungannya yang erat dengan perhimpunan orang-orang Afrika ia maksudkan untuk mendapatkan informasi semaksimal mungkin tentang benua yang sebagian besar masih tertutup itu. Baik letak geografisnya maupun adat istiadat masyarakatnya.

Nah, ketika berada di London, perhatian John Lewis Burckhardt tertuju pada bagaimana cara menyusuri Sungai Niger. Dari arah utara. Ia berpandangan, ia dapat melakukannya mulai dari arah barat Kairo. Bersama rombongan jamaah haji yang pulang selepas menunaikan rukun kelima Islam di Makkah. Untuk mengenal tradisi dan kebiasaan masyarakat kawasan itu, ia pun memelajari bahasa Arab bahasa baku (fushah) di sebuah universitas kondang di Inggris: Universitas Cambridge. Ya, di Universitas Cambridge.

Selepas bermukim selama sekitar tiga tahun di Inggris, John Lewis Burckhardt kemudian mengarahkan pandangannya ke Suriah. Ternyata, belajar bahasa Arab baku tidak banyak menolong dirinya. Dalam perjalanannya dari Malta menuju Halb (Aleppo), pada 1809 M, ternyata bahasa Arab baku itu tidak berlaku. Masyarakat di wilayah tersebut lebih banyak menggunakan bahasa pasaran. Ia pun lantas belajar bahasa Arab yang tidak ia dapatkan di universitas itu. Kali ini, ia belajar bahasa Arab dengan cara bergaul bersama masyarakat setempat. Ia melatih berbicara sehari-hari dengan mereka yang sebagian telah menjadi teman dekatnya, orang-orang Arab Kristen. Malah, seperti keluarga. Lambat laun ia mulai meresapi nilai-nilai sosial, moral, dan keyakinan mereka. Di samping itu, ketika dalam perjalanan ini ia mendengar "cerita burung" tentang sebuah kota misterius dan hilang: Petra.

Di sisi lain, Burckhardt menyadari, tujuannya semula adalah memerbaiki atlas Benua Afrika. Caranya, dengan mengadakan penelitian langsung ke tempat itu. Ia tidak mengharap apa-apa kecuali bahwa yang ia lakukan itu dapat bermanfaat bagi umat manusia, hal yang sebenarnya telah lama ia cita-citakan. Namun, ketika berada di tengah-tengah masyarakat Arab, ia merasakan ada banyak hal yang harus ia pelajari. Menurut ia, semua itu juga tidak kalah penting nilainya.

Mengaku Sebagai Muslim India

Selepas selama dua setengah tahun bermukim di Suriah, John Lewis Burckhardt akhirnya mampu memerbaiki bahasa Arabnya. Kali ini, dengan logat Suriah. Malah, penguasaan bahasa Arabnya lebih bagus ketimbang bahasa Turki yang telah lebih dulu ia pelajari. Dalam perjalanan yang ia lakukan. Ingatannya pun menjadi terlatih untuk membedakan berbagai kesulitan makna, kata, dan pernyataan antara dua budaya Arab dan Turki yang banyak ia kunjungi. Selain itu, ia secara khusus mulai memelajari Alquran. Yang kelak banyak mengubah pandangan dan makna hidupnya.

Selama di Suriah pula, John Lewis Burckhardt banyak memelajari berbagai aspek budaya Arab. Ia pun melihat adanya nilai sosial khusus yang dimiliki masyarakat Arab. Ini sebagaimana yang digambarkan dengan istilah "demokrasi gurun pasir". Ia melihat, ada keseimbangan antara nilai individual dan sosial dalam budaya Arab dan Islam: bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan sebagai individualisme ekstrim yang menafikan ikatan keluarga di Barat.

Perhatian John Lewis Burckhardt yang serius itu lambat laun menguasai pikirannya. Barang kali hal itu juga telah membuat ia kian jauh dari tujuannya semula: menyusuri Benua Afrikaa. Padahal, ketika masih berada di London, ia mendapat banyak dukungan dari Association for Promoting the Discovery of the Interior Parts of Africa. Malah, perhimpunan tersebut telah mengeluarkan biaya sekadarnya untuk membujuknya. Sebelumnya, perhimpunan tersebut juga telah mengirimkan beberapa orang dari Inggris dan Jerman untuk mengadakan penelitian ke Afrika. Namun, kebanyakan mereka menemui ajal di Benua Hitam itu. Ini karena ganasnya medan dan kurangnya pertolongan medis.

Namun, John Lewis Burckhardt yakin dirinya akan dapat melaksanakan tujuan itu. Tanpa harus mengabaikan hal-hal baru dalam perjalanan. Tidak hanya terbatas pada masalah agama. Namun, juga semua yang ia lihat di daerah-daerah yang ia kunjungi. Termasuk adat pernikahan, perceraian, lagu, jenis makanan, malah musik, telah menarik perhatiannya. Berkaitan dengan musik, misalnya, ia menilai bahwa budaya Arab memiliki ciri melodi yang kuat. Malah, berlebihan. Sedangkan kebanyakan bangsa-bangsa lain, baik di Timur maupun di Barat, lebih banyak bertumpu pada harmoni.

Pada 1227 H/18 Juni 1812 M John Lewis Burckhardt meninggalkan Damaskus Suriah. Kini, ia menapakkan kakinya ke selatan, melintasi wilayah Suriah (kala itu meliputi pula Lebanon dan Palestina) menuju Mesir. Ia mengarungi lembah, gurun pasir, dan tempat yang sulit dilintasi. Tak aneh jika dalam perjalanannya ini ia beberapa kali dirampok. Oleh lanun gurun pasir yang terkenal ganas dan kejam. Dalam petualangannya ini, ia selalu mengenakan pakaian Arab dan menggunakan nama Syeikh Ibrahim bin Abdullah. Ia mengaku sebagai seorang Muslim India. Hal itu ia lakukan selepas ia memelajari Islam secara serius. Ia pun mulai melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-seharinya. Baik sendiri maupun bersama. Ia baru menyatakan keislamannya beberapa waktu kemudian.

Menemukan Petra

John Lewis Burckhardt, dalam perjalanannya menuju Mesir ini, melintasi wilayah-wilayah gurun pasir dan pegunungan di timur Jordania serta wilayah yang berbatasan dengan Laut Mati. Nah, ketika dalam perjalanan antara Nazareth dan Kairo, ia mendengar dari beberapa penduduk setempat bahwa di sebuah lembah tidak jauh dari situ, tidak jauh dari sebuah situs yang dikatakan sebagai Makam Nabi Harun a.s., ada reruntuhan bekas kota kuno. Petra, itulah nama kota tua itu.

Kota Petra? Bagaimanakah sejarah kota tersebut?

Berkaitan dengan Petra, Owen Jarus, dalam sebuah tulisannya berjudul "Petra: Ancient City of Rock" (dalam LiveScience), mengemukakan:

"Terletak sekitar 185 kilometer di sebelah barat daya Amman, Jordania, Petra adalah kota kuno yang secara harfiah diukir di tebing gurun pasir merah. Arsitektur kuno indah dan keindahan alamnya menarik perhatian orang. Dari berbagai penjuru dunia. Pengambilan sebagian dari film "Indiana Jones and the Last Crusade" dilakukan di Petra. Sehingga, membuat film itu sangat populer. Hingga dikuasai oleh Roma pada 106 M., Petra menjadi ibukota bagi orang Nabatea. Mereka menulis dengan menggunakan bahasa Aramia dan mengendalikan kafilah-kafilah dagang. Di seluruh kawasan itu.

Penyebutan paling awal tentang orang-orang Nabatea ini bermula sejak 312 SM. Ketika itu, mereka tampaknya mempertahankan diri dari serangan oleh Antigonus, salah seorang penerus Alexander Agung. Pada tahun-tahun awal ini, orang-orang Nabatea diyakini masih hidup nomaden. Kala itu, Petra mungkin merupakan tempat kemah-kemah dipancangkan dan bangunan sederhana. Hal ini berubah ketika kafilah-kafilah dagang berkembang. Sehingga, Petra menjadi pusat perdagangan. Antara Semenanjung Arab, Mesopotamia, Mesir, dan Mediterania Timur. Kota ini mencapai puncak perkembangannya sekitar 2.000 tahun yang lalu. Dengan populasi sekitar 20.000 orang.

Belakangan, setelah dikuasai Kekaisaran Romawi, kafilah-kafilah dagang mengecil. Meskipun kota itu masih ditempati hingga Masa Pertengahan, kota itu pernah dilanda sederet gempa. Sehingga, akhirnya, kota itu ditinggalkan. Kota itu "ditemukan kembali" oleh Johann Ludwig Burckhardt pada tahun 1812 dan kini merupakan objek wisata utama."

Pura-pura ingin berkurban seekor domba di dekat makam Nabi Harun itu, John Lewis Burckhardt meminta seorang penunjuk jalan setempat untuk mengantarkan dirinya ke tempat reruntuhan itu. Di situ, ia menyaksikan makam kuno yang sangat luas dan peninggalan kuil dari zaman Romawi. Melihat semua itu, ia yakin reruntuhan itu adalah Kota Petra. Namun, ia tidak berani berlama-lama berada di situ. Selepas menyembelih domba korban yang ia bawa, ia kemudian bergabung dengan rombongan dan meneruskan perjalanannya menuju Kairo. Karena itu, ia kemudian tercatat dalam sejarah sebagai orang pertama yang menemukan kembali Kota Petra.

Berkaitan dengan penemuan Petra tersebut, John Lewis Burckhardt menuturkannya secara rinci dalam sebuah karyanya berjudul Travels in Suriah and the Holy Land:

"Agustus 1812 M. Kala itu, saya berhasrat sekali untuk mengunjungi Wadi Musa (Lembah Nabi Musa), sebuah lembah kuno yang ceritanya saya dengar dari warga setempat. Mereka membincangkannya dengan penuh kekaguman. Selepas melintasi puncak gunung, dekat tempat di mana jalan menuju Wadi Musa menyimpang dari jalan besar menuju Akaba, terdapat sejumlah tumpukan batu kecil. Batu-batu itu menunjukkan: begitu banyak kurban telah dipersembahkan untuk Harun (Harun, saudara Nabi Musa). Orang-orang Arab, yang bernazar akan menyembelih seekor hewan korban untuk Haroun, berpikir bahwa cukup dengan melakukannya di tempat ini, sementara kubah makam terlihat di kejauhan. Dan, selepas menyembelih hewan kurban tersebut, mereka kemudian melemparkan tumpukan batu di atas darah yang mengalir ke tanah. Di sini, pemandu saya mendesak saya untuk menyembelih kambing yang saya bawa dari Syubak, demi tujuan yang sama. Namun, saya pura-pura telah bernazar akan melaksanakan korban di makam itu sendiri.

Di atas bukit yang berada di atas (mata air) Ain Musa, orang-orang Arab Lyathene (suku Badui) berkemah. Mereka juga yang mengolah Lembah Mousa. Kami berupaya memerbaiki perkemahan mereka. Namun, kehadiran kami, ternyata, diterima dengan sikap tidak begitu ramah. Seperti malam sebelumnya. Ain Musa merupakan mata air yang berlimpah. Air memancar kencang. Dari bawah batu di ujung timur Wadi Musa."

Mengenai penemuan Petra ini, John Lewis Burckhardt lebih jauh menuturkan:

"Selepas melintasi mata air, menyusuri tepi anak sungai selama sekitar dua puluh menit, memasuki lembah terbuka, dan mengarah ke dataran sekitar seperempat jam panjangnya dan sepuluh menit lebarnya, di situ terdapat anak sungai yang bergabung dengan air lain yang turun dari gunung menuju ke arah selatan. Tidak jauh dari kaki gunung, di sudut yang terbentuk oleh persimpangan dua anak sungai, di situ terdapat Eldjy, desa utama Wadi Musa. Tempat ini "dihiasi" sekitar dua dan tiga ratus rumah dan dikitari oleh dinding batu dengan tiga gerbang biasa. Tempat itu berada di lokasi yang paling indah dan dihuni oleh suku Lyathene yang seperti telah dikemukakan di atas, bagian dari orang-orang Badui yang berkemah sepanjang tahun di pegunungan yang berdekatan. Lereng gunung dekat kota dibentuk menjadi teras buatan, ditutupi ladang jagung dan perkebunan pohon buah-buahan. Lereng itu diairi dua anak sungai dan banyak mata air kecil yang turun ke lembah di bawah Eldjy, di mana lahannya juga diolah dengan baik.

Saya menyewa seorang pemandu di Eldjy. Untuk mengantarkan saya ke Makam Harun. Saya membayarnya dengan sepasang sepatu kuda tua. Ia membawa seekor kambing dan memberi saya seember air untuk dibawa. Ini karena ia tahu, di wadi di bawah tidak ada air.

Ketika menyusuri anak Sungai Eldjy ke arah barat, lembah segera menyempit lagi. Di sinilah peninggalan lama Wadi Musa bermula. Berkaitan dengan semua ini, saya menyesal tidak dapat memberikan catatan yang sangat lengkap. Namun, saya tahu betul karakter orang-orang yang ada di sekitar saya: saya di tengah-tengah gurun pasir ini. Saya tanpa perlindungan apa pun. Juga, tidak ada seorang musafir pun yang pernah terlihat sebelumnya. Pemeriksaan cermat atas karya-karya orang-orang kafir ini, demikian sebutannya, tentu akan menimbulkan kecurigaan bahwa saya adalah seorang pesulap yang sedang memburu harta karun. Karena itu, setidaknya saya harus ditahan dan dicegah untuk melanjutkan perjalanan saya ke Mesir. Malah, kemungkinan besar saya akan kehilangan sedikit uang yang saya miliki, di samping buku jurnal saya yang jauh lebih berharga bagi saya.

Para wisatawan yang akan datang dapat mengunjungi tempat itu di bawah perlindungan angkatan bersenjata. Penduduk akan menjadi lebih terbiasa dengan penelitian orang asing. Dan, barang antik Wadi Mousa kemudian akan ditemukan dan termasuk dalam peringkat tertinggi di antara sisa-sisa seni kuno yang paling aneh."

Naik Haji dan Berpulang di Kairo

Selepas menemukan Petra, berturut-turut John Lewis Burckhardt menemukan amfiteater Romawi, kuburan, dan tempat peribadatan kuno. Menurut ia, peninggalan purbakala itu tidak kalah menariknya dengan yang ia lihat di Sinai.

Setiba di Kairo, John Lewis Burckhardt menyadari, ternyata logat Arab Suriahnya tidak banyak membantu. Ia pun terpaksa menunda rencananya pergi ke Nigeria. Kini, ia memilih untuk tinggal dan memelajari kehidupan di Kairo. Selama di Mesir inilah kajian ketimurannya mencapai puncaknya. Ia menjadi lebih memahami kehidupan keislaman di Dunia Arab. Karyanya tentang pepatah Arab, Arab Proverbs, ia rampungkan selama berada di Negeri Piramid itu. Lewat karya tersebut, ia mengenalkan metode baru untuk memahami kehidupan di Timur lewat sajak-sajak yang beredar di kalangan masyarakatnya. Lembaga Al-Azhar dan Sungai Nil pun tidak lepas dari perhatiannya.

Ketika pergi ke Sudan untuk bergabung dengan rombongan jamaah haji Afrika di Nubia, John Lewis Burckhardt menemukan tempat peribadatan Ramseum, yang terdiri dari sekumpulan patung Ramses II. Sejatinya, penemuan tersebut membangkitkan minatnya untuk mengadakan studi kepurbakalaan Mesir. Namun, Islam telah menjadi pilihan pertamanya, dan terakhir, dalam hidupnya. Karena itu, ia lebih banyak mengkaji tentang Islam. Sehingga, karya-karyanya lebih banyak berkisar tentang sejarah Islam. Termasuk Gerakan Wahabiyah di Arab Saudi.

Ketika berada di Kairo, John Lewis Burckhardt sangat berkeinginan untuk naik haji. Ini sejatinya di luar rencananya semula. Namun, itulah saat Islam sangat membara dalam jiwanya. Sejatinya, keputusannya tersebut sangat sulit dan penuh risiko. Karena kala itu Mesir sedang menghadapi gejolak politik yang digerakkan Muhammad "Ali. Penguasa Mesir tersebut, kala itu, menginginkan Mesir lepas dari kekuasaan Turki Usmani. Padahal, masyarakat Mesir menganggap Burckhardt adalah seorang syeikh keturunan Turki yang dilahirkan di Halb (Aleppo), Suriah. Akhirnya, ia memeroleh surat jaminan dari Muhammad Ali dan Ibrahim Pasha, karena dua penguasa itu menganggap ia adalah orang Inggris. Bukan orang Swiss.

Setiba di Makkah, John Lewis Burckhardt pun menyempurnakan keislamannya dengan naik haji. Di Tanah Suci, ia bersimpuh di hadapan Allah Swt. untuk memanjatkan ampunan atas dosa-dosa yang ia lakukan sebelum menemukan Islam. Ia pun merasa menjadi bagian dari ribuan hamba-Nya yang ada di sekitarnya dan jutaan lainnya yang tersebar di berbagai negeri.

Seusai menunaikan ibadah haji, John Lewis Burckhardt kembali ke Mesir. Ia tetap berada di Kota Seribu Menara itu hingga berpulang, dalam usia sekitar 33 tahun, pada 16 Dzulhijjah 1232 H/26 Oktober 1817 M, selepas jatuh sakit karena disentri. Berpulang dengan meninggalkan beberapa karya tulis. Antara lain Travels in Suriah and the Holy Land, Travels in Arabia, dan Notes on the Bedouins and Wahabys. Jenazahnya, berdasarkan wasiat yang ia tinggalkan, dikebumikan sebagai seorang Muslim di Bab El Nasr, Kairo Lama. Pemakamannya dihadiri kaum Muslim yang sebagian adalah para ulama dan syeikh yang menjadi para sahabat dekatnya!

Anda ingin tahu bagaimana sepak terjang John Lewis Burckhardt dalam petualangannya di Timur Tengah? Silakan baca dan simak novel yang ditulis Mustafa Obeid dalam bahasa Arab tersebut. Asyik lo!@ru



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top