Opini

Wardah Nuroniyah

Waisak, Self Control, dan Keadilan

Waisak, Self Control, dan Keadilan

Oleh: Wardah Nuroniyah

WAISAK adalah hari besar yang disucikan dalam agama Buddha. Betapa tidak! Di Hari Waisak, Sang Buddha lahir (623 SM), mengalami pencerahan (588 SM), dan mangkat (543 SM). Ketiga peristiwa penting dalam proses menuju "kesempurnaan hidup" itu berlangsung dalam hari yang sama di tahun yang berbeda.

Buddha - lahir jauh sebelum Islam - adalah agama yang ajarannya menekankan pentingnya self control (pengendalian diri) dalam kehidupan sehari-hari. Melalui self control inilah Buddha mengajarkan kepada manusia untuk hidup dalam keseimbangan. Dengan bahasa Islam, hidup dalam kesimbangan adalah hidup dalam keadilan.

Prinsip hidup seimbang, jalan tengah, atau menegakkan keaadilan sangat krusial dalam menata kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan beragama. Kita tahu, Tuhan pun dalam menciptakan universe, bertopang pada keseimbangan atau keadilan.

"Dialah yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat" (Al-Mulk 3-4). Di surat Al-Mulk ini Tuhan menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan keseimbangan, dengaan kata lain diciptakan dengan keadilan. Dan ciptaan Allah tidak ada yang cacad karena dibuat dengan keadilan.

Keadilan ini perlu ditekankan karena sangat prinsip dalam kehidupan manusia, baik ketika manusia berinteraksi dengan manusia lainnya dalam kehidupan bermasyarakat; ketika manusia membentuk organisasi dalam kehidupan bernegara; maupun ketika manusia berinteraksi dengan dirinya sendiri untuk melakukan self-control.

Sayidina Ali - sahabat Rasul yang mendapat julukan gudang ilmu - menyatakan bahwa keadilan adalah prinsip dan basis dari keimanan seseorang. Lebih-lebih orang-orang yang memegang kekuasaan. Tanpa keadilan, semua urusan baik negara maupun agama, akan hancur.

Dalam dunia hukum ada kredo: tegakkan keadilan meski langit akan runtuh (fiat justitia ruat caelum). Kredo "fiat justitia ruat caelum" yang dicanangkan Lucius Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM) tersebut sampai kini masih aktual dan menjadi buah bibir sepanjang masa dalam dunia hukum.

Barangkali itu pula sebabnya setiap khatib dalam mengakhiri khutbahnya saat shalat Jumat, selalu mengtutip Surat An-Nahl 90, yang artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dalam Surat An-Nahl tadi tertera, keadilan mendahului kebajikan.

Keadilan hanya bisa diperoleh jika orang punya self control yang baik. Dengan self control yang baik manusia mampu berbuat adil. Manifestasi dari sikap dan laku adil ini adalah kebijaksanaan, kesusilaan (moral), dan keteguhan pikiran. Yaitu keteguhan untuk tidak berbuat keji, mungkar, dan haram.

Dari perspektif inilah, kenapa Sayidina Ali sangat marah jika ada orang memanipulasi timbangan dalam transaksi jual beli. Bagi Ali, memanipulasi timbangan adalah merusak universe. Ingat: Allah menciptakan bumi dan langit (universe) dengan hukum-hukum keseimbangan. Hukum-hukum keadilan.

Dari cerita kemarahan Sayidina Ali terhadap manipulator timbangan dagang inilah - pinjam pakar filsafat hukum Prof. Dr. Yudian Wahyudi, Kepala BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) - terlihat dunia mikrokosmos (perbuatan manusia) terintegrasi dengan dunia makrokosmos (dinamika universe). Kesalahan manusia sekecil apa pun yang merusak keadilan akan menyebabkan "gangguan" pada dunia makrokosmos. Dengan bahasa spiritual, dunia makrokosmos adalah manifestasi Tuhan. Sedangkan dunia mikrokosmos adalah manifestasi manusia.

Betapa terintegrasinya dunia mikrokosmos dan makrokosmos -- Edward Norton Lorenz setelah melakukan riset mendalam terhadap kerusakan alam menyimpulkan: bahwa kepakan sayap kupu-kupu yang terganggu di Brazil dapat menimbulkan tornado di Texas. Dalam bahasa lain: kepakan sayap kupu-kupu yang tidak seimbang (mikrokosmos) menimbulkan kerusakan yang lebih luas (makrokosmos).

Dari perspektif inilah, kita seharusnya mengapresiasi perayaan Hari Suci Weisak. Hari suci untuk mengingatkan manusi agar selalu mengendalikan diri (self control) demi menegakkan keadilan.

Selamat Hari Raya Waisak. Semoga keadilan dan kebahagiaan selalu menyertai seluruh umat manusia di muka bumi.

*Dr. Wardah Nuroniyah, Staf Pengajar UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Jakarta.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top