Seni budaya

Joyslin Nagel Lea Werang "Rose"

Perayaan Hari Menggambar, Beragam Eksplorasi Teknik dan Media

Perayaan Hari Menggambar, Beragam Eksplorasi Teknik dan Media

Oleh: Raihul Fadjri

DUA spidol yang digantung dengan tali bergerak melingkar di atas kanvas. Spidol itu digerakkan dengan mesin yang diletakkan di bagian atas kanvas. Gerakan spidol dengan mengandalkan daya gravitasi menorehkan garis bertumpuk-tumpuk dalam warna berbeda. Saat lain jarak antar spidol di ubah, masing-masing dengan jarak lebih dekat atau lebih jauh.

Hasilnya, seperti orang memakai spidol menorehkan susunan garis yang menghasilkan bentuk geometris di atas kanvas. Inilah karya gambar Lenny Ratnasari (Twist Draw, Kinetic Instalatian, 2022) pada pameran bertajuk Addendum di Kersan Art Studio, Yogyakarta, 15 - 28 Mei 2022.


Lenny Ratnasari (Twist Draw, Kinetic Instalatian, 2022)

Pameran ini merupakan bagian dari kegiatan serempak yang diinisiasi Forum Drawing Indonesia di sejumlah kawasan—Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi—dalam rangka Hari Menggambar Nasional yang ditetapkan sekelompok perupa pada 2 Mei 2022. "Drawing atau gambar tidak diposisikan sebagai high art, tapi bisa menyentuh berbagai level latar belakang, profesi, pendidikan, gender, usia, idiologi," ujar Eduard, aktivis Forum Drawing Indonesia, mengutip pembicaraan sejumlah perupa yang menginisiasi kegiatan ini.

Drawing berbasis pada garis, tapi eksplorasi garis pada karya gambar tidak dibatasi. "Artinya, bisa dalam bentuk konvensional atau kontemporer yang memunculkan banyak varian dan kecenderungan visual, teks, konteks, dan interteks," kata Eduard yang dikenal sebagai pelukis dengan nama kanvas Edo Pop.

Sebagaimana karya gambar Lenny Ratnasari yang dikenal sebagai pematung, karya gambar pada pameran ini memang tidak terbatas pada karya gambar dengan teknik dan media konvensional (pinsil, tinta, kertas). Karya Irine Agrivina (Intermolucelar Drawing, 2022), misalnya menjadi tidak sekadar karya gambar konvensional, tapi menjadi lebih rumit dengan melibatkan proses kimiawi.

Karya Irine Agrivina (Intermolucelar Drawing, 2022)

Dia meletakkan empat sobekan kanvas berisi gambar daun di dalam gelas kaca yang diisi cairan, dan di samping masing-masing gelas terdapat tabung kaca yang juga berisi cairan. "Karya ini menunjukkan pigmen fotosintetis serta proses kapilaritas (peresapan) air dengan menggunakan teknik kromatografi (pemisahan molekul) di berbagai daun tanaman yang berbeda yang ditampilkan secara artistik," tulis Irine dalam keterangan karyanya.

Proses yang lebih rumit juga dilakukan Gisela Maria (Jaga Jagad, 2022) yang menggunakan media dari bahan daur ulang aluminium foil plastic. Dia memakai teknik engraving untuk mengukir gambar di atas media hasil daur ulang itu berupa bentuk tangan yang dihiasi bentuk-bentuk dekoratif mirip tekstur dedaunan di sekelilingnya.


Ada perupa membuat karya gambar yang menggunakan media transparan yang dimasukkan ke dalam botol transparan (Laila Tifah, Aku Ingin Sekolah Lagi, 2022), atau menggambar bentuk figur di atas media keramik yang ditempelkan di atas kanvas (Sri Ambarwati Lestari, Jika, Ceramic on Canvas, 2022).

Dalam rangkaian perhelatan yang sama kelompok XXLAB yang mengeksplorasi seni, sains dan teknologi berbasis open sourse software dan hardware menampilkan karya bertajuk EXP: Expericence, Experiment and Exploration. Karya bercorak instalatif yang dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta ini bersama 100-an karya gambar lainnya berupa perangkat yang bergerak menyemprotkan pewarna di atas bentangan kain. Sebagai karya yang bercorak instalatif, pewarna yang disemprotkan ke atas kain diletakkan di dalam tabung yang biasa dipakai untuk tindakan medis—infus—di rumah sakit.


Kelompok XXLAB, EXP: Experience, Experiment, and Exploration; Instlallation, 2022

Atau tengok juga karya Kana Fuddy Prakoso (Fountain Face, 2022) yang dipamerkan di Ruang Garasi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Karya Kana berupa karya instalasi dengan media kertas bergambarkan potret perempuan dari goresan tinta cina. Tapi pada pameran bertajuk Amalgasi yang berlangsung pada 16 - 31 Mei ini juga menampilkan sejumlah karya perupa yang masih mengeksplorasi ketrampilan mereka menggambar dengan menggunakan teknik konvensional. Karya gambar Danny Stamp (Mode In China#1 Semar Mesem, Moden In China#2 Jaran Goyang), misalnya menggunakan tinta dan pinsil berwarna di atas kertas.

Sebagaimana juga karya gambar Dyan Anggraini (Kenya, Pencil on Canvas, 2022) di Taman Budaya Yogyakarta berupa figur perempuan menutup wajahnya dengan kedua tangan dengan latar belakang coretan tulisan tangan, bunga dan bentuk topeng wayang. Atau karya gambar menggunakan pinsil di atas kertas Aprilia Kartini Streit (Your Destiny ini Your Hand Not Theirs, 2022).

Meski dengan menggunakan berbagai media dengan melibatkan teknik yang melewati tradisi menggambar, gerakan menggambar ini setidaknya mengingatkan perupa pada esensi seni rupa: gambar.#


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top