Ekonomi

Petugas medis melakukan tes usap antigen kepada calon penumpang KRL (Kereta Rel Listrik) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (21/6/2021). (Foto/Kompas.com)

Bagaimana Prospek Bisnis Tes Swab saat Kasus Covid-19 Mulai Mereda di Indonesia?

Bagaimana Prospek Bisnis Tes Swab saat Kasus Covid-19 Mulai Mereda di Indonesia?

JAKARTA, SPOST.id - Layanan swab tes menjadi salah satu peluang bisnis dengan prospek tinggi. Namun berbeda dengan kondisi saat ini, bisnis layanan tes swab kian meredup.

Di tahun 2020 silam saat awal penyebaran virus corona, WHO menganjurkan untuk mengedepankan tracking dan tracing hingga tes swab dan vaksin menjadi syarat utama bagi masyarakat untuk dapat beraktivitas di ruang publik, hingga akhirnya bisnis layanan tes swab muncul sebagai peluang usaha baru.

"Mula-mula, orang-orang mengambil inisiatif supaya orang diatas tidak perlu melakukan tracking sendiri hingga mencapai jutaan rupiah. Maka bermunculan lah bisnis-bisnis itu dimana-mana dan diketahui ternyata harganya mahal sekali," kata Akademisi dan Praktisi Bisnis Rhenald Kasali kepada detikcom, Rabu (18/05/2022).

Pada awal kemunculannya, tes swab hanya bisa diperoleh dengan harga yang sangat tinggi hingga mencapai jutaan rupiah. Rhenald mengatakan bahwa memang harga tes swab pada kala itu berbeda-beda di setiap penjuru dunia.

"Yang membuat gempar adalah ketika muncul kabar bahwa harga tes PCR di negara seperti India tergolong jauh lebih murah. Jadilah bergejolak di Indonesia sampai harganya diturunkan oleh pemerintah," ujar Rhenald.

Harga tes swab yang semula bisa mencapai jutaan itu berangsur turun mengikuti batas tarif tertinggi PCR yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjadi senilai Rp 275-300 ribu menurut Surat Edaran Nomor HK.02.02/I/4198/2021 pada tahun 2021 silam.

Layanan tes swab yang dulu ramai pengunjung kini berangsur-angsur meredup. Hal ini terjadi karena angka penurunan kasus COVID-19 kian hari kian menurun.

"Pandemi mulai berkurang, angka kematian mulai menurun, mulai tumbuh optimisme dalam masyarakat. Akhirnya tempat-tempat tes swab mulai kosong," ujar Rhenald Kasali kepada detikcom, Rabu (18/05/2022).

Optimisme itu mendatangkan dua kebijakan baru dari pemerintah, antara lain pelonggaran penggunaan masker di area terbuka dan pelonggaran syarat jalan tanpa tes swab, mengakibatkan bisnis tersebut kian surut. Menurut Rhenald, bisnis tes swab akan meredup dan berkemungkinan untuk mati. Hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara-negara lainnya.

"Masker dan PCR itu dimaksudnya lebih kepada tracking dan tracing, untuk pencegahan. Semakin kesini, terjadi perubahan besar persepsi masyarakat terhadap kesehatan karena pandemi covid ini," tutur dia.

Rhenald juga menambahkan bahwa saat ini yang dicari masyarakat bukan semata-mata pengobatan, tetapi sudah sampai di tahap peningkatan imunitas. Pembicaran tentang imun meningkat, dan bagaimana cara imun dapat terpenuhi dan masyarakat mendapat kekebalan.

"Karena diduga pandemi akan muncul dalam bentuk lainnya, maka konsentrasi masyarakat lebih kepada bagaimana supaya imun terpenuhi dan mendapat kekebalan untuk menghadapi kondisi tidak terduga di masa depan," tambahnya.

Rhenald mengatakan bahwa bisnis-bisnis yang terkena gelombang pandemi memang dituntut untuk selalu beradaptasi dengan cepat sehingga ia yakin bisnis tersebut masih bisa berkembang dan berinovasi setelah kondisi pandemi berubah.

"Sebetulnya karakter bisnis setelah pandemi berubah. Semua pelaku usaha harus selalu beradaptasi dengan cepat. Hampir semua yang memiliki usaha masker bukanlah usaha penuh, melainkan usaha sambilan. Mereka melihat peluang dan mendirikan bisnis tambahan, yang biasanya masih terintegrasi dengan peluang usaha lainnya," ujar dia.

Menurutnya, yang perlu disoroti ialah para pegawai dari bisnis tersebut. Di mana para pegawai punya keahlian dibidang tertentu seperti swaber. Pun demikian mereka harus mencari pekerjaan baru lagi.



0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top