Catatan dari Senayan

Ustaz Abdul Somad ditolak masuk Singapura

UAS Ditolak, Jangan Salahkan Singapura

UAS Ditolak, Jangan Salahkan Singapura

ADALAH berlebihan yang menyalahkan Pemerintah Indonesia atas ditangkalnya Ustaz Abdul Somad yamg akrab disapa UAS masuk ke Singapura. Juga jangan salah Singapura. Semua negara mempunyai kebijakan terhadap orang asing, termasuk Singapura. Itu yang harus kita hormati. Yang bisa kita lakukan adalah meminta penjelasan, atas dasar apa UAS ditangkal. Penjelasan itu penting agar semua pihak mengetahui duduk soalnya secara akurat dan tidak menimbulkan bermacam tafsir. 

Tapi Singapura sudah menjawab mengapa UAS ditolak. Dia tidak dideportasi tapi ditolak masuk ke Singapura oleh otoritas setempat. Kementerian Dalam Negeri Singapura menyebut sejumlah alasan menolak kedatangan UAS di negara tersebut. Salah satu poinnya, UAS dianggap menyebarkan ajaran yang ekstremis dan bersifat segregasi. Singapura juga menyampaikan kritik terhadap pernyataan UAS yang pernah membahas soal bom bunuh diri dalam ceramahnya.

"Somad dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi, yang tidak dapat diterima di masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura," mengutip situs resmi Kemendagri Singapura.

Jika sudah dijelaskan terang benderang begitu tidak ada ruang untuk mempertanyakan lagi. Memang itu menjadi kewenangannya. Kita tak perlu memprotes otoritas Singapura atau menyuruh Singapura meminta maaf. Kita setuju dengan pendapat Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Ahmad Nurwakhid. Menurut dia upaya yang dilakukan Singapura itu tak lebih dari antisipasi dini terhadap potensi ancaman kepada negaranya.

Berkaca dari kasus penolakan UAS i justru menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk juga melakukan pencegahan sejak hulu dengan melarang pandangan, pemahaman dan ideologi radikal yang bisa mengarah pada tindakan teror dan kekerasan.

Singapura saat ini lebih unggul dibandingkan Indonesia dari sisi pencegahan ancaman dan bentuk-bentuk teroris. Negeri tetangga itu melakukan "pre-emptive strike", yakni pencegahan terhadap potensi ancaman aksi yang disebabkan oleh pandangan, doktrin dan ideologi," jelasnya.

Singapura punya landasan hukum bernama Internal Security Act (ISA) untuk melakukan hal itu. Negara tersebut dapat melarang ideologi, pandangan dan pemahaman radikalisme yang mengarah pada aksi terorisme.

Kita juga tidak perlu merasa dilecehkan oleh Singapura. UAS ke Singapura atas nama pribadi, tidak mewakili negara. Sikap dan pemikirannya selama ini pun tidak mencerminkan sikap bangsa dan negara Indonesia. Apalagi menurut catatan UAS juga pernah ditolak masuk atau dideportasi di beberapa negara lain, yakni Timor Leste, Hongkong, Jerman, Belanda, dan Inggris, 

Silakan kalau ada yang tetap membela pandangan UAS, tapi jangan mudah menyalahkan atau mengecilkan negara lain dan negeri sendiri yang melaksanakan otoritas dan kewenangannya.***


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top