Catatan dari Senayan

Ilustrasi

Memaknai Pernyataan 'Ojo Kesusu'

Memaknai Pernyataan 'Ojo Kesusu'

DI DEPAN entitas Pro Joko Widodo atau Projo, Joko Widodo berujar, "Untuk urusan politik ojo kesusu." Jangan tergesa-gesa. Kata dari bahasa Jawa yang pendek itu terjemahan bebasnya juga pendek, jangan tergesa-gesa. Tapi sesungguhnya penuh makna. Apalagi yang dimaksud Jokowi konteksnya adalah pemilihan presiden.

Pemilihan presiden akan berlangsung tahun 2024. Masih dua tahun lagi. Sebetulnya waktu dua tahun itu relatif singkat untuk urusan pilpres. Terutama untuk menentukan calon yang akan diusung. Pernyataan "ojo kesusu" sebenarnya itu bagian dari permintaan Jokow untuk meminta waktu yang cukup kepada Projo dan bangsa Indonesia pada umumnya. Selain karena banyak masalah besar yang memerlukan penyelesaian juga ada kerumitan yang dihadapi Jokowi maupun PDIP.

Kerumitan Jokowi tak terlepas dari kerumitan PDIP. Hingga saat ini PDIP belum mendeklarasikan siapa calon presiden dan wakil presiden. Sebagian fungsionaris PDIP mendorong Puan Maharani untuk maju di Pilpres. Baliho dan poster bergambar Puan disebar di seantero negeri. Tapi belum ada pernyataan resmi bahwa PDIP mengusung putri Megawati itu. Bisa jadi karena dari hasil berbagai survei elektabilitas Puan rendah. Di sisi lain Ganjar Pranowo, juga kader PDIP, elektabiltasnya sangat tinggi. Di sini agaknga Megawati bimbang dalam membuat keputusan.

Padahal sebagai parpol terbesar PDIP ditunggu partai-partai lain untuk memulai mengusung jagonya. Jika PDIP sebagai parpol terbesar belum memulai, koalisi-koalisi lain belum akan resmi dibentuk. Maka "ojo kesusu" adalah kata yang tepat untuk menunggu penyelesaian di internal PDIP dan parpol lainnya.

Di ajokowi sendiri juga ada kerumitan. Benar saat ini Jokowi sebagai Presiden RI masa jabatannya masih dua tahun lagi. Sesudah itu Jokowi bukan siapa-siapa. Dia hanyalah rakyat biasa. Jokowi hanyalah "petugas partai." Secara formal dalam hirarki kepemimpinan di PDI Perjuangan dia tidak punya kuasa untuk menentukan calon presiden dan wakil presiden. Tradisi di PDIP dalam beberapa kali pilpres Ketua Umum Megawati Sukarnoputri sebagai penentu tunggal.

Bisa saja karena pengalaman dan pengabdiannya Jokowi akan didengar sarannya. Belum lagi kalau misalnya sudah ada "deal-deal" antara Megawati dengan Prabowo Subyanto, semacam kesepakatan Batutulis di masa lalu. Memang kita sering mendengar dari sejumlah pengamat Jokowi di Pilpres 2024 akan menjadi king maker. Tapi apalah artinya king maker tanpa power? Apalah artinya pendukung banyak tanpa legitimasi?

Membaca konstelasi politik saat ini dan jika konsisten dengan predikat sebagai petugas partai, kemungkinan besar Jokowi di pilpres 2024 akan menghadapi dua opsi peran. Pertama akan berperan meyakinkan Megawati untuk menyampaikan aspirasi pendukungnya dalam menentukan calon.presiden Atau opsi kedua, sebaliknya Jokowi berperan membantu meyakinkan pendukungnya terhadap acalon pilihan Megawati.

Kerumitan ini yang membuat Jokowi minta waktu untuk berpikir tentang peran apa yang bisa diambil dalam Pilpres 2024 nanti. Jabatan Presiden dua periode merupakan puncak pencapaian. Tapi Jokowi telanjur "memasang" putra dan menantunya sebagai pejabat publik. Jabatan walikota yang disandang putra dan menantunya bisa jadi belumlah memuaskan dirinya. Masih ada keinginan untuk mengantarkan keduanya ke jabatan lebih tinggi. Bukankah Jokowi menapak sampai ke jenjang tertinggii sekarang ini juga dimulai dari "anak tangga" walikota?

Maka kerumitan menghadapi Pilpres 2024 selain terkait urusan parpol juga tentu sulit dilepaskan dari agenda Jokowi sendiri. "Ojo kesusu" mempunyai makna yang dalam untuk memberi waktu Jokowi untuk berpikir keras, menentukan peran yang tepat agar masa kekuasannya berakhir dengan baik dan juga dapat menghantarkan putra dan menantunya sesuai obsesinya dalam kondisi damai bersama barisan kepala banteng mocong putih itu.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top