Seni budaya

LEJAR DANIARTANA, Wayang KK Lejar, 2021

Ketika Seni Kriya Menjadi Bagian Dari Seni Rupa Kontemporer

Ketika Seni Kriya Menjadi Bagian Dari Seni Rupa Kontemporer

Oleh: Raihul Fadjri

SENI KRIYA (craft) kini tak lagi sekadar memproduksi cendera mata dalam mata rantai ekonomi dunia pariwisata, tapi para praktisinya melakukan pendekatan penciptaan sebagaimana karya seni yang tergolong karya seni murni (lukis, patung, grafis). Tengoklah pameran bertajuk Matra Kriya Fest 2022 yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, 21 - 28 Mei 2022. Festival yang diikuti puluhan seniman kriya dan fashion designer dari Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Lampung, Kalimantan Barat hingga Jawa Timur ini tak saja menampilkan karya seni terapan, tapi juga karya seni kontemporer yang menggunakan teknik yang dikenal dalam ranah seni kriya dengan memakai beragam media.


ANTON NURCAHYO, Harmoni Kwek Kwek, Mix Media, 2019

Karya Anton Nurcahyo misalnya, berupa konstruksi rangkaian kawat yang membentuk citraan perangkat gramofon—pemutar piringan hitam klasik— yang berujung pada bentuk geometris dengan bentuk-bentuk kepala unggas berparuh menjulur keluar. Karya bertajuk Harmony Kwek Kwek (2019) ini menggambarkan situasi yang memaksa orang harus terkurung di dalam satu lingkungan, tapi tetap menjaga harmoni. Karya ini masuk 12 nominasi penghargaan pada festival ini.


BUDI HARTONO, Catch Me If You Can, Kuningan, Tembaga, 2021

Bahkan Budi Hartono (Catch Me If You Can, 2021) menampilkan patung berukuran kecil dari bahan kuningan dan tembaga. Patung ini berupa deformasi bentuk figur bersayap bak sedang berusaha menangkap ekornya yang melengkung hingga di bagian depan yang mengingatkan orang pada bentuk lampu meja.


SUYATNO, Rise and Fight, Tembaga, detil, 2021

Sejumlah seniman menghasilkan karya dengan menggunakan media kayu berupa karya dua dimensi yang ditempelkan di dinding seperti karya Dyah Ayu Risti Puditasari (Pulang, 2022), Fitria (Langkah Tapak Tinggal…., 2021), karya Yulis Dwian Gria Kristi (Roh Kudus, 2021), atau karya Suyatno berupa karya dua dimensi dengan media tembaga (Rise and Fight, 2021).


ALI UMAR, Rumah Susun, Kayu Jati, detil, 2020

Pada pameran ini juga dipamerkan karya instalasi dengan media kayu seperti karya Ali Umar (Rumah Susun, 2020) berupa susunan bentuk rumah yang diletakkan di tas lantai, dan karya Rudi Hendriatno (Ilmu Timba, 2019 - 2022) berupa bentuk timba yang penuh citraan cairan yang sudah mengental hingga melimpah. Bentuk timba itu tergantung di atas kursi kayu. Corak instalasi pula yang digarap Putra Wali Aco, seniman dari Sulawesi Barat (Mapparai Toyan, 2021). Dia memakai media kain transparan dengan menampilkan simbol visual yang menarasikan tradisi penyambutan kelahiran bayi di lingkungan etnis Suku Mandar.


MUHAMMAD ALHAQ, Capricornalter, 2022

Keprigelan tangan (craftsmanship) yang merupakan ciri khas karya seni kriya makin kuat lewat karya Muhammad Alha (Capricornaltel, 2022) dengan media keramik berupa susunan bentuk mahluk dengan citraan kepala dan tubuh yang menyeramkan. Karya ini juga masuk dalam 12 nominasi penghargaan. Atau lihat juga karya Riko Eri (Fortress of Destiny, 2021) dari bahan keramik berglasir dalam warna gelap yang mengusung aura kematian. Karya tiga dimensi ini berupa dua bentuk helm saling tindih berisi bentuk tengkorak di dalamnya dengan citraan burung gagak bermata merah bertengger di atasnya. Tak terbayangkan dua bentuk karya dengan narasi dunia gelap itu menjadi benda cendera mata yang ditawarkan kepada wisatawan di art shop.

Praktek seni kontemporer dengan menggunakan barang temuan (found object) pun muncul pada pameran seni kriya ini. Ajar Ardiyanto misalnya, memadukan karya lukis bertekstur berupa potret wajah dengan benda-benda temuan dari bahan plastik yang mengesankan dunia teknologi. Seperti juga halnya yang dilakukan seniman asal Jawa Timur, Deddy Kukuh (Tak Kenal Maka Tak Sayang, 2020), menyatukan benda temuan berupa perangkat perata semen bangunan (sekop) dengan alas sepatu roda sebagai pesan bagi generasi milenial untuk bersemangat.

Kini kecenderungan dalam seni rupa kontemporer tidak lagi membedakan seni murni dan seni terapan. Seniman seni rupa yang kini disebut perupa memanfaatkan teknik dan media apapun untuk menghasilkan karya. "Harapannya seniman dapat melahirkan karya yang menampilkan ornamen khas daerah asalnya dengan nuansa yang berbeda, menyuguhkan detail karya, serta eksperimen media baru yang memperkaya dimensi kompleksitas kekaryaan," tulis tim artistik pameran dalam teks pengantar pameran.#


*Raihul Fadjri, wartawan senior, pemerhati senirupa.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top