Catatan dari Senayan

Garuda Pancasila

Merawat Pancasila Melawan Khilafahisme

Merawat Pancasila Melawan Khilafahisme

TANGGAL 1 Juni hari ini Hari Lahir Pancasila diperingati. Melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, Pemerintah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila. Tanggal 1 Juni juga ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dalam Keppres tersebut juga disebutkan bahwa pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni.

Alasan pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus hari libur nasional sudah melalui perjalanan panjang dan kajian mendalam oleh elemen bangsa seperti pemerintah, Majelis Permusyawaratan Rakyat dan kalangan perguruan tinggi.

Sejarah lahirnya Pancasila diawali dengan kekalahan Jepang pada Perang Pasifik, perang yang terjadi antara tahun 1941 sampai 1945. Jepang lantas berusaha menarik perhatian masyarakat Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan dan membentuk sebuah lembaga yang mempersiapkan kemerdekaan bernama Dokuritsu Junbi Cosakai. Nama lain dari lembaga ini adalah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pancasila disepakati bangsa Indonesia sebagai ideologi pemersatu bangsa. Di dalamnya terdapat nilai-nilai keberagaman dan persatuan antarkomponen anak bangsa sebagai fondasi berbangsa dan bernegara. Memang penetapan 1 Juni sebagai tanggal lahir Pancasila itu diambil dari momentum Bung Karno menyampaikan pidato menguraikan Pancasila. Tapi sebenarnya Pancasila itu merupakan kesepakatan luhur (mitsaqan ghalidha) para pemimpin bangsa Indonesia melalui proses panjang yang sebelumnya tidak pernah dinarasikan. Kita hormat setinggi-tingginya kepada Bung Karno sebagai penggali dan penarasi.

Di negara yang rakyatnya sangat majemuk Pancasila sebagai pilihan terbaik. Ada proses negosiasi dan kompromi antara tokoh-tokoh bangsa di situ. Bahwa Pancasila itu sebenarnya telah menjadi cara dan pandangan hidup bangsa kita. Jika ada paham lain seperti yang kini marak terjadi, antara lain khilafahisme, wahabisme, dan lainnya yang bertentangan dengan Pancasila dengan sendirinya akan tertolak oleh bangsa kita.

Jika ideologi yang bertentangan dengan Pancasila selama ini tertolak, tidak berarti benih dari ideologi-ideologi itu kita biarkan saja berkembang. Ada bahaya mengancam kalau sampai ideologi itu masuk dan dianut. Karena iti tetap perlu ada upaya-upaya penangkalan yang terukur. Karena mereka yang menyemai ideologi itu akan berjuang gigih dan tak kenal lelah mencari titik lemah masyarakat untuk menggerus Pancasila.

Khilafahisme dan wahabisme adalah gerakan global yang sudah memakan banyak korban di negara-negara Timur Tengah. Saling bunuh dan mengenyahkan sesama anak bangsa terjadi. Di Indonesia sudah ada bukti-bukti keberadaan gerakan itu, gerakan politik yang menggunakan agama. Karena itu gerakan ini mudah mengecoh dan menyusup sebagian masyarakat kta. Terakgir malab semakin berani terang-terangan menyebarkan paham sesat itu. Jika kita tidak waspada dalam merawat Pancasila sebagai ideologi final maka secara perlahan tapi pasti akan dirusak dengan ideologi dari luar itu.

Maka merawat Pancasila adalah keniscayaan. Penolakan terhadap khilafahisme dan wahabisme dalam bentuk apa pun tak boleh kendor. Ada regulasi yang jelas untuk menangkal paham-paham itu. Bahu membahu semua pihak diperlukan. Sosialisasi terhadap masyarakat pun diperlukan agar bangsa ini terproteksi dari gerakan yang ingin menggantikan Pancasila dengan paham lain

Kelahiran Pancasila 1 Juni adalah momentum bagi kita untuk menyadarkan semua pihak agar tak henti merawat dan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan nyata. Setiap ada penyebaran dan provokasi untuk memaksakan paham lain mesti dilawan dan ditindak.

Salam Pancasila!


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top