Seni budaya

THERE IS TIME AND SPACE, Acrylic Ink on Paper, Detil, 2021

Transformasi Desainer Grafis Menuju Seni Rupa

Transformasi Desainer Grafis Menuju Seni Rupa

Oleh: Raihul Fadjri

RUANG pamer Indieart House Yogyakarta terasa penuh, meski hanya ada sembilan judul karya dua dimensi di atas media kanvas dan kertas yang dipajang pada pameran tunggal bertajuk De+Signing Phantasmagoria, karya Radetyo Sindhu Utomo, pada 21 Mei - 4 Juni 2022.

Hal yang sama juga terasa ketika melihat lebih dekat tiap karya yang ukurannya rata-rata di atas 100 sentimeter. Hamparan lanskap yang berisi bentuk-bentuk pepohonan, jalan berliku-liku, bentuk-bentuk figur dan hewan dan bentuk-bentuk fantasi lainnya mengisi setiap jengkal permukaan kanvas dan kertas, seolah tak ada bidang yang tersisa seincipun dengan goresan yang detil.

Pada karya bertajuk There is Time and Space (2021) misalnya, ada sepenggal bentuk kepala—bentuk yang paling besar ukurannya pada karya ini—dengan mulut menganga dan mata membelalak melihat susunan berbagai bentuk struktur bangunan di depannya.


THERE IS TIME AND SPACE, Acrylic Ink on Paper, Detil, 2021

Di bagian atas kepala yang terpotong itu mengular bentuk tembok yang menghilang di balik bentuk lain di sekitarnya. Di sekitarnya ada jejeran bentuk kepala dalam warna hitam berukuran lebih kecil di kelilingi berbagai bentuk flora. Ada pula bentuk figur telanjang seperti sedang berada di dalam bak mandi berbentuk bundar dengan jejeran bentuk pintu di dindingnya dengan susunan anak tangga meliuk-liuk ke bagian bawah.

Penonton seperti dibawa ke alam mimpi yang monokromatik pada semua karyanya. Tapi Itok, panggilan akrab Radetyo Sindhu Utomo, tidak mesti mengeksplorasi adegan-adegan surealistik. Pada karya bertajuk In Serach of Truth (2021), dia menampilkan cuplikan adegan di atas meja makan berupa figur-figur berkepala gundul dengan mata bolong sedang menghadapi citraan bentuk potongan daging, pisau di tangan, dan gelas minuman. Sepenggal adegan realis itu berada di tengah belantara penggalan bentuk sureal lainnya.


I CREATED YOU FOR OUR SELVES, Acrylic Ink on Canvas, 2022

Karya gambar (drawing) pria kelahiran Jakarta 48 tahun lalu ini bak membawa orang ke alam khayal dan nyata yang saling tumpang tindih, tanpa petunjuk awal dan petunjuk akhir. Semuanya adegan itu seperti berlangsung secara sporadis pada momen yang sama. Kurator Sudjud Dartanto menyebut karya Itok ini sebagai fenomena fantasmagoria. "Satu gambaran tentang meleburnya khayal dan nyata, fantasi dan kenyataan, fiksi dan fakta," tulis Sujud dalam teks kuratorial pameran ini.

Tapi menariknya, menurut Itok, karyanya merupakan hasil perencanaan yang terukur dari awal hingga akhir, sebagaimana yang dia lakukan sebagai seorang disainer grafis pada perusahaan periklanan Petakumpet selama 25 tahun. Tiap karyanya diawali dengan berbagai kegundahan dalam kehidupan pribadi dengan munculnya sejumlah pertanyaan yang mengganggu dirinya yang berujung pada satu disain karya gambar.

Dia terbiasa dengan cara kerja dalam disain grafis dunia advertensi. Ada konsep, ada perencanaan strategi, dan berakhir dengan eksekusi di atas media kanvas atau kertas. Sama dengan proses membuat disain iklan, Itok mengaku di dalam benaknya sudah muncul disain karya gambar yang akan dia buat, dan dia bahkan sudah menyiapkan judul tiap karya gambarnya terlebih dahulu.

"Saya sudah tahu dari bentuk awal hingga hasil akhirnya," ujar Itok yang menyelesaikan pendidikan di Jurusan Disain Komunikasi di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.


WE AS YOUR IMAGINATION, Acrylic Ink on Canvas, panel 2, 2022

Setelah ada disain cuma butuh sekali eksekusi dan hasilnya, menurut Itok, harus bisa dipertanggungjawabkan secara visual, harus menarik, meski tidak ada beban tanggungjawab terhadap klien.

"Karena semuanya sudah ada dalam kepala, saat dieksekusi semua gagasan itu mengalir begitu saja. Obyek-obyek yang muncul berupa imajinasi personal datang sendiri yang bersumber dari pengalaman saya," ujar Itok yang sudah mengikuti pameran bersama sebanyak lima kali sejak 2021.

Proses kreatif secara manual ini dia adobsi dari dunia digital selama dia bekerja membuat disain grafis produk periklanan. Satu proses kreatif yang tak biasa dalam kegiatan seni rupa.#

* Raihul Fadjri, Pemerhati Senirupa dan Wartawan Senior


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top