Seni budaya

SRI PRAMONO, Instalasi Batu.

Hujan Batu dalam Ruang Abstrak Sri Pramono

Hujan Batu dalam Ruang Abstrak Sri Pramono

Oleh: Raihul Fadjri

PULUHAN batu andesit seukuran kepala manusia dan kepalan tangan bak melayang dari bagian bawah hingga awang-awang yang dipenuhi citraan bentuk gumpalan awan di ruang pamer Mayin Art, Yogyakarta. Batu-batu dalam bentuk alamiah itu tidak hanya dalam warna alam, tapi juga dipulas dengan berbagai warna: merah, hijau, biru, putih, kuning, coklat. Ada batu yang ditusuk sebilah pisau berwarna putih, ada batu dalam warna putih ditancap alat pengaduk semen dalam warna merah, ada pula batu yang ditusuk dengan gunting.

Instalasi batu ini satu dari 11 karya tiga dimensi dan dua dimensi bercorak abstrak karya Sri Pramono pada pameran bertajuk Survival Energy 1 - 10 Juni 2022. Perlakuan terhadap batu alam itu seolah pernyataan bahwa sekeras-kerasnya alam tetap bisa diperlakukan dengan cara apapun oleh manusia.


Meaning Series #3, Acrylic, Collage Texture on Canvas, 2021

Pria kelahiran Kulonprogo, Yogyakarta, 46 tahun lalu ini mengeksplorasi tema alam dan kehidupan sosial lewat karyanya bercorak abstrak. Latar belakangnya seagai pendaki gunung maupun dalam kelompok Search And Rescue (SAR) memberi banyak inspirasi saat membuat karya lukis dan karya tiga dimensi bercorak abstrak. "Karyanya banyak terinspirasi dari spirit alam, keadaan sosial, dan peristiwa global yang berhubungan dengan eksistensi kemanusiaan maupun alam," tulis Heri Kris, kurator pameran ini dalam teks kuratorialnya.

Pada karya bertajuk Among The Stone World (2022) misalnya, Sri Pramono meletakkan berbagai citraan bentuk batu dalam berbagai ukuran di atas bidang bewarna putih dengan susunan deretan bentuk huruf yang terlihat samar. Di sudut kiri bawah kanvas menyembul citraan bentuk batu dalam ukuran terbesar.


Among The Stone World, Acrylic Collage Texture on Canvas, detil, 2022

Batu pula yang dia pakai untuk menggambarkan ledakan emosinya lewat karya bertajuk Passing Through The Tough Part (2017) berupa bentuk gunungan batu dalam warna coklat dominan ditusuk jarum dengan benang merah. Karya ini terinspirasi dari peristiwa tragis yang membuatnya terpukul dengan kematian sahabatnya saat memanjat tebing.

Bahkan batu pun dalam wujud aslinya tetap muncul pada karya instalasinya—tanpa judul—berupa jalinan kawat berduri yang menghasilkan bentuk bulat panjang mirip bentuk ujung jarum jahit yang berlubang bak keluar dari perut bumi. Struktur kawat berduri itu dihujani bentuk jarum jahit dalam ukuran besar yang menghujam dari bagian atas bak menghantam pecahan batu yang berserakan di bagian bawah.


Grassroots, Acrylic Collage Texture on Canvas, detil, 2021

Sri Pramono juga memanfaatkan materi lain di kanvasnya, seperti pada karya Pieces of Thoughts (2021) dia menempelkan potongan karung goni dalam bentuk geometris yang dia imbuhi bentuk batu bak sedang melayang di atas garis-garis persegi di tengah hamparan goresan palet dan deretan bentuk-bentuk huruf dan angka yang dipulas dalam komposisi warna monokrom coklat.


Tanpa Judul, Instalasi-jpg

Yang juga menarik, citraan bentuk huruf dan angka muncul pada karya lukisnya dengan presisi bentuk seperti hasil cetakan. Deretan bentuk huruf itu tidak tersusun dalam kalimat tertentu. Begitu pula halnya dengan deretan bentuk angka. Sebagaimana citraan bentuk batu pada karyanya, kehadiran bentuk huruf dan angka nyaris muncul pada setiap karyanya. Bahkan citraan bentuk huruf dan angka tampak dominan pada karya bertajuk Meaning Series #3 (2021) bersama dengan bentuk batu dalam berbagai warna.



Nature's Secret, Acrylic, Collage Texture on Canvas, 2021

Lewat karya bercorak abstrak Sri Pramono seperti berusaha mengumpulkan sesuatu yang terukur dengan yang tidak terukur.#

Raihul Fadjri, wartawan senior, pemerhati senirupa.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top