Catatan dari Senayan

Khilafatul Muslimin. (iStockphoto)

Khilafatul Muslimin: Kita Kecolongan Lagi

Khilafatul Muslimin: Kita Kecolongan Lagi

TIBA-TIBA kita dikejutkan degan kemunculan Khilafatul Muslimun (KM). Pekan lalu hampir serentak di beberapa daerah kader-kader organisasi itu berpawai motor membawa bendera KM dan membagikan selebaran tentang ajaran mereka yang substansinya ingin menegakkan khilafah Islamiyah di negeri ini.

Kita tertegun. Aparat juga kaget. Gerakan silent mereka tidak terendus. Tiba-tiba diketahui anggota mereka sudah puluhan ribu dan tersebar luas di berbagai daerah. Pimpinan di daerah-daerah sudah tertata. Mereka tetap mempunyai pimpinan tertinggi yang berpusat di Bandar Lampung.

Pimpinan (Amir) tertinggi kelompok KM Abdul Qadir Hasan Baraja ditangkap Polda Metro Jaya di Lampung, Selasa, 7 Juni 2022. Dia ditangkap oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dan dibawa ke Jakarta. Penangkapan tersebut dilakukan setelah kepolisian menyelidiki konvoi sekelompok pengendara motor yang menamakan diri sebagai Khilafatul Muslimun di kawasan Cawang, Jakarta Timur pada 29 Mei lalu. Mereka mempromosikan khilafah kepada masyarakat dengan menyebar brosur.

Mengapa KM yang membesar dan menyebar tak terdeteksi aparat. Padahal ajarannya jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila. Aparat kecolongan? Mereka pasti menjawab tidak. Tapi faktanya di banyak daerah KM berkembang, papan nama mereka terpampang jelas. Jika membaca "khilafatul mislimun" mestinya aparat segera mencurigai bahwa mereka berpaham khilafah. Bahwa paham itu bertentangan dengan ideologi bangsa dan negara, Pancasila.

Ormas-ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lainnya selama ini pun diam. Seolah ormas keagamaan itu memberi ruang luas berkembangnya KM. Termasuk Majelis Ulama Indonesia yang ada di setiap kabupaten di seluruh Indonesia. Mengapa membiarkannya? Salqh satunya karena rapinya KM bergerak.

KM agaknya belajar dari HTI dan FPI yang dalam pergerakannya selalu atraktif dan demonstratif. KM agaknya menyadari gerakan model Hizbul Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI) selalu mudah tercium dan mendapatkan perlawanan. Oleh karena itu KM memilih pergerakan silent namun berjangka panjang. Kini kita mempunyai bacaan baru. Bahwa gerakan khilafah mesti diwaspadai dengan banyaknya varian modus wujud dan pergerakannya.

Bisa jadi wadah organisasi organisasi-organisasi pro khilafah itu berbeda tapi tak tertutup kemungkinan para pendukungnya porang-orang yang sama. Bukan karena KM, HTI, FPI, atau ormas semacam lainnya itu sama-sama baik di mata mereka, tapi karena pada dasarnya mereka yang mengikuti kelompok-kelompok seperti itu pemahaman agamanya dangkal, perspektifnya sempit. Mereka tidak menyadari kemajemukan.

Karena itu kasus KM adalah pelajaran berharga untuk kesekian kalinya bagi kita. Teks-teks lama mesti selalu kita perbaharui agar kita tidak sering kecolongan dengan gerakan yang ingin menghapuskan Pancasila dari bumi Indonesia dengan berganti-ganti baju sampai model-model "reinkarnasi". Kewaspadaan mesti terus kita asah.


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top