Opini

Amir Uskara

Kapan Pandemi Berakhir? Kapan Virus Covid-19 Lenyap?

Kapan Pandemi Berakhir? Kapan Virus Covid-19 Lenyap?

Oleh: Dr. H.M. Amir Uskara

Lelah. Bosan. Itulah perasaan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir tiga tahun.

Di dunia, kasus orang terinfeksi Covid-19 ditemukan pertama kali di kota Wuhan, Cina 31 Desember 2019. Sedangkan di Indonesia, kasus pertama di temukan di kota Depok, Jawa Barat, 2 Maret 2020. Korbannya, Maria Darmaningsih (64) dan putrinya, Sita Tyasutami (31). Ibu dan anak ini tertular dari warga negara Jepang yang sedang plesiran di Jakarta.

Sejak itu, kasus positif Covid-19 dan kematian akibat virus, terus meningkat. Puncaknya terjadi pada bulan Juli dan Agustus 2021. Saat itu, jutaan orang Indonesia tersengat Covid-19. Ratusan ribu orang tewas terinfeksi virus ganas itu. Hingga saat ini, Juni 2022, meski "grafaik kasusnya" landai, korban-korban Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah.

Pada pertengahan Juni 2022, misalnya, total kasus positif di Indonesia mencapai 6.064.422 -- dengan jumlah kematian 156.673 jiwa, dan kesembuhan 5.901.083 orang. Sedangkan kasus aktif mencapai 6.668 orang. Yang dimaksud kasus aktif adalah jumlah pasien Covid-19 yang belum dinyatakan negatif (sembuh) sampai minggu ketiga perawatan (setelah dinyatakan positif) baik di rumah sakit maupun rawat mandiri di rumah.

Berdasarkan catatan WHO dan Worldometers, di level global, sampai paruh Juni, kasus positif mencapai 542.224.996 - dengan jumlah kematian 6.335.401 jiwa. Sedangkan yang sembuh 517.322.954 dan kasus aktif 18.566.641 orang.

Rinciannya, sampai 16 Juni 2022, ada 20 negara dengan kasus positif besar di dunia.

Ke-1 (pertama), Amerika Serikat. Total kasus positif: 87.657.696 orang. Meninggal 1.036.987; sembuh: 83.393.807. Dan kasus aktif 3.226.902.

Ke-2 India. Total kasus: 43.245.517 orang. Meninggal: 24.792. Sembuh: 42.667.088. Dan kasus aktif: 53.637

Ke-3 Brasil. Total kasus: 31.543.000 orang. Meninggal: 668.404. Sembuh: 30.259.452. Dan kasus aktif: 615.144.

Ke-4 Perancis. Total kasus: 29.975.772. Meninggal: 148.947

Sembuh: 29.285.707. Dan asus aktif: 541.118

Ke-5 Jerman. Total kasus: 27.006.837 orang. Meninggal: 140.292. Sembuh: 26.049.400. Kasus aktif: 817.145

Ke-6 Inggris. Total kasus: 22.447.911 orang. Meninggal: 179.411 . Sembuh: 22.059.692. Dan

kasus aktif: 208.808.

Ke-7 Rusia. Total kasus: 18.385.098 orang. Meninggal: 380.203. Sembuh: 17.806.097

dan kasus aktif: 198.798

Ke-8 Korea Selatan. Total kasus: 18.248.479 orang. Meninggal: 24.399 . Sembuh: 8.043.279 . Dan kasus aktif: 180.801

Ke-9 Italia. Total kasus: 17.736.696 orang. Meninggal: 167.553. Sembuh: 16.965.258. Dan kasus aktif: 603.885

Ke-10 Turki. Total kasus: 15.078.186 orang. Meninggal: 98.976. Sembuh: 14.979.099. Dan kasus aktif: 111.000

Ke-11 Spanyol. Total kasus: 12.515.127 orang. Meninggal: 107.239. Sembuh: 12.019.883. Dan kasus aktif: 388.005.

Ke-12 Vietnam. Total kasus positif: 10.734.151 orang. Meninggal: 43.083. Sembuh: 9.574.270 . Dan kasus aktif: 1.116.798.

Ke-13 Argentina. Total kasus: 9.313.453 orang. Meninggal: 128.994. Sembuh 8.895.999. Dan kasus aktif: 288.460.

Ke-14 Jepang. Total kasus: 9.075.966 orang. Meninggal: 30.935. Sembuh: 8.896.542. Dan Kasus aktif: 148.489

Ke-15 Belanda. Total kasus: 8.114.233 orang. Meninggal: 22.337. Sembuh: 8.047.933.Dan kasus aktif: 43.96.3

Ke-16 Australia. Total kasus: 7.691.551 orang. Meninggal: 9.146. Sembuh: 7.446.156. Dan kasus aktif: 236.249.

Ke-17 Iran. Total kasus: 7.234.221orang. Meninggal: 141.357.Sembuh: 7.059.738. Dan kasus aktif: 33.126.

Ke-18 Kolombia. Total kasus: 6.117.847 orang. Meninggal: 139.894. Sembuh 5.943.925. Dan kasus aktif: 34.028.

Ke-19 Indonesia. Total kasus: 6.063.251 orang. Meninggal: 156.670. Sembuh: 5.900.574. Kasus aktif: 6.007

Ke-20 Polandia. Total kasus: 6.010.643 orang. Meninggal: 116.387. Sembuh: 5.335.572. Dan kasus aktif: 558.684.

Catatan di atas sampai 16 Juni 2022. Di sejumlah negara, terutama yang tingkat vaksinasinya rendah, kasus positif masih bertambah signifikan. Sampai hari ini, WHO masih menetapkan pandemi Covid-19 belum berakhir.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebryesus di hadapan perwakilan Kementerian Kesehatan dari 194 negara dalam World Health Assembly di Jenewa, Swiss, Minggu (22/5/2022), menyatakan -- meski pandemi belum berakhir, beberapa negara telah melonggarkan protokol kesehatan. Ini jelas riskan. Soalnya di 70 negara lain masih terjadi lonjakan kasus. Tedros memperingatkan bahwa lonjakan kasus itu sama artinya dengan meningkatnya jumlah kematian.

Yang perlu diketahui, kata Tedros, karakter virus corona sampai hari ini belum diketahui sepenuhnya oleh para ahli. Masih misterius. Apalagi varian-varian baru terus bermunculan akibat mutasi. Mutasi adalah cara virus untuk mempetahankan survivalitas di alam.

"Virus corona kerap mengejutkan kami, dan kami masih belum bisa memprediksi alur atau intensitasnya," ucap Tedros. Itulah sebabnya kita harus mengikuti rekomendasi WHO. Karena, wabah Covid-19 dengan cepat menyebar ke berbagai negara. Tedros memberi contoh kasus penyebaran virus di Wuhan, Cina, sejak ditemukan akhir Desember 2019. Sejak wabah mulai bergerak dari Wuhan, pemerintah Cina me-lockdown kota itu. Tapi pa yang terjadi? Ternyata sebulan kemudian virus itu telah berada di luar Cina.

Melihat situasi ini, pada 30 Januari 2020, WHO menurunkan kebijakan "Darurat Kesehatan Masyarakat International" yang mengikat 196 negara. Dengan kebijakan ini, setiap negara harus melaporkan pembaruan dari situasi pandemi di negaranya, tindakan yang diambil, pengawasan varian, dan cakupan vaksinasi setiap negara. Mekanisme ini sangat penting untuk negara-negara berpenghasilan rendah.

Saat ini, masih sekitar 1 Milyar manusia di negara-negara berpenghasilan rendah belum divaksin. Hanya di 57 negara kaya, 70 persen penduduknya telah divaksin dengan baik. Jumlah 70 persen tersebut adalah sarat mutlak untuk menciptakan herd immunity (kekebalan kelompok).

Saat ini, pandemi masih belum selesai. Termasuk di Indonesia. Meski periode kritis puncak Omicron telah terlampaui, Indonesia belum bebas dari pandemi. Betul, pandemi sudah terkendali di Indonesia, sehingga ada pelonggaran protokol kesehatan (Prokes) di beberapa area publik. Tapi harap diingat, pelonggaran itu tetap "menyimpan risiko" - yaitu risiko penularan virus yang lebih besar. Dengan demikian, untuk berjaga-jaga dan meminimalisir risiko, sebaiknya kita tetap memakai masker, rajin mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan - sesuai standar operasi Prokes.

Lalu, kapan Indonesia memasuki fase endemi? Tergantung sikap masyarakat. Bila masyarakat tetap mematuhi Prokes di mana pun, kemungkinan turunnya fase pandemi menuju endemi lebih cepat. Mengapa?

Untuk memasuki fase endemi, ada sejumlah indikator klinis dan biologis yang harus terpenuhi. Di antaranya, kasus positif kurang dari 20 per-100.000 penduduk perminggu. Lalu kecepatan penularan kurang dari 1 minimal dalam 6 bulan. Dan capaian vaksinasi dosis lengkap 70 persen. Indonesia masih belum sampai ke sana.

Saat ini masih terdeteksi penularan Covid-19 varian Omicron di Indonesia. Setelah liburan dan mudik Idul Fitri 2022, ada penambahan kasus positif secara signifikan. Pada 17 Juni 2022, misalnya terdapat penambahan kasus positif 1.220. Sementara kasus aktifnya bertambah 658. Ini jumlah yang meski skalanya kecil, tapi "menyimpan" potensi ledakan penularan bila tidak diantisipasi dengan baik. Kemunculan subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 yang tingkat penularannya tinggi, menjadiikan kita harus tetap waspada.

Itulah sebabnya juru bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril menyatakan, kita tidak usah terlalu buru-buru menginginkan Indonesia masuk fase endemi. Kondisi seperti itu akan datang sendirinya, jika masyarakat tetap mematuhi Prokes.

Yang terpenting adalah bagaimana pemerintah menyadarkan masyarakat bahwa virus Covid-19 akan terus ada dan selalu mengincar "inang" untuk melanjutkan kehidupannyya. Inangnya manusia dan hewan. Keduanya adalah kita dan hewan terdekat dengan kita.

Dalam kondisi seperti itulah, kita - pinjam istilah Presiden Jokowi - harus siap hidup di era baru. Yaitu era di mana kita, manusia, selalu waspada terhadap serbuan virus corona. Era baru itu harus disikapi dengan gaya hidup baru. Yaitu bergaya hidup dengan selalu mematuhi Prokes. Kapan pun. Di mana pun.

*Dr. H.M. Amir Uskara, Anggota DPR RI Fraksi PPP


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top