Opini

Amidhan Shaberah

Bila Politisi India Menghina Islam

Bila Politisi India Menghina Islam

Oleh Amidhan Shaberah

DEMO berjilid-jilid menggrudug kantor Kedubes India masih terus terjadi di mana-mana. Tidak hanya di Jakarta. Tapi juga di Daka (Bangladesh), Rawalpindi (Pakistan), Teheran (Iran), Kuwait, Abu Dhabi, dan negara-negara Islam lain. Bahkan di India sendiri. Karena India adalah negeri dengan penduduk beragama Islam terbesar kedua setelah Indonesia. Hampir 200 juta penduduk India adalah muslim.

Demo besar ini melanjutkan demo-demo sebelumnya akibat penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad oleh politisi India, Nupur Sharma. Nupur Sharma dikenal sebagai juru bicara partai berkuasa, BJP (Barathiya Janata Party) yang dipimpin PM Narendra Modi.

Para demonstran menuntut pemerintah India meminta maaf atas penghinaan tersebut kepada umat Islam seluruh dinia secara resmi. Tapi New Delhi tidak mau memenuhi tuntutan itu. Alasannya, penghinaan tersebut tidak dilakukan pemerintah India. Tapi oleh oknum politisi. Tidak ada kaitannya dengan negara India.

Memang demo massal anti-India di negara-negara Islam tadi meledak setelah politisi BJP, Nupur Sharma dalam sebuah debat (kampanye) di TV India, 26 Mei 2022, menyatakan: "Nabi Muhammad menikahi seorang gadis berusia enam tahun dan kemudian berhubungan seks dengannya pada usia sembilan tahun." Pernyataan Sharma tersebut jelas menyesatkan. Karena Nabi "menggauli" Siti Aisyah setelah aqil baligh. Yaitu ketika seorang perempuan sudah menunjukkan "kedewasaannya" secara biologis.

Nupur Sharma juga menyatakan bahwa menurut Al-Quran bumi itu datar (flat earth). Al-Quran inilah yang menjadi pedoman kaum Bumi Datar, kata Sharma sambil mengolok-olok umat Islam. Sharma tidak tahu, bahwa Al-Quran telah menyatakan bumi itu bulat jauh sebelum Galileo Galilei yang lahir 7 abad setelah Nabi Muhammad wafat, membuktikannya secara ilmiah.

Kenapa Sharma melakukan penghinaan terhadap simbol-simbol sakral Islam tersebut? Menurut pengakuannya, karena umat Islam sering menghina dewa-dewa dalam agama Hindu. Lagi-lagi Sharma ngeles - mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatannya yang menyebar kebencian terhadap Islam.

Politisi BJP itu tidak tahu bahwa dalam Al-Quran ada larangan keras umat Islam menghina agama lain. Nabi Muhammad pun melarang umatnya menghina agama apa pun. Menurut Rasul Muhammad, jika seorang muslim menghina agama lain, atau menghina ajaran umat beragama selain Islam, maka akan timbul saling hujat. Orang dari agama lain pun akan menghina Islam. Kondisi ini akan merusak hubungan baik antarumat manusia yang jadi ajaran Islam. Sayyidina Ali, sahabat terdekat Rasul, menyatakan - orang beragama lain adalah manusia. Saudara kita. Umat Islam harus mengembangkan ukhuwah insaniyah. Persaudaraan antarmanusia.

Ujaran kebencian yang dilontarkan Sharma, tidak hanya memicu demo umat Islam India dan negara Islam lain. Tapi juga mengguncang pemerintahan Narendra Modi sendiri. Politisi India yang juga Ketua Menteri di negara bagian Maharashtra, Uddhav Thackeray mengatakan kasus penghinaan Nabi Muhammad berujung panjang. Dia mengatakan, lantaran kasus itu, Perdana Menteri India Narendra Modi dihina dan negara harus menghadapi rasa malu. Negara dipaksa bertekuk lutut dan harus meminta maaf kepada negara-negara Arab karena pernyataan juru bicara BJP tersebut.

"Apa yang dikatakan juru bicara BJP itu tidak masuk akal. Dia menghina Nabi. Apa perlunya? Mengapa?," kata Thackeray saat berpidato di rapat umum Swabhiman Shiv Sena di Aurangabad dilansir dari The Indian Express, Kamis (9/6/2022).

Thackeray menuduh pernyataan juru bicara BJP itu mengada-ada. Tidak terkendali dan dan mengatakan apa pun yang mereka inginkan hanya karena ingin mendapat simpati kaum Hindu eksrim. Jelas, itu kesalahan fatal, ujarnya.

"Karena juru bicara BJP, negara dihina. Negara-negara Timur Tengah dan Dunia Arab telah memaksa negara untuk meminta maaf," ujarnya. Negara-negara Arab tujuan ekspor India juga mengancam akan memboikot produk makanan dan teknologi dari negeri berpenduduk 1,4 milyar itu. Padahal, pendirian BJP tidak bisa mewakili pendirian negara. Ujaran kebencian itu dilakukan oleh BJP. Bukan negara. Jelas Thackeray.

Sekitar 400 orang telah ditangkap sejak Jumat lalu, karena dituduh terlibat kerusuhan. Demonstrasi meletup mulai dari Delhi, Uttar Pradesh, Jharkhand, Karnataka, Benggala Barat, Telangana, Madhya Pradesh, Gujarat, Bihar, dan Hyderabad. Dua orang tewas dalam demonstrasi itu.

Protes diwarnai dengan kekerasan terjadi di hampir semua negara bagian di India. Para demonstran melemparkan batu dan membakar beberapa kendaraan, termasuk sepeda motor serta mobil polisi. Untuk meredakan kerusuhan, polisi menggunakan pentungan dan gas air mata di sebagian besar negara bagian. Dua pengunjuk rasa tewas setelah ditembak polisi di Ranchi, pada Jumat. Kedua korban adalah Mudasir, remaja pria berusia 14 tahun dan Sahil Ansari, 19 tahun. Mereka ditembak setelah salat Jumat.

Usai pernyataan Nupur Sharma yang menghina Nabi Muhammad, BJP memecatnya sebagai juru bicara partai. BJP juga memecat pemimpin lain, Naveen Kumar Jindal, karena komentarnya yang mendukung Sharma.

Selama bertahun-tahun, Muslim India sering menjadi sasaran dalam segala hal mulai dari gaya berpakaian, makanan hingga pernikahan antaragama. Kelompok hak asasi manusia seperti Human Rights Watch dan Amnesty International telah memperingatkan bahwa ujaran kebencian terhadap Islam di India bisa meningkatkan eskalasi kekerasan.

Human Rights Watch menuduh partai BJP yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi memberi peluang ujaran kebencian terhadap Muslim. India harusnya berpikir: 14 persen atau 196 juta dari 1,4 miliar penduduk India adalah Muslim. Ini artinya, India adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar kedua di dunia setelah Indonesia.

Menlu Amerika Serikat Antony Blinken menyatakan India adalah negara demokrasi terbesar di dunia dan rumah bagi keragaman agama dan budaya yang besar. Seharusnya India berpikir jauh ke sana. Secara historis India juga pernah dikuasai Islam. Sejarah mencatat, ketika Islam menguasai India, toleransi dan penghargaan terhadap agama mayoritas, Hindu, sangat besar.

Sebagai contoh Sultan Kerajaan Mughal yang terkenal di India, Jalaludin Akbar (1556-1605) menikah dengan Jodha Bai (Hira Kunwari), anak sulung perempuan Raja Bharmal dari Ambeer, India. Yang menarik, Sultan Mughal tidak pernah meminta istrinya yang diberi gelar Maryam Az-Zamani menganut agama Islam. Maryam sampai akhir hayatnya tetap beragama Hindu. Itulah bentuk toleransi kerajaan Islam ketika berkuasa di India.

Ketika India modern dikuasai Partai Kongres yang dipimpin oleh trah Gandhi, toleransi antarumat beragama di India masih berjalan baik. Tapi setelah kekuasaan India dipegang oleh partai beraliran keras Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP), toleransi dan demokrasi di India berjalan mundur. Umat Islam yang jumlahnya 196 juta di India pun, merasa hak-hak sipilnya terancam.

Apa pelajaran yang didapat dari kasus India tersebut? Negara tidak boleh mempolitisir agama. Sekali negara menjadikan agama sebagai alat politik, niscaya toleransi dan demokrasi akan runtuh. Seperti Afghanistan dengan Thalibannya.

Maka, jadikan negara sebagai rumah keberagaman agama dan budaya. Seperti Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya. (*)

Dr. KH Amidhan Shaberah adalah Ketua MUI (1995-2015)


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top