Opini

Ramayanti Alfian Rusid

Kali ini Nasdem Salah Langkah?

Kali ini Nasdem Salah Langkah?

Oleh: Ramayanti Alfian Rusid

KETIKA ketua umum partai Nasdem mengumumkan tiga nama bakal calon presiden 2024, banyak yang mengapresiasi. Bahwa itu sebagai langkah tepat dalam mendahului parpol-parpol lain.

Ada yang senang, tentu ada pula yang tidak senang. Persoalannya mengapa harus tiga (3) kandidat. Tidak enam atau 10 orang. Yang namanya bakal calon kan boleh-boleh saja memasang sebanyak mungkin, dengan mempertimbangkan perasaan pihak lain, terutama pihak yang lebih besar.

Terkait perasaan, saya mencoba 'melihat' perasaan ibu Megawati Soekarnoputri dari sisi psikologi sesuai disiplin ilmu yang saya miliki. Beberapa hari setelah Ketum Nasdem Surya Paloh mengumumkan kandidat bakal calon presiden republik Indonesia untuk pemilu 2024, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri langsung bereaksi dengan sangat keras: kader PDIP yang menyebut-nyebut koalisi segera mengundurkan diri, atau "Saya pecat."

Koalisi? Dalam Wikipedia koalisi artinya adalah sebuah atau sekelompok persekutuan, gabungan, atau aliansi beberapa unsur, yang dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas manfaat.

Megawati menegaskan, ia atau partainya yaitu PDIP tidak mau berkoalisi dengan siapapun. Dia lebih suka melakukan kerjasama. Tentunya konteks kerjasama politik dalam hal ini adalah kerjasama mengusung calon presiden untuk pemilu 2024.

Lalu dimana letak 'kesalahan' Surya Paloh dalam menyampaikan usul dari akar rumput Nasdem? Tiga nama yang disebutkan sudah mewakili 'mayoritas' kuat. Anies Baswedan mewakili suara dari kalangan Islam, Muhammad Andika Perkasa dari militer, dan Ganjar Pranowo dari nasionalis.

Terkait Ganjar Pranowo, bukan sekadar nasionalis tetapi lebih kepada upaya sebagai signal untuk ajakan berkoalisi dengan PDIP. Koalisi adalah kosa kata yang selama ini digunakan oleh parpol untuk sebuah kerjasama politik, baik untuk Pilkada maupun pilpres.

Sampai di sini aman. Semua pihak sudah dirangkul oleh si Abang Surya. Tiba-tiba seperti petir menyambar di siang bolong dari Lenteng Agung, ibu 'Banteng' mengamuk, mengancam memecat siapa pun kader yang menggunakan kata koalisi.

Apa gerangan yang terjadi? Naluri psikologi saya menangkap, ada ketersinggungan Megawati atas nama-nama bakal capres yang diumumkan oleh Bang Surya. Sepertinya 'penasehat' politik si Abang hanya melihat dari sisi politik, tanpa memandang efek psikologis dari pengumuman nama-nama itu. Karena tidak memasukan nama Puan Maharani.

Bukankan ibu Mega beberapa waktu lalu pernah memberi signal, bahwa satu-satunya orang yang paling ditakuti adalah anaknya yang bernama Puan Maharani, atau dia menyebutnya sebagai Mbak Puan. Walaupun konteks ketakutannya terkait makanan. Soal makanan saja takut apalagi urusan-urusan lainnya.

Dalam ilmu psikologi, saya mengamati Megawati merupakan tipe: ibu adalah sahabat anaknya.

Terapis Keluarga dan Psikolog Klinis di Los Angeles, Dr.Stephan Poulter menjelaskan bahwa terdapat lima tipe ibu yang bisa diwariskan kepada anaknya, salah satunya adalah ibu adalah sahabat anak.

Ibu tipe sahabat, senang memperlakukan anak-anaknya secara setara untuk menghindari tanggung jawab dalam menetapkan batasan. Ibu dengan tipe ini percaya hidupnya akan berakhir jika dia melakukan pola asuh keibuan, sehingga ia menghindari peran tersebut. Sebaliknya, baik anak maupun orang tua mengambil peran sebagai pasangan dan kepercayaan emosional sehingga meninggalkan anak menjadi "motherless". Pada situasi tersebut, kebutuhan emosional Ibu begitu menguras tenaga, sehingga ia harus bergantung pada anak untuk memenuhinya.

Menurut saya, itulah gejolak emosional yang dialami oleh Megawati sebagai ibu. Dan kebetulan dia memimpin parpol terbesar, yang rangkulannya diharapkan oleh banyak parpol untuk bisa ikut menjadi 'pemenang' dalam pemilu.

*Ramayanti Alfian Rusid, pemerhati sosial politik dan psikologi


0 Comments

BERITA TERKAIT

To Top